Mesin Pencari

Memuat...

20100214

Oksidasi dengan Kalium Dikhromat

Kalium Dikhromat (K2Cr2O7) bukanlah zat pengoksidasi yang begitu kuat seperti Kalium Permanganat (KMnO4), tetapi ia mempunyai beberapa keuntungan yaitu dapat diperoleh murni, stabil sampai titik leburnya dan karenanya merupakan suatu standar primer yang sangat baik
Larutan standar dengan kekuatan yang diketahui tepat dapat disiapkan dengan menimbang garam keringnya yang murni dan kelarutannya dalam volum air yang sesuai. Lebih jauh larutannya dalam air adalah stabil tanpa batas waktu jika dilindungi dengan memadai terhadap penguapan. Kalium Dikhromat (K2Cr2O7) digunakan hanya dalam larutan asam, dan direduksi dengan cepat pada temperatur biasa menjadi garam Kromium (III) yang hijau. Ia tak direduksi oleh Asam Klorida (HCl) dingin, asalkan konsentrasi asam itu tak melampaui 1 atau 2 Molar.
Larutan-larutan Dikhromat juga kurang mudah direduksi oleh beban organik dibanding larutan-larutan Permanganat dan juga stabil terhadap cahaya. Karena itu, Kalium Dikhromat berharga khusus dalam penetapan besi dalam bijih besi: Bijih besi itu biasanya dilarutkan dalam Asam Klorida, Besi (III) direduksi menjadi Besi (II), dan dititrasi dengan larutan Dikhromat standar.
Cr2072- + 6 Fe2+ + 14 H+ ↔ 2 Cr3+ + 6 Fe3+ + 7 H2O
Dalam larutan asam, reduksi Kalium Dikromat dapat dinyatakan sebagai :
Cr2072- + 14 H+ + 6 e ↔ 2 Cr3+ + 7 H2O
Jadi ekuivalennya adalah seperenam mol, yaitu 294,18/6 atau 49,030 g. Maka suatu larutan 0,1 N mengandung 4,9030 g dm-3.
Warna hijau yang ditumbulkan oleh ion-ion Cr3+ yang terbentuk oleh reduksi Kalium Dikhromat membuat tak mungkin titik akhir suatu titrasi dengan Dikhromat hanya dengan meneliti larutan secara visual sehingga harus digunakan suatu indikator redoks yang memberi perubahan warna yang kuat dan tak bisa disalahtafsirkan. Indikator yang sesuai untuk digunakan dengan titrasi Dikhromat meliputi asam 2 N-Fenilan Tranilat (larutan 0,1 % dalam NaOH 0,005 M) dan Natrium Difenilaminasufonat atau senyawa Na/Badifenilamina Sulfonat (larutan 0,2 % dalam air). Indikator ini hanya digunakan dalam suasana Asam Sulfat-Asam Fosfat.


Selengkapnya...

Metode Titrasi Dikhromatometri

Titrimetri atau volumetri merupakan suatu cara analisis jumlah yang berdasarkan pengukuran volume larutan yang diketahui kepekatan (konsentrasi) secara teliti yang direaksikan dengan larutan contoh yang akan ditetapkan kadarnya
Metode Titrasi Dikhromatometri
Titrimetri atau volumetri merupakan suatu cara analisis jumlah yang berdasarkan pengukuran volume larutan yang diketahui kepekatan (konsentrasi) secara teliti yang direaksikan dengan larutan contoh yang akan ditetapkan kadarnya. Dalam hal ini terdapat dua jenis bahan baku, yakni:
1. Bahan baku primer, digunakan untuk menetapkan standarisasi bahan baku sekunder. Ditempatkan sebagai titrat.
2. Bahan baku sekunder, yang ditetapkan normalitasnya dengan bahan baku primer. Ditempatkan sebagai titran.
Terdapat beberapa jenis metode titrasi, diantaranya titrasi metatetik dan titrasi redoks. Dikhromatometri termasuk ke dalam titrasi redoks, karena dalam reaksinya terjadi perpindahan elektron atau perubahan bilangan oksidasi. Seperti yang diketahui bahwa kemungkinan terjadinya reaksi redoks dapat dilihat dari 2 hal berikut:
1. Terjadi perubahan bilok (bilangan oksidasi).
2. Bila ada zat reduktor maupun oksidator (dalam hal ini, kalium dikhromat selain berfungsi sebagai bahan baku juga sebagai oksidator).
Kalium dikhromat dalam keadaan asam mengalami reduksi menjadi Cr3+.
Reaksi:
Cr2O72- + 14 H+ + 6 e ↔ 2 Cr3+ + 7 H2O E0=1,33 V
Karena daya oksidasinya lebih sedikit dibanding dengan KMnO4 dan Ce (IV). Maka hal ini menyebabkan reaksi sangat lambat. Akan tetapi, dari sifat K2Cr2O7 larutannya sangat stabil, tidak bereaksi dengan (inert terhadap) Cl-, dengan kemurnian tinggi, mudah diperoleh dan murah.
Penggunaan
Terutama untuk penentuan Fe2+, ion klorida dalam jumlah besar tidak mempengaruhi titar ini. Suatu cara tidak langsung untuk menentukan, oksidasi yang diberi larutan Fe2+ berlebihan kemudian kelebihan dititar dengan Standar Dikhromat. Maka cara ini dipakai untuk penentuan NO3-, ClO3-, H2O2, MnO4- dan Cr2O72-.
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/dikhromatometri/metode-titrasi-dikhromatometri/
Selengkapnya...

20100213

UNSUR-UNSUR TRANSISI PERIODE PERTAMA

UNSUR-UNSUR TRANSISI PERIODE PERTAMA
(Ti, V, Cr, Mn, Fe, Co, Ni dan Cu)

UNSUR-UNSUR TRANSISI PERIODE PERTAMA

(Ti, V, Cr, Mn, Fe, Co, Ni dan Cu)
Unsur-unsur transisi adalah
-Terletak antara unsur golongan alkali tanah dan golongan boron.
-Merupakan unsur logam
-Merupakan unsur-unsur blok d dalam sistem periodik

Sifat-sifat yang khas dari unsur transisi
-Mempunyai berbagai bilangan oksidasi
-Kebanyakan senyawaannya bersifat paramagnetik
-Kebanyakan senyawaannya berwarna
-Unsur transisi dapat membentuk senyawa kompleks

Beberapa sifat logam transisi
BEBERAPA SENYAWAAN YANG DAPAT DIBENTUK OLEH UNSUR TRANSISI
1. Tingkat Oksidasi <2
- Dengan ligan phi Aseptor
- Ligan-ligan Organik
- Ligan Hidrogen
2. Tingkat Oksidasi 2
- Biasanya bersifat ionik
- Oksidanya (MO), bersifat basa
- Memiliki struktur NaCl
- Mampu membentuk kompleks Aquo, dengan jalan
mereaksikan, logam, oksida, karbonat dalam
larutan asam dan melalui reduksi katalitik.
3. Tingkat Oksidasi 3
- Beberapa senyawaan bersifat stabil terhadap air, kecuali kompleks dari logam Cu.
- Flourida (MF3) dan oksidanya (M2O3) bersifat ionik.
- Senyawaan klorida, bromida, iodida dan sulfida bersifat kovalen.
- Unsur-unsur Ti – Co membentuk ion-ion oktahedral [M(H2O)]3+
- Ion Co3+ dan Mn3+ mudah direduksi oleh air.
- Ion Ti3+ dan V3+ teroksidasi oleh udara.
4. Tingkat Oksidasi 4
- Beberapa contoh senyawaannya antara lain : TiO2, TiCl4, VCl4, VO2+(Vanadil) dapat berperilaku seperti M2+.
- Logam-logam dengan tingkat oksidasi 4 dapat membentuk senyawaan kompleks yang bersifat kation, netral dan anion tergantung ligannya.
- Diluar unsur Ti dan V, umumnya dikenal sebagai komplek fluoro, dan anion okso.
- Beberapa kompleks tetrahedral dapat dibentuk dengan ligan : OR, - NR2, - CR3, seperti : Cr(OCMe3)4
5. Tingkat Oksidasi lebih dari samadengan 5, dikenal untuk unsur-unsur V, Cr, Mn, dan Fe dalam
kompleks flouro, amin okso, misal : CrF5, KmnO4, dan K2FeO4 dan s
semuanya merupakan zat pengoksidasi yang kuat.


TITANIUM (Ti)
KELIMPAHAN :
1. Ilmenite
2. Rutil

BEBERAPA PROSES UNTUK MEMPEROLEH LOGAM TITANIUM :
1. Proses Kroll
2. Proses van Arkel de Boer

BEBERAPA SIFAT DARI LOGAM TITANIUM :
1. Logamnya berstruktur heksagonal memiliki kemiripan sifat dengan logam
besi dan nikel.
2. Keras, tahan panas (mp 16800C, bp 32600C)
3. Penghantar panas dan listrik yang baik
4. Tahan terhadap korosi, sehingga banyak digunakan untuk mesin turbin,
industri kimia, pesawat terbang, dan peralatan laut.
5. Meskipun merupakan unsur yang tidak reaktip dapat bereaksi dengan
unsur-unsur non logam seperti : hidrogen (H2), Halogen, oksigen, nitrogen,
karbon, boron, silikon dan sulfur pada temperatur tertentu.
SENYAWAAN TITANIUM (IV)
a. Halida,
- TiCl4 (larutan tidak berwarna) terhidrolisis oleh air (mp -230, bp 1360C)
TiCl4 + H2O TiO2 + 4HCl
- Ti Br4 tidak stabil
- TiI4 berbentuk kristal pada temperatur kamar
- TiF4 bubuk putih yang higroskopis
b. Titanium oksida dan kompleks oksida
- Titanium Oksida
- Kompleks Titanium
SENYAWAAN TITANIUM (III)
Senyawa Biner
- Senyawa Halida
- Senyawa Kompleks

VANADIUM (V)
KELIMPAHAN :
1. Patronite (kompleks sulfida)
2. Vanadinite
3. Carnotite
4. Bijih Uranium

Beberapa sifat dari logam vanadium
-Keras, tahan terhadap korosi
-Pada keadaan massive tahan terhadap udara, air, basa, asam non oksidator.
-Larut dalam asam nitrat dan aquaregia.
-Pada kondisi temperatur terkontrol dapat bereaksi dengan oksigen (V2O5) dan nitrogen nitrida (VN)

SENYAWAAN VANADIUM
Senyawa Biner
-Halida, halida dengan tingkat oksidasi +5 VF5 (merupakan cairan tak berwarna (titik leleh 480C).
-VCl4 diperoleh dengan mereaksikan logam vanadium dengan gas klor (Cl2), pada kondisi penyimpanan dapat kehilangan Cl.
VCl4(Merah) VCl3(ungu) VCl2(hijau pucat)
-Vanadium Oksida (V2O5) diperoleh melalui penambahan H2SO4 encer dalam larutan amonium vanadat.
2NH4VO3 V2O5 + 2 NH3 + H2O
-Vanadat dibuat dengan melarutkan vanadium pentoksida pada larutan NaOH
V2O5 + NaOH VO43- + Na+
-Vanadium oxo halida :
Contoh : VOX3 (X = F, Cl, Br), VO2F, VO2Cl, VOF3, dibuat dengan mereaksikan antara V2O5 dengan F2 pada temperatur tertentu.
-Ion dioksovanadium dan vanadium kompleks.
Dibuat melalui pengasaman ion vanadat
VO43- + H+ VO2+, (VO2(H2O)4]+

KROMIUM (Cr)
Kelimpahan unsur kromium didapat sebagai mineral Chromite (FeCr2O4)

Untuk memperoleh kromium murni dapat dilakukan dengan
-Mineral Kromite direaksikan dengan basa dan oksigen untuk mengubah Cr(III) menjadi Cr(VI)
-Reduksi Cr(VI) menjadi Cr(III) dengan karbon
-Reduksi Cr(III) menjadi Cr(0) dengan aluminium

Beberapa sifat dari logam kromium :
-Logam berwarna putih, keras (mp 19030C).
-Tahan terhadap korosi (digunakan sebagai bahan pelapis melalui proses elektroplating).
-Larut dalam asam-asam mineral (HCl, H2SO4)
-Pada temperatur yang terkontrol kromium dapat bereaksi dengan unsur halogen, belerang, silikon, boron, nitrogen, karbon dan oksigen.

Senyawaan Kromium
1. Halida
- Halida dari kromium (II) dapat dibuat dengan mereaksikan antara logam kromium dengan asam HF, HCl, HBr dan I2 pada temperatur 6000 – 7000C atau reduksi trihalida dengan H2 pada 500 – 6000C.
- Halida dari Cr(III) dapat dibuat dengan melalui :
a. Mereaksikan dengan SOCl2 pada hidrat klorida.
b. Sublimasi dengan gas klor pada 6000C.
2. Oksida
- Oksida terpenting dari krom : Cr2O3, CrO2 dan CrO3.
- Cr2O3 dapat dibuat dengan membakar logam kromium dalam oksigen, dekomposisi termal dari Cr(IV) oksida.
- CrO2 dibuat melalui reduksi hidrotermal dari CrO3.
- CrO3 dibuat dengan jalan mereaksikan antara larutan asam dengan Na/K dikromat.
3. Senyawa biner dari krom yang lain
Senyawaan sulfida Cr2S3.

MANGAN (Mn)
KELIMPAHAN, ISOLASI, DAN SIFAT-SIFAT UNSURNYA
- Mangan relatip melimpah dialamsekitar 0,085%.
- Diantara beberapa logam hanya besi yang kelimpahannya melebihi mangan terdapat dalam sejumlah deposit terutama dalam bentuk oksida, oksida hidrat, atau karbonat.
- Mangan juga terdapat dalam nodule pada dasar laut pasifik bersama-sama dengan Ni, Cu, dan Co.
- Logam Mn dapat diperoleh dari oksidanya dengan mereaksikan dengan menggunakan aluminium.
- Penggunaan yang luas dari Mn adalah dalam ferromangan untuk baja.
- Mangan memiliki kemiripan sifat kimia dan fisika dengan besi, dengan perbedaan utama dalam hal kekerasan dan lebih rapuh tetapi sedikit lebih tahan panas (mp 12470 C).
- Mangan lebih elektropositip dan lebih mudah larut dalam larutan encer asam non oksidasi.
SENYAWAAN MANGAN (II)
1. SENYAWA BINER
- Mangan(II) oksida merupakan bubuk berwarna hijau gelap yang dibuat dari pemanggangan senyawa karbonat dalam hidrogen atau nitrogen atau dapat juga dibuat dari pemanasan MnCl2 pada 6000C.
- Mangan (II) sulfida senyawa berwarna merah muda kenuning-kuningan yang diperoleh melalui pengendapan dengan larutan sulfida basa
2. GARAM DARI MANGAN(II), Garam mangan (II) dapat dibentuk dengan hampir semua anion. Garam mangan(II) larut dalam air, walaupun phospat dan karbonat hanya sedikit larut. Hampir semua garam kristal berbentuk hidrat.

SIFAT KIMIA DARI MANGAN (III)
SENYAWA BINER. Oksida merupakan senyawa terpenting, mangan (III)oksida merupakan hasil
akhir dari oksidasi Mn atau MnO pada 470 – 6000C membentuk Mn2O3.
Mangan(III) flourida dibuat dengan flourinasi dari MnCl2 atau senyawa lain dan membentuk padatan merah anggur yang secara sertamerta terhidrolisis oleh air.

SIFAT KIMIA MANGAN (IV)
SENYAWA BINER. Senyawa biner terpenting mangan dioksida yang merupakan padatan berwarna abu-abu sampai hitam yang dialam terdapat sebagai bijih pyrolusite
TETRAFLOURIDA MnF4, didapat melalui interaksi langsung merupakan padatan biru yang tidak stabil secara lambat terdekomposisi menjadi MnF3 dan F2.

SIFAT KIMIA MANGAN (VI-VII)
Mangan (VI) yang dikenal sebagai ion manganat MnO42- yang berwarna hijau. Ion ini dibentuk pada oksidasi MnO2 dalam lelehan KOH dengan KNO3, udara atau zat pengoksidasi lain atau melalui penguapan KMnO4 dan larutan KOH

BESI (Fe)
KELIMPAHAN :
Besi merupakan logam yang melimpah nomor dua (2) setelah logam aluminium dan merupakan
unsur melimpah nomor 4 penyusun kulit bumi. Bahkan inti bumi diyakini mayoritas unsur penyusunnya
adalah besi dan nikel.

Mineral sumber utama besi (Fe) :
1. Hematite
2. Magnetit (Fe3O4)
3. Limonit (FeO(OH))
4. Siderit (FeCO3)

Beberapa metode untuk memperoleh logam besi murni antara lain :
1. Reduksi besi oksida dengan hidrogen
Didapat dari dekomposisi termal dari besi (II) oksalat, karbonat dan nitrat
2. Elektrodeposisi dari larutan garam besi
3. Dekomposisi termal dari besi karbonil

BEBERAPA SIFAT DARI LOGAM BESI
-Merupakan logam berwarna putih mengkilap (mp 15280C)
-Tidak terlalu keras dan agak reaktip, mudah teroksidasi
-Mudah bereaksi dengan unsur-unsur non logam seperti : halogen, sulfur, pospor, boron, karbon dan silikon.
-Kelarutan : larut dalam asam-asam mineral encer.
-SENYAWAAN BESI
Besi hidroksida dan Oksida
1. Besi hidroksida dibuat dengan menambahkan larutan hidroksida kedalam larutan
besi (II).
2. Besi(II)oksida diperoleh melalui proses dekomposisi termal besi(II) oksalat pada
kondisi vakum.
3. Besi (III) oksida [FeO(OH)] dapat dibuat dengan cara :
- Hidrolisis larutan besi(III) klorida pada temperatur tertentu.
- Oksidasi dari besi(II) hidroksida.
4. Fe2O3 dibuat dengan memanaskan Besi (III) oksida pada temperatur 2000C.
5. Fe3O4 dibuat dengan memanaskan Fe2O3 pada temperatur 14000C

Halida, umumnya hanya berasal dari besi(II) dan besi (III)
- Halida dari besi tiga dapat dibuat dengan mereaksikan antara unsur halogen
dengan logam besi.
- FeI dan FeBr dibuat dengan mereaksikan langsung antar unsur-unsurnya.
- FeF2 dan FeCl2 direaksikan dengan HF dan HCl untuk memperoleh trihalida
yang selanjutnya direduksi dengan hidrogen melalui proses pemanasan.

KOBAL (Co)
KELIMPAHAN :
Unsur kobal dialam selalu didapatkan bergabung dengan nikel dan biasanya juga dengan arsenik. Mineral kobal terpenting antara lain Smaltite (CoAs2) dan kobaltite (CoAsS). Sumber utama kobal disebut “Speisses” yang merupakan sisa dalam peleburan bijih arsen dari Ni, Cu, dan Pb.

SENYAWAAN KOBAL
1. OKSIDA. Kobal (II) oksida merupakan senyawa berwarna hijau dibuat melalui pemanasan logam, kobal karbonat, atau nitrat pada suhu 11000C
2. HALIDA. Halida anhidrat CoX2 dapat dibuat dengan dehidrasi dari hidrat halida dan untuk CoF2 dibuat dengan mereaksikan antara HF dengan CoCl2
3. SULFIDA. Dibentuk dari larutan Co2+ yang direaksikan dengan H2S membentuk endapan CoS berwarna hitam.
4. GARAM. Bentuk garam kobal(II) yang paling sederhana dan merupakan garam hidrat. Semua garam hidrat kobal berwarna merah atau pink dari ion [Co(H2O)6]2+ yang merupakan ions terkoordinasi oktahedral.
5. KOMPLEKS-KOMPLEKS DARI KOBAL(II) , Ion akuo (Co(H2O)6] merupakan kompleks kobal(II) paling sederhana.

NIKEL (Ni)
KELIMPAHAN :
1. Smaltite [Fe,Co,Ni]As
2. Nikolit [NiAs]
3. Pentlandite [Ni,Co,Fe]S
4. Garnierite [Ni,Mg]SiO3xH2O

SIFAT Ni :
1. logam putih mengkilap
2. pada t kamar tidak bereaksi dengan udara dan air
3. larut dalam HNO3 encer
4. mp 14500C , bp 28000C
5. bereaksi dengan H2S menghasilkan endapan hitam
5. dalam larutan akuatik Ni[H2O]62+ hijau
6. membentuk oksida NiO

SENYAWAAN NIKEL (Ni)
1. Hidroksida [Ni(OH)2]
2. Klorida [NiCl2]
3. Sulfat [NiSO4.7H2O]
4. Senyawa Kompleks

TEMBAGA (Cu)
KELIMPAHAN :
- Tembaga tersebar luas dialam sebagai logam, dalam bentuk sulfida, arsenida, klorida dan karbonat.
- Mineral yang paling umum adalah Chalcopyrite (CuFeS2).
- Tembaga dapat diisolasi dari mineralnya melalui pemanggangan dan peleburan oksidatip, pencucian dengan bantuan mikroba yang diikuti oleh elektrodeposisi dari larutan sulfat.
- Tembaga banyak digunakan dalam aliansi seperti kuningan dan bahan campuran emas.

SENYAWAAN TEMBAGA (I)
- SENYAWAAN BINER TEMBAGA (I). Oksida dan sulfida lebih stabil daripada senyawa Cu(II) pada temperatur tinggi
- KOMPLEK TEMBAGA(I). Jenis kompleks tembaga(I) yang paling umum adalah kompleks yang dibentuk dari ligan halida atau amina dan mempunyai struktur tetrahedral.

SENYAWAAN KIMIAWI TEMBAGA (II)
SENYAWA BINER. Tembaga oksida CuO merupakan kristal hitam yang diperoleh melalui pirolisis dari garam nitrat atau garam-garam okso yang lain. CuO terdekomposisi pada suhu diatas 8000C menjadi Cu2O
HALIDA. CuF2 tidak berwarna dengan struktur rutil terdistorsi CuCl2 berwarna kuning, dan CuBr2 berwarna hitam
KIMIAWI ION AKUO DAN LARUTAN AKUO. Pelarutan tembaga, hidroksida, karbonat, dan senyawa-senyawa Cu(II) dalam asam akan membentuk ion akuo yang berwarna hijau kebiruan [Cu(H2O)6]2+.

Selengkapnya...

► UNSUR TRANSISI PERIODE KEDUA DAN KETIGA

Beberapa hal penting dari unsur-unsur transisi deret kedua dan ketiga dibandingkan dengan deret pertama adalah :

► 1. Jari-jari. Jari-jari logam dan ion untuk unsur transisi periode kedua dan ketiga lebih besar dibanding periode pertama.
► 2. Tingkat Oksidasi. Untuk unsur transisi periode kedua dan ketiga, pada tingkat oksidasi tinggi umumnya lebih stabil daripada unsur periode pertama.
► 3. Kimia Larutan. Ion akuo dari unsur transisi periode kedua dan ketiga pada keadaan valensi rendah dan sedang tidak umum didapatkan atau tidak terlalu penting.
► 4. Ikatan Logam-logam. Umumnya unsur-unsur transisi periode kedua dan ketiga akan lebih mudah untuk membentuk ikatan M-M daripada unsur transisi periode I.
► 5. Sifat Magnetik. Umumnya unsur-unsur periode kedua dan ketiga mempunyai sifat magnetik yang sedikit penggunaannya dibandingkan dengan unsur transisi periode pertama.
► 6. Stereokimia. Unsur-unsur transisi periode kedua dan ketiga umumnya mempunyai bilangan koordinasi yang lebih tinggi yaitu VIII dan VIII dibandingkan unsur transisi periode pertama, dengan pengecualian untuk unsur platina bilangan koordinasi tertinggi 6.


► ZIRKONIUM (Zr) DAN HAFNIUM (Hf)
KELIMPAHAN :
Beberapa mineral sumber zirkonium :
- Baddeleyite (ZrO2)
- Zirkon (ZrSiO2)
Untuk memisahkan ion zirkonium dan hafnium digunakan metode penukar ion atau
ekstraksi-pelarut secara bertingkat.

SIFAT-SIFAT DARI UNSUR ZIRKONIUM DAN HAFNIUM
- Logam zirkonium seperti halnya logam titanium bersifat keras dan tahan korosi
(mp 18550C)
- Terbakar di udara pada temperatur tinggi, bereaksi lebih cepat dengan nitrogen dan
oksigen membentuk nitrida, oksida dan oksida nitrida (Zr2ON2).

BEBERAPA SENYAWAAN DARI ZIRKONIUM DAN HAFNIUM
- Halida, halida MCl4, MBr4 dan MI4 pada fase gas berbentuk tetrahedral tetapi pada
kondisi padat merupakan polimer dengan jembatan halida.
- Zirkonium oksida, (ZrO2) merupakan kristal putih yang keras dan tidak larut (mp 27000C),
tahan terhadap asam dan basa, memiliki sifat mekanis yang baik digunakan untuk tungku
furnace.
► NIOBIUM (Nb) DAN TANTALUM (Ta)
KELIMPAHAN :
- Kelimpahan niobium 10-12 kali lebih besar daripada tantalum pada kulit bumi.

MINERAL SUMBER NIOBIUM DAN TANTALUM :
- Mineral seri kolumbite-tantalite yang komposisi utamanya (Fe/Mn)(Nb/Ta)2O6.
- Mineral pyrochlore merupakan campuran kalsium natrium niobat.

SIFAT-SIFAT DARI NIOBIUM DAN TANTALUM :
- Logam mengkilat, titik leleh tinggi (Nb 24680C, Ta 29960C)
- Tahan terhadap asam dapat larut dalam campuran HNO3-HF.
- Bereaksi lambat dengan leburan NaOH.

BEBERAPA SENYAWAAN NIOBIUM DAN TANTALUM
► Senyawa oksigen. Nb2O5 dan Ta2O5 meruapakan serbuk putih yang bersifat inert. Tidak larut dengan semua asam kecuali dengan HF pekat, larut dalam leburan NaOH dan NaHSO4.
► Halida, MF5, pentaflourida dibuat melalui reaksi flourinasi dari logamnya. Merupakan padatan putih volatil (mp 800C, bp 2350C/Nb, mp 950C, bp 2290C/Ta) dalam keadaan cair tidak berwarna dan volatil.
► MCl5, pentaklorida dibuat melalui reaksi klorinasi dari logamnya, merupakan padatan kuning, terhidrolisis menjadi hidrat oksida.
► MOLIBDENUM (Mo) DAN WOLFRAM (W)
KELIMPAHAN :
Kelimpahan kedua unsur ini berkisar 10-4% pada batuan metalurgi. Beberapa mineral sumber utama molibdenum (Mo) dan wolfram (W) antara lain :
- Molibdenit (MoS2) dan wulfenit (PbMoO4), MgMoO4
- Scheelite (CaWO4) dan wolframite [Fe(Mn)WO4]

METODE ISOLASI MOLIBDENUM (Mo) DAN WOLFRAM (W)
1. Molibdenum (Mo)
Mineral Mo dilakukan proses foam flotation untuk memperoleh MoO3
direduksi dengan karbon untuk memperoleh logamnya.
2. Wolfram (W)
Mineral tungsen (wolfram) dihancurkan secara mekanik dan direaksikan
dengan lelehan NaOH. Lelehannya dilarutkan dalam air untuk memperoleh
Na-tungsenat yang kemudian diasamkan untuk mendapatkan WO3 kemudian
direduksi dengan hidrogen dan diperoleh logamnya.

KEGUNAAN :
1. Paduan logam untuk alat pemotong pada suhu tinggi
2. Filamen lampu

SIFAT-SIFAT DARI UNSUR Mo DAN W
1. Tahan terhadap asam
2. Tahan terhadap panas (mp 26100C (Mo), 34100C(W)
3. Tahan terhadap oksigen
4. Reaktip dengan flourin membentuk heksaflourida
SENYAWAAN DARI MOLIBDENUM DAN WOLFRAM

1. Oksida : Beberapa oksida yang umum seperti : MoO3(putih), WO3(kuning), MoO2 dan WO2
- Trioksida dibuat memanaskan logam dengan senyawa
lain seperti sulfida dalam oksigen.
- Dioksida dibuat dengan mereduksi trioksida dengan
hidrogen atau NH3 pada suhu ± 4700C.

2. Halida, MOF6 dan WF6 dibuat dengan reaksi flourinasi
terhadap logamnya. Kedua halida tersebut mudah
terhidrolisis.
- Mo2Cl10 dibuat melalui klorinasi logamnya.
- WCl6 dibuat melalui klorinasi logamnya.

► TECHNETIUM (Tc) DAN RHENIUM (Re)
Unsur-unsur ini berbeda dengan unsur Mn yang ada dalam satu golongan dalam beberapa hal :
1. Tidak terdapat/sedikit unsur-unsur yang stabil dalam biloks dua (II),
2. Terdapat sedikit senyawa kationik dalam setiap tingkatan bilangan
oksidasi,
3. Stabilitas dari kedua unsur ini pada bilangan oksidasi IV dan V untuk
bilangan oksidasu V sebagai senyawaan okso,
4. Anion okso MO4- merupakan pengoksidasi yang lebih lemah dibandingkan
ion permanganat,
5. Pada tingkat oksidasi II sampai IV cenderung membentuk ikatan logam-
logam (M-M)

KELIMPAHAN, KEGUNAAN, DAN ISOLASI UNSURNYA :
- Rhenium diperoleh dari mineral molibdenite (MoS) atau dari bijih Cu.
- Technetium diperoleh dari peluruhan uranium.
- Rhenium digunakan untuk paduan Pt-Re untuk katalis perengkahan minyak
bumi.
- Technetium karena merupakan unsur radioaktip digunakan untuk scanning
pada dunia kedokteran.
► SENYAWAANNYA
1. Oksida : beberapa oksida yang dikenal dari unsur ini :
Rhenium Technetium
Oksida Warna Oksida Warna
Re2O3.xH2O Hitam TeO2 Hitam
ReO2 Coklat
ReO3 Merah
Re2O3 Biru Te2O7 Kuning
Re2O7 Kuning

2. Halida : beberapa halida yang dikenal :
- ReF6 dan ReF7 yang bersifat volatil
- Re2Cl10 diperoleh dari reaksi klorinasi pada T 5500C
Terdekomposisi
Re2Cl6
► RUTHENIUM, OSMIUM, RHODIUM, IRIDIUM DAN PLATINA

Beberapa sifat dari logamnya.

► SENYAWAAN
1. Oksida, beberapa senyawaan dari unsurnya terlihat pada tabel berikut :


2. Halida, beberapa halida flour dari unsur-unsur golongan VIII

Beberapa halida lainnya :

► PERAK (Ag) dan EMAS (Au)
Seperti halnya tembaga, perak dan emas mempunyai elektron tunggal pada orbital s dan orbital d yang terisi penuh elektron, tetapi meskipun mempunyai kesamaan dalam hal struktur elektronik dan potensial ionisasi sedikit sekali kemiripan antara Ag, Au dan Cu. Beberapa kimiripan tersebut antara lain :
1. Semua logam mempunyai bentuk kristal yang sama yaitu kubus pusat muka.
2. Cu2O dan Ag2O mempunyai struktur kubus pusat badan dimana atom logam
mempunyai dua atom O tetangga dan tiap-tiap atom oksigen dikelilingi oleh
empat atom logam pada bidang tetrahedral.
3. Meskipun konstata stabilitas dari kompleks halida dari beberapa logam berurut
seperti F>Cl>Br>I, tetapi kompleks halida dari ion CuI dan AgI justru
berurut kebalikannya.
4. CuI dan AgI ( dan beberapa senyawa AuI) mempunyai kesamaan tipe baik
dalam bentuk ion dan senyawa seperti [MCl2]-, [Et3AsMI4] dan K2MCl3.
5. Beberapa kompleks tertentu dari CuII dan AgII merupakan isomorf, dan
AgIII, AuIII, dan CuII juga menghasilkan senyawa kompleks yang mirip.
KEBERADAAN DAN SIFAT UNSUR-UNSURNYA

- Perak dan emas tersebar luas dialam. Perak dan emas disamping ditemukan sebagai logam juga umumnya ditemukan dalam bentuk bijih sulfida, bisanya terdapat bersamaan dengan sulfida dari Fe, Cu, dan Ni.
- Sumber utama emas dan perak didapatkan di Afrika Selatan dan Rusia. Perak juga ditemukan sebagai mineral AgCl
- Perak berwarna putih, mengkilap, lembut dan dapat ditempa (mp 9610C) dan mempunyai konduktivitas termal dan listrik yang paling tinggi.
- Perak sedikit kurang reaktip dibandingkan tembaga kecuali terhadap belerang dan hidrogen sulfida yang dengan cepat menghitamkan permukaan perak.
- Perak larut dalam asam pengoksidasi dan dalam larutan sianida dengan adanya oksigen atau peroksida.
- Emas bersifat lembut, logam kuning (mp 10630C) dengan memiliki kemudahan untuk ditarik dan ditempa paling tinggi dari unsur-unsur yang lain.
- Emas secara kimiawi tidak reaktip dan tidak mudah bereaksi dengan oksigen atau belerang, tetapi bereaksi cepat dengan halogen atau dengan larutan yang mengandung atau melepaskan klor seperti aquaregia, dan emas larut dalam larutan sianida dengan adanya udara atau hidrogen peroksida membentuk kompleks [Au(CN)2]-
SENYAWAAN PERAK
1. PERAK (I). Perak(I) merupakan bilangan oksidasi yang umum. Ion AgI dalam air berada dalam bentuk [Ag(H2O)2]+, tetapi ligan air sangat labil dan tidak ada bentug garam hidrat dari AgI yang dikenal.

2. SENYAWAAN BINER
- PERAK(I) OKSIDA. Penambahan dari alkali hidroksida dalam
larutan AgI menghasilkan endapan coklat gelap yang sulit
dipisahkan dari ion alkali.
- PERAK (I) SULFIDA. Penambahan hidrogen sulfida pada larutan
perak menghasilkan endapan hitam Ag2S, yang mana semua
senyawa dari perak sulfida memiliki sifat sedikit larut dalam air
(log Ksp ≈ 50).
- PERAK(I) HALIDA. Fluorida membentuk hidrat seperti AgF.4H2O
yang dibuat dengan melarutkan kristal Ag2O dalam larutan HF.
- KOMPLEKS PERAK (I). Komplek perak(I) mempunyai variasi yang
sangat luas baik yang didapatkan sebagai larutan atau sebagai
padatan.
SENYAWAAN PERAK (II) DAN PERAK(III)
PERAK(II) FLOURIDA. Merupakan padatan coklat tua yang didapatkan melalui proses flourinasi dari AgF atau senyawaan Ag lainnya melalui pengaturan temperatur.


SENYAWAAN EMAS
1. OKSIDA. Hanya Au2O3 yang dikenal, walaupun penambahan basa pada larutan AuCl4- menghasilkan Au2O3.nH2O sebagai endapan amorf coklat, endapan tersebut terdekomposisi pada pemanasan menjadi Au, O2 dan H2O.

2. HALIDA. Emas(III) flourida paling baik dibuat melalui flourinasi dari Au2Cl6 pada 3000C dan membentuk kristal orange yang terdekomposisi menjadi logamnya pada 5000C.
Selengkapnya...

SENG (Zn), KADMIUM (Cd), DAN MERKURI (Hg)

Meskipun unsur-unsur ini secara khas membentuk kation 2+, mereka tidak mempunyai banyak kesamaan dengan golongan Be, Mg, Ca-Ra, kecuali beberapa kemiripan antara Zn, Be, dan Mg. Jadi BeO, Be(OH)2, dan BeS mempunyai struktur yang seperti ZnO, Zn(OH)2, dan ZnS, dan terdapat beberapa kesamaan dalam kimiawi larutan dan kompleks Zn2+ dan Mg2+.
Beberapa Sifat dari unsur golongan IIB


Meskipun unsur-unsur ini secara khas membentuk kation 2+, mereka tidak mempunyai banyak kesamaan dengan golongan Be, Mg, Ca-Ra, kecuali beberapa kemiripan antara Zn, Be, dan Mg. Jadi BeO, Be(OH)2, dan BeS mempunyai struktur yang seperti ZnO, Zn(OH)2, dan ZnS, dan terdapat beberapa kesamaan dalam kimiawi larutan dan kompleks Zn2+ dan Mg2+.

Sebab utama dari perbedaan antara ion-ion IIA dan IIB timbul dari kemudahan terdistorsi kulit d yang terisi penuh dibandingkan dengan ion-ion dari unsur-unsur IIA yang mirip dengan gas mulia. Sifat kimia dari unsur Zn dan Cd adalah sama, tetapi untuk Hg adalah berbeda dan tidak dapat sebagai suatu homolog.
Contoh : - Hidroksida Cd(OH)2 lebih utama daripada Zn(OH)2 yang
merupakan amphoter, tetapi Hg(OH)2 merupakan basa yang
sangat lemah.
- Klorida dari Zn dan Cd merupakan senyawa ionik sedangkan
HgCl2 merupakan kristal molekuler.
- Ion Zn2+ dan Cd2+ mempunyai kemiripan dengan ion Mg2+
sedangkan ion Hg2+ tidak.


Tidak adanya pengaruh stabilitas medan ligan pada ion Zn2+ dan Cd2+ karena orbital d terisi penuh elektron, maka stereokimianya hanya ditentukan oleh ukuran, kekuatan elektrostatik, dan kekuatan ikatan kovalen.
Contoh : - Sebagai pengaruh ukuran ion Cd2+ lebih disukai dibandingkan ion
Zn2+ dalam membentuk senyawaan koordinasi 6.
- ZnCl2 berstruktur tetrahedral sedangkan CdCl2 berstruktur
oktahedral.

KELIMPAHAN, ISOLASI DAN SIFAT-SIFAT UNSUR
Unsur-unsurnya mempunyai kelimpahan yang sangat rendah dialam (dengan order 10-6 dari kerak bumi bagi Zn dan Cd), namun telah lama dikenal karena mereka mudah didapatkan dari bijihnya.

Seng terdapat secara luas dalam beberapa mineral, tetapi sumber utamanya adalah Sphallerite [(ZnFe)S] yang biasanya terdapat bersama dengan galena (PbS); Mineral kadmium jarang ditemukan namun sebagai akibat dari kemiripannya dengan Zn, Cd terdapat hampir disemua bijih seng sebagai akibat pertukaran bijih isomorf.

Metode isolasi diawali dengan flotasi dan pemanggangan. Zn dan Pb diperoleh kembali secara simultan dengan metode tungku pemanas. Kadmium diperoleh sebagai hasil samping dan dipisahkan dengan destilasi atau pengendapan dari larutan sulfat dari abu Zn.


Bijih merkuri terpenting adalah cinnabar (HgS), untuk mengisolasi Hg bijih dipanggang untuk membentuk oksida yang akan terdekomposisi pada 5000C yang selanjutnya Hg(0) diuapkan.

Seng dan Kadmium merupakan logam-logam putih, mengkilat dan mudah ternoda. Merkuri merupakan cairan yang mengkilat pada suhu kamar, karena merkuri sangat volatil dan beracun, maka harus disimpan pada tempat yang tertutup dan ditempatkan pada daerah yang ventilasinya bagus.

Merkuri mudah hilang dari larutannya dan dalam bentuk garam mudah tereduksi oleh bahan pereduksi runutan dan oleh proses disproporsionasi menjadi ion Hg22+.
Baik Zn maupun Cd bereaksi cepat dengan asam-asam nonoksidator dengan melepaskan gas hidrogen dan membentuk ion divalen, sedangkan Hg bersifat inert dengan asam-asam non oksidator.

Seng juga larut dengan basa kuat karena kemampuannya untuk membentuk ion zinkate yang secara umum dituliskan sebagai ZnO22-.

Ketiga unsur tersebut bereaksi langsung dengan halogen dan dengan non logam seperti sulfur, selenium, dan timbal. Seng dan kadmium dapat membentuk beberapa paduan diantaranya kuningan (aliansi tembaga dan seng). Merkuri bergabung dengan beberapa logam lainnya seberti dengan Na atau K, bereaksi sangat kuat menghasilkan amalgam


SENYAWAAN SENG, KADMIUM, DAN MERKURI
I. KEADAAN UNIVALEN
Keadaan univalen terpenting hanya merkuri, meskipun tidak stabil ion Zn1 dan Cd1 juga ada dan mempunyai rumus M22+, keduanya sangat tidak stabil, karena merupakan pereagen pereduksi yang sangat kuat sehingga dalam larutan air akan berubah menjadi Zn2+ dan Cd2+.

II. SENYAWAAN DIVALEN SENG DAN KADMIUM
1. Oksida dan Hidroksida
- Oksida ZnO dan CdO dapat dibuat melalui pembakaran logamnya
diudara atau dengan pirolisis dari karbonat atau nitrat.
2. Hidroksida dapat diendapkan dari larutan garam dengan menambahkan basa. Hasil kali kelarutan dari Zn(OH)2 dan Cd(OH)2 adalah 10-11 dan 10-14, tetapi Zn(OH)2 lebih larut sebagai akibat harga konstata kesetimbangan yang dimiliki.
3. SULFIDA. Senyawaan sulfida diperoleh dengan mereaksikan ion aquo dengan gas H2S, kondisi asam untuk CdS, kondisi netral atau basa untuk ZnS.
4. HALIDA. Keempat halida diketahui dapat membentuk senyawaan dengan seng dan kadmium. Seperti terlihat pada tabel dibawah.
5. IONS AKUO DAN GARAM OKSO
Garam dari asam okso seperti nitrat, sulfat, sulfit, perklorat, dan asetat larut dalam air.

Beberapa sifat dari halida seng dan kadmium


Selengkapnya...

Metalurgi

Metalurgi adalah ilmu, seni, dan teknologi yang mengkaji proses pengolahan dan perekayasaan mineral dan logam. Ruang lingkup metalurgi meliputi:
• pengolahan mineral (mineral dressing)
• ekstraksi logam dari konsentrat mineral (extractive metallurgy)
• proses produksi logam (mechanical metallurgy)
• perekayasaan sifat fisik logam (physical metallurgy)




Singkat cerita nih sedikit tulisan sya dapat karna kemarin2 niatnya ngambil mata kuliah metalurgi, sudah masuk hitungan KRS tapi kecewa karena nggk ada mhasiswa lain yg ngambil ni mata kuliah, so. . . huufffttt. . . but tetap Smile_^
Metalurgi adalah ilmu, seni, dan teknologi yang mengkaji proses pengolahan dan perekayasaan mineral dan logam. Ruang lingkup metalurgi meliputi:
• pengolahan mineral (mineral dressing)
• ekstraksi logam dari konsentrat mineral (extractive metallurgy)
• proses produksi logam (mechanical metallurgy)
• perekayasaan sifat fisik logam (physical metallurgy)

Sejarah

Sejarah ilmu metalurgi diawali dengan teknologi pengolahan hasil pertambangan. Logam yang paling dini digunakan oleh manusia tampaknya adalah emas, yang bisa ditemukan secara bebas. Sejumlah kecil emas telah ditemukan telah digunakan di gua-gua di Spanyol pada masa Paleolitikum, sekitar 40.000 SM

Perak, tembaga, timah dan besi meteor juga dapat ditemukan bebas, dan memungkinkan pengerjaan logam dalam jumlah terbatas. Senjata Mesir yang dibuat dari besi meteor pada sekitar 3000 SM sangat dihargai sebagai "belati dari langit. Dengan pengetahuan untuk mendapatkan tembaga dan timah dengan memanaskan bebatuan, serta mengkombinasikan tembaga dan timah untuk mendapatkan logam paduan yang dinamakan sebagai perunggu, teknologi metalurgi dimulai sekitar tahun 3500 SM pada masa Zaman Perunggu.
Ekstraksi besi dari bijihnya ke dalam logam yang dapat diolah jauh lebih sulit. Proses ini tampaknya telah diciptakan oleh orang-orang Hittit pada sekitar 1200 SM, pada awal Zaman Besi. Rahasia ekstraksi dan pengolahan besi adalah faktor kunci dalam keberhasilan orang-orang Filistin.

Perkembangan historis metalurgi besi dapat ditemukan dalam berbagai budaya dan peradaban lampau. Ini mencakup kerajaan dan imperium kuno dan abad pertengahan di Timur Tengah dan Timur Dekat, Mesir kuno, dan Anatolia (Turki sekarang), Kartago, Yunani, Romawi kuno, Eropa abad pertengahan, Cina kuno dan pertengahan, India kuno dan pertengahan, Jepang kuno dan pertengahan, dan sebagainya.
Banyak penerapan, praktek dan perkakas metalurgi mungkin sudah digunakan di Cina kuno sebelum orang-orang Eropa menguasainya (seperti tanur, besi cor, baja, dan lain-lain).
Berdasar kedekatan antara metalurgi dengan pertambangan inilah maka pada awalnya pendidikan metalurgi lahir dari sekolah-sekolah pertambangan seperti pendidikan metalurgi di Colorado School of Mines.
Pendidikan metalurgi

Pada saat ini pendidikan metalurgi sudah sedemkian luas sehingga beberapa perguruan tinggi mengkhususkan penekanan pada cabang-cabang ilmu metalurgi.
• Cabang pengolahan mineral dan metalurgi ekstraksi biasanya sangat ditekankan pada pendidikan metalurgi di jurusan Teknik Pertambangan.
• Cabang metalurgi mekanik biasanya sangat ditekankan pada pendidikan metalurgi di jurusan Teknik Mesin dan Teknik Industri.
• Cabang metalurgi fisik biasanya diajarkan secara merata di berbagai perguruan tinggi sebagai fundamen dari ilmu logam.
Perkembangan persoalan ilmiah dan teknis saat ini yang memerlukan pemecahan multidisiplin mengharuskan adanya pertemuan antara berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Dalam hal ini seorang metalurgis (ilmuwan dan pekerja metalurgi) berada di tengah-tengah pertemuan ilmu-ilmu tersebut. Metalurgi beririsan dengan beberapa aspek ilmu kimia, teknik kimia, fisika, teknik fisika, teknik mesin, pertambangan, lingkungan, dll.

Mineral dressing
Mineral dressing adalah pengolahan mineral secara fisik. Tujuan dari mineral dressing adalah meningkatkan kadar logam berharga dengan cara membuang bagian-bagian dari bijih yang tidak diinginkan. Secara umum, setelah proses mineral dressing akan dihasilkan tiga kategori produk.
1. Konsentrat, dimana logam-logam berharga terkumpul dan dengan demikian kadarnya menjadi tinggi.
2. Tailing, dimana bahan-bahan tidak berharga (bahan ikutan, gangue mineral) terkumpul.
3. Middling, yang merupakan bahan pertengahan antara konsentrat dan tailing.
Teknik mineral dressing bermacam-macam. Pengaplikasiannya sangat tergantung pada jenis bijih atau mineral yang akan ditingkatkan konsentrasinya. Pemilihan teknik didasarkan pada perbedaan sifat-sifat fisik dari mineral-mineral yang ada dalam bijih tersebut. Teknik-teknik yang digunakan dalam proses mineral dressing di antaranya adalah:

Konsentrasi gravitasi
Teknik ini memanfaatkan perbedaan berat jenis antara mineral-mineral. Mineral-mineral dipisahkan dengan peralatan yang berprinsip pada pemisahan berat jenis seperti jigging, rake classifier, spiral classifier, vibrating table, dll.

Flotasi
Teknik ini memanfaatkan perbedaan sifat permukaan mineral-mineral. Dengan menambahkan reagen kimia yang bisa membuat permukaan salah satu mineral menjadi hidrofil sementara bagian reagen itu sendiri memiliki sifat hidrofob, maka mineral bersangkutan dapat diangkat oleh gelembung yang ditiupkan ke permukaan untuk dipisahkan. Biasnya mineral-mineral sulfida dipisahkan dengan cara ini.

Magnetic Separation
Cara ini memanfaatkan sifat magnet dari mineral-mineral. Mineral yang bersifat feromagnetik dipisahkan dari mineral yang bersifat diamagnetik.
Dan teknik-teknik lainnya, seperti electric separator, dll.

Metalurgi ekstraktif
Pada bagian mineral dressing, konsentrat yang mengandung logam berharga dipisahkan dari pengotor (gangue mineral) yang menyertainya. Sedangkan ilmu extractive metallurgy adalah untuk memisahkan logam berharga dalam konsentrat dari material lain.
Metalugi Fisik adalah pengetahuan-pengetahuan mengenai fisika dari logam-logam dan paduan-paduan umpamanya tentang sifat-sifat mekanik, sifat-sifat teknologi serta pengubahan-pengubahan sifat-sifat tersebut yang umumnya menyangkut segi-segi pengembangan atau development, pada penggunaan dan pengolahan atau teknologi logam-logam dan paduan-paduan.

Majalah Metalurgi Volume 23, No. 2, Desember 2008

PERCOBAAN PEMBUATAN BARIUM KARBONAT DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN BAKU UTAMA MINERAL BARIT
F. Firdiyono
Pusat Penelitian Metalurgi-LIPI, Kawasan PUSPIPTEK Serpong
INTISARI
Telah dilakukan percobaan pembuatan barium karbonat pada skala laboratorium dengan menggunakan bahan baku utama mineral barit yang berasal dari daerah Cikondang, Tasikmalaya. Pembuatan barium karbonat merupakan langkah dan produkta awal untuk membuat kimia barium dari mineral barit. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa barit alam berkualitas rendahpun masih dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kimia barium. Beberapa langkah utama yang dilakukan dalam proses ini adalah: Pemanggangan reduksi yang dilakukan dengan reduktor batubara, pelarutan dengan media air, dan pengendapan barium karbonat dengan menggunakan soda abu. Barium karbonat yang diperoleh mengandung 97,7% BaCO3 dan 2,3% SrCO3 dengan total recovery 87,2%. Produk kimia barium seperti barium titanat, barium sulfat, barium khlorida dan lain-lainnya akan mudah diperoleh dengan mereaksikan barium karbonat dengan bahan kimia yang sesuai.
Kata kunci : Mineral barit, Barium karbonat, Soda abu, Barium titanat, Piezoelectric, Barium sulfat, Barium khlorida, Blanc fixe, Witherit, Sanbornit
ABSTRAK
Barite from Cikondang, Tasikmalaya was used as a raw material for making barium carbonate in the laboratory scale. As a first step, barium carbonate had to be made from natural barite, then several compounds of barium chemistry could be made by using barium carbonate as their raw material. The experimental result shows that low grade ore also can be used as a raw material to produce barium carbonate. There were three main processes used: Reduction roasting which low grade coal was used as reduction agent, then fresh water was used as leaching media and soda ash was used as precipitating agent. Barium Carbonate produced consist of 97.7% BaCO3 and 2.3% SrCO3. Total recovery will be around 87.2%. Barium titanate, barium sulfat, and barium chloride could be produced by reacting the barium carbonat with suitable chemical.
————————————————————————————-
PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP DENSITAS DAN POROSITAS KOMPOSIT Al2O3/Al PRODUK DIRECTED METAL OXIDATION
G.N. Anastasia Sahari1,2), Anne Zulfia1) dan Eddy S. Siradj1)
1) Dept. Metalurgi dan Material FT. Universitas Indonesia
2) Jurusan Mesin FT. UKIP Makassar
tashya_sahari@yahoo.com
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh dari temperatur terhadap densitas dan porositas komposit matriks keramik Al2O3/Al hasil produk Directed metal oxidation. Sampel komposit dibuat dengan cara menempatkan ingot Al dibawah serbuk alumina dan 8% wt Mg dalam tray, kemudian disinter dengan temperatur 1100,1200 dan 1300oC dengan waktu tahan 24 jam dan selanjutnya didinginkan sampai temperatur kamar dalam dapur. Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi temperatur sinter, infiltrasi Al akan semakin besar dan densitas maksimum yang dicapai sebesar 3,51 gr/cm3 pada temperatur 1100oC dan porositas minimum adalah 3,6% juga pada temperatur 1100oC.
Kata kunci : Temperatur, Al2O3-Al, Dimox, Infiltrasi, densitas, porositas
ABSTRACT
This Research aims to observe the effect of temperature on density and porosity of ceramic matrix composites Al2O3/Al as the product of Dimox. Composites sample is made by placing Al ingot under alumina and 8% wt magnesium powders in a tray, then heated through 1100, 1200 and 1300oC on 24 hours holding time, then cooled to room temperature in furnace. The result show that with higher sinter temperature, Al infiltration will be increased and max density is 3,51 gr/cm3 and min porosity is 3,6% at 1100oC.
Key Words: temperature, Al2O3-Al, Dimox, infiltration, density, porosity
————————————————————————————-
PENGARUH TEMPERATUR AUSTEMPER TERHADAP PERUBAHAN STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN BESI COR NODULER FERITIK
Bintang Adjiantoro
Puslit Metalurgi – LIPI, Kawasan PUSPIPTEK - Serpong, Tangerang
ABSTRAK
Proses austempering dilakukan pada besi cor noduler feritik dengan memvariasikan suhu temper mulai dari 250oC, 300oC dan 400oC pada waktu penahanan 2 jam. Hasil percobaan diperoleh struktur acicular ferite atau bainit. Semakin rendah suhu austemper, semakin halus ukuran struktur bainit dengan kerapatannya yang tinggi. Nilai kekuatan dan kekerasan dari struktur bainit ini semakin tinggi yang diikuti dengan tingkat kegetasan yang semakin tinggi pula. Sebaliknya semakin tinggi suhu austemper, Nilai kekuatan dan kekerasan dari struktur bainit ini semakin rendah namun keuletannya cenderung meningkat.
Kata kunci : Besi cor noduler, Austempering Ductile Iron (ADI), Acicular ferite, Struktur Bainit,
ABSTRACT
Austempering process done at feritik noduler cast iron with temperature variation of tempering from 250oC, 300oC and 400oC when holding time of 2 hour. Result of experiment is obtained structures acicular ferite or bainite. Increasingly low temperature austemper, increasingly smooth bainite structures with its high density. Strength value and hardness from this bainite structures excelsior followed with level of brittleness which excelsior also. On the contrary temperature excelsior austemper, Strength value and hardness from this bainite structures increasingly low but its ductility tends to increase.
Key words : Noduler cast iron, Austempering Ductile Iron (ADI), Acicular ferite, Bainite structure,
————————————————————————————-
PEMBUATAN BESI NUGGET DARI PASIR BESI DAN BIJIH BESI LATERIT:
Tantangan dan Kemungkinan Keberhasilannya
Yusuf dan Edi Herianto
Pusat Penelitian Metalurgi LIPI,Komplek PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang
INTISARI
Cadangan bijih besi Indonesia yang didominasi oleh bijih besi laterit dan pasir besi membutuhkan pendekatan proses yang tepat. Proses pembuatan besi nugget dengan teknologi ITMk3 yang menggunakan pereduksi batubara memiliki berbagai kelebihan yang layak dipertimbangkan. Teknologi berbasis RHF yang dikembangkan oleh Midrex dan Kobe Steel ini telah siap dipakai untuk bijih besi konvensional, tetapi masih menyisakan tantangan menarik untuk dapat diterapkan pada bijih besi laterit dan pasir besi. Ada 4 cara untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul, yaitu : (1) pembentuk terak encer, (2) penggunaan jumlah pereduksi sub stoikiometrik, (3) penggerusan halus, dan (4) reduksi dua tahap. Perlu dilakukan penelitian mendasar untuk memungkinkan pemanfaatan bijih besi dalam negeri sebagai penopang industri besi baja nasional
Kata kunci : bijih laterit, pasir besi, besi-nugget, batubara, RHF.
ABSTRACT
Indonesian iron ore reserves dominated by lateritic ore and titanium rich beach sand require an appropriate processing technology. Iron nugget production technology ITMk3 which use ordinary coal as reductant has many advantages to be considered. As an RHF base technology developed by Midrex and Kobe Steel, ITMk3 will be ready for commercialization for a conventional iron ore, but not too easy to be adapted for the laterite ore and beach sand iron concentrate. There are four possibility to solve the coming problems: (1) flux addition to produce high fluidity slag, (2) the use of sub stoichiometric reductant, (3) finer grinding, and (4) two stages heating or reduction. It will be advisable to conduct a thorough fumdamental research to facilitate the utilization of Indonesian domestic iron ore to support national iron and steel industries.
Keywords : lateritic ore, ironsand, iron nugget, coal, RHF
————————————————————————————-
ANALISA TEGANGAN VESSEL YANG MENGALAMI DEFORMASI AKIBAT LEDAKAN
M. N. Setia Nusa
Peneliti Bidang Kajian Material, Balai Besar Teknologi Kekuatan dan Struktur – BPP Teknologi
Telp. 021-7560562 ext. 1069 e-mail: setia_nusa@yahoo.com
INTISARI
Analisa kerusakan dilakukan pada sebuah Vesel yang mengalami deformasi saat dilakukan Turn Around (TA) pada awal tahun 2001. Deformasi tersebut diakibatkan oleh ledakan yang terjadi di dalam vesel sehingga mendorong buffle yang mengakibatkan tertariknya shell vesel.
Untuk itu diperlukan beberapa pertimbangan dan perhitungan diantaranya dilakukan analisis dengan perhitungan tegangan untuk melihat efek dari ledakan dan deformasi yang terjadi pada material tersebut serta pengujian kekerasan dan identifikasi material dengan uji komposisi kimia.
Dari hasil perhitungan dan analisis, vesel tersebut tidak aman digunakan untuk 2 (dua) tahun mendatang karena pertimbangan dan perhitungan laju korosinya sedangkan material sesuai dengan spesifikasinya serta kekerasan yang relarif masih normal sesuai standard .
Untuk itu diperlukan repair pada dinding shell dengan beberapa alternatif pemotongan plat yang terdeformasi dengan pemotongan satu sisi, pemotongan dua sisi ataupun dengan penambahan penguat menyilang ataupun melintang.
Kata kunci : Vessel, ledakan, deformasi, analisisi tegangan, repair.
ABSTRACT
Failure analysis has been done on a vessel that experiencing deformation when it was turned around (TA) in the beginning of 2001. The deformation was caused by explosion inside the vessel so that the buffle was pushed and consequently the vessel shell was pulled.
Many consideration and calculation are needed. Analysis was conducted using stress calculation to see explosion and deformation effect on these material as well as hardness test and material identification using chemical composition test.
From the result of calculation and analysis, these vessel are not safe for 2 (two) years ahead based on consideration and corrosion rate calculation. These material are suitable with the specification and the hardness values are relatively normal according an the standard.
Repair on shell walls are needed with some alternative plate cut. There are one –side , two-side cut or addition of gross reinforcement or horizontal reinforcement.
Keyword: Vessel, explosion, deformation , stress analysis, repair.
————————————————————————————-
PELEBURAN BIJIH NIKEL LATERIT MENGGUNAKAN BLAST FURNACE : PELAJARAN DARI CHINA
Edi Herianto
Pusat Penelitian Metalurgi LIPI, Komplek PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang
INTI SARI
Kebutuhan logam nikel dibelahan dunia ini terus meningkat seiring dengan semakin majunya peradapan manusia. Kebutuhan logam nikel baik sebagai logam paduan maupun logam murni saat ini banyak diperlukan diiringi juga dengan harga yang terus meningkat. Logam nikel banyak digunakan mulai dari konstruksi, transfortasi, komunikasi sampai keperalatan perang. Maka selayaknyalah Indonesia membuat pabrik pengolahan bijih nikel yang praktis dan sederhana, karena Indonesia memiliki cadangan bijih nikel yang berlimpah yang konon katanya berdasarkan data sebagai nomor tiga terbesar dunia.Salah satu teknologi yang sederhana adalah menggunakan teknologi yang konvensional yaitu menggunakan balst furnace seperti yang dilakukan di China. Nikel laterit yang berupa fine sebelum diumpankan kedalam blast furnace terlebih dahulu di buat sinter, dengan memanfaatkan gas buang dari balst furnace itu sendiri. Sehingga dengan teknologi yang konvensional ini pengolahan nikel laterit lebih sederhana dan effisien.
Kata kunci : Bijih nikel laterit, blast furnace, china, sinter, pig Fe-Ni
ABSTRACT
The requirement of nickel metal in the hemisphere raised continuously in accordance to man kind civilization. The requirement of nickel metal, either metal alloys or pure metal, nor they are mostly needed according to rise in prices. The nickel metal is used from construction, transportation, communication until weapon equipment. So in Indonesia, it must be done the simple processing plant for nickel ore, because Indonesia has abundant resources nickel ore. Based on data, the resources of nickel ore in Indonesia is 3 rd of the world. The simple technology is conventional, by using blast furnace, like in china. Before the fine lateritic nickel ore feeded in blast furnace, they have been done the firstly sinter, using waste gas from blast furnace. So by using conventional technology, the processing of lateritic nickel ore more simple and efficient.
————————————————————————————-
SYNTHESIS OF NEW AUSTENITIC MATERIAL BY POWDER METALLURGY METHOD
Nurdin Effendi1, A. K. Jahja1, Yuswono2and Saefudin2
1) Nuclear Industrial Material Technology Center-BATAN, PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang
2) Research Center for Metallurgy, PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang
INTISARI
Telah dilakukan pembuatan bahan austenitik baru yang dinamakan dengan A-1 sebagai bahan studi untuk penukar panas reaktor daya. Pembuatan bahan paduan ini dilakukan dengan teknik metalurgi serbuk. Komponen unsur-unsur paduannya adalah Fe, Ni, Cr, Si, Mn, C, dan Ti. Masing-masing komponen bahan ditentukan persen beratnya dan ditimbang. Campuran unsur-unsur tersebut diaduk dengan ball milling selama 46 jam. Masing-masing sampel awal yang dibuat berupa pelet bermassa 25 gram, diperoleh dengan kompaksi menggunakan die berukuran diameter dalam 2,5 cm, dengan tekanan kompaksi 8000 psi. Setelah diberi perlakuan presinter pada 1150 oC selama 48 jam, sampel disinter pada temperatur sekitar 1250 oC selama 2 jam dan setelah waktu penyinteran mencapai 2 jam sampel diberi perlakuan deformasi plastis seperti ditempa dan atau diroll diteruskan dengan homogenisasi pada 1250 oC selama sehari. Pengamatan struktur mikro dengan mikroskop optik menunjukkan bahwa bentuk butir fasa berbenuk pecahan segi empat atau segi lima. Pola difraksi diperiksa dengan difraktometer sinar-X dan hasilnya menunjukkan bahwa struktur kristalnya adalah fcc, sesuai dengan tipe fasa austenitik, dengan parameter kisi sekitar 3,61 Å. Hasil uji kekerasan dengan metoda Brinell menunjukkan bahwa bilangan kekerasan Brinell rata-ratanya berada dalam kisaran 200. Dari nilai-nilai kekerasan Brinell yang berada diatas nilai rata-rata kekerasan dari bahan SS-321 dan SS-347 dalam kelompok bahan grade clas of three (nonhardenable), maka bahan austenitik baru ini diharapkan sebagai bahan alternatif yang memiliki sifat mekanik dan ketahanan korosi yang lebih baik.
Kata kunci : pembuatan, material baru, austenit, metallurgi serbuk.
ABSTRACT
The synthesis of a new austenitic alloy, named A-1, has been carried out as a studies material for a power-reactor heat exchanger. Powder metallurgy method was utilized in the alloys´ synthesis. The alloys elemental components are Fe, Ni, Cr, Si, Mn, C and Ti. Each of the alloying component was first determined in terms of weight-percentages, before actual weighing on the microbalance apparatus. The components were blended together in a special purpose ball-mill for 46 hours. The first samples are in the form of pellets of twenty five grams each, obtained by compaction process using a die with a 2.5 cm internal diameter, at a pressure of 8000 psi. After presinterred at 1150 oC for 48 hours, sintering was carried out at 1250 ºC for 2 hours and then the material underwent plastic deformation as well as forged and rolled and then homogenized at 1250 ºC for one day. The microstructure observation shows that the phase grains form quadrangel or pentagon fraction. The diffraction pattern is observed by X-ray diffractometer, and the result shows that the sample has an fcc crystal structure, which complies with the austenite phase type, and the lattice parameter is around of 3,61 Å. The average Brinell hardness number is in around of 200 - 225. Considering that the measured density values and the Brinell hardness values are in the above of values observed in SS-321 and SS-347 in grade class of three (nonhardenable) materials, it is expected that this new austenite as an alternative samples would has better mechanical properties and corrosion resistance.
————————————————————————————-
PENGARUH SUHU PEMANASAN TERHADAP SENSITASI PADA BAJA STAINLESS STEEL 304
Saefudin, Yuswono, I Nyoman Gede P.A
Pusat Penelitian Metalurgi, Gedung 470 ,Kawasan PUSPIPTEK Serpong
INTISARI
Penggunaan material baja austenit stainless steel 304 dengan kandungan 18%Cr, 8%Ni, adalah karena sifat ketahanannya terhadap serangan korosi baik pada suhu tinggi maupun suhu rendah. Material ini banyak digunakan untuk konstruksi di lingkungan fluida korosif, seperti tangki wadah dalam ukuran tonase, pipa pengalir, dan heat exchanger. Sifat ketahanan korosi austenit stainless steek bisa menurun, karena mengalami sensitasi, yaitu pembentukan senyawa khrom karbida di datas butir, yang mengakibatkan serangan korosi di batas butir (intergranular corrosion). Namun demikian tipe 304 ini banyak diminati para konsumen, karena harganya lebih murah dari pada tipe 316L. Dalam penelitian ini dilakukan percobaan untuk mengendalikan adanya sensitasi terhadap stainless steel tipe 304, melalui variasi pemanasan spesimen pada suhu 600oC s.d. 1200oC dengan pendinginan cepat (media air) dan pendinginan lambat (media di dalam tungku serta udara). Hasil percobaan ditunjukkan bahwa pencelupan spesimen di media air setalah dilakukan pemanasan pada suhu tersebut, presipitasi senyawa karbida di batas butir dapat dikendalikan. Pemanasan spesimen pada suhu lebih rendah (600oC dan 800oC), presipitasi karbida dapat dikendalikan dengan kecepatan pendinginan relatif rendah, yaitu pendinginan di media udara. Pendinginan spesimen dengan kecepatan pendinginan lambat (di dalam tungku), sensitasi berlangsung.
Kata kunci : Baja tahan karat austenitik, heat treatment, sensitisasi, batas butir, presipitasi karbida, korosi
ABSTRACT
The use of Material austenitic stainless steel 304 with 18%Cr, 8%Ni content is due to their corrosion resistant properties either at low or high temperatures environment. The austenitic stainless steel 304 is used for construction in the fluid of corrosive environment, such as tank for tonnage scale in weight, pipe line, and heat exchanger. Decreasing the corrosion resistant properties of austenitic stainless steel is caused sensitation, such as the formation of chrome carbide compound along the grain boundaries. That will cause corrosion attack in the grain boundary (intergranular corrosion). In this case a lot of consumer use this stainless steel product by reason that is their price are cheaper if comparing with another type (316L). In this experiment, by heating of specimens at temperature in the range 600oC up to 1200oC is attempt to control the existing of sensitasion in the stainless steel 304 with treatment for either high cooling rate (water quenching) or low cooling rate by use of air media and furnace cooling. Experiment result has shown that precipitation of carbide compound can be controlled by use of cooling media, i.e. water quench, air media, and furnace cooling after heating at that temperature. Heating specimen at low temperature 600oC, precipitation of carbide is not exist at low cooling rate in air media. But heating specimen at high temperature 800oC up to 1200oC, precipitation of carbide does not existing at high cooling rate in water quench.
————————————————————————————-
MIKROGRAFI SEKITAR SAMBUNGAN LAS BAJA ASSAB CORRAX
Parikin dan A.H. Ismoyo
Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir-BATAN, Kawasan PUSPIPTEK, Serpong Tangerang, BANTEN
Telpon : 0231-75874788, E-mail : farihin@batan.go.id
INTISARI
Pengamatan strukturmikro baja Assab Corrax pada daerah heat affected zone telah dilakukan. Studi ini dilakukan dalam rangka mencari bahan yang tahan pada operasi suhu tinggi. Kombinasi perlakuan temperatur dan canai dimaksudkan untuk mengetahui efek mechano-thermo treatments terhadap bahan. Preparasi bahan dimulai dari cutting, mounting, grinding, polishing dan kemudian dietsa dengan menggunakan 2% Nital. Pengamatan strukturmikro dilakukan dengan menggunakan mikroskop optik, dengan pembesaran hingga 500x. Hasil memperlihatkan bahwa strukturmikro permukaan bahan adalah bainit (acicular ferit) dan panas lasan mempengaruhi proses transformasi acicular ferit (struktur sederhana) ke allotriomorphic ferit (struktur takberaturan, segi banyak). Presipitat CrxIy (I=Ni,Al) pada bahan baja assab corrax merupakan unsur jenuh dan tumbuh dipengaruhi pemberian temperatur selama proses pencanaian.
ABSTRAK
Microstructure investigation has been carried out on the heat-affected zone in Assab Corrax steel. The main objective of this preliminary research is to obtain materials which are suitable for high temperature operations. To achieve this objective, a combination of heat-treatment and rolling process were conducted, in order to understand the effect of thermo-mechanical treatments to the properties of HAZ/weldment become apparent. Sample preparation was followed by etching in a solution of 2% Nital. Microstructures investigation was carried out by using an optical microscope with magnification of up to 500x. The micrographs show microstructures consisting of a simple structure of bainite (acicular ferrite). The transformation process from acicular to allotriomorphic ferrite (irregular structure, polygon) was affected by the welding heat. Precipitation of CrxIy (I=Ni,Al) in Assab Corrax steel was influenced by the variation of temperature during rolling process. Pelantikan Pejabat Baru Puslit Metalurgi LIPI
Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi adalah bidang ilmu yang menggunakan prinsip-prinsip keilmuan fisika, matematika dan kimia serta proses enjiniring untuk menjelaskan secara terperinci dan mendalam fenomena-fenomena proses pengolahan mineral (termasuk pengolahan batubara), proses ekstraksi logam dan pembuatan paduan, hubungan perilaku sifat mekanik logam dengan strukturnya, fenomena-fenomena proses penguatan logam serta fenomena-fenomena kegagalan dan degradasi logam. Ketiga ilmu dasar sains digunakan dalam mengembangkan tiga sektor dasar dalam Body of Knowledge Metalurgi yang meliputi Metalurgi Kimia, Metalurgi Fisika dan Enjiniring Proses.
Lingkup bidang metalurgi ini sedemikian luas, dimulai dari pengolahan bahan galian, ekstraksi logam dan pemurniannya, pembentukan dan perlakuan panas logam, teknologi perancangan dan pengoperasian sistem-sistem metalurgi hingga fenomena kegagalan struktur logam akibat beban mekanik dan degradasi logam akibat berinteraksi dengan lingkungannya termasuk pengendaliannya, serta teknologi daur ulang. Oleh karena itu dalam pengembangannya di Institut Teknologi Bandung, bidang keilmuan metalurgi ini dikembangkan bersama-sama oleh dua Departemen yaitu oleh Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi pada Departemen Teknik Pertambangan (dari Pengolahan Mineral Logam dan Industri termasuk Pengolahan Batubara, Metalurgi Fisika sampai dengan Teknologi Daur Ulang dan Meknisme dan Teknologi Proteksi Korosi) dan oleh Program Studi Teknik Material pada Departemen Teknik Mesin (mulai dari Metalurgi Fisika sampai dengan Metalurgi Mekanik dan Pembentukan Logam serta bidang-bidang terkait).
Selengkapnya...

20100211

Pembuangan dan Penanganan Bahan Kimia Tumpahan di Laboratorium

Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang tidak hanya memperhatikan masalah ketelitian analisa saja. Akan tetapi laboratorium yang baik juga harus memperhatikan masalah pembuangan limbah. Limbah yang dibuang sembarangan, jika masuk ke badan air tanah dan mengalir ke pemukiman penduduk akan menimbulkan bahaya. Terutama logam-logam berat. Jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan makhluk hidup dan merusak lingkungan

Hmmm… spontanitas pingin mosting tulisan yang berisikan Gimana Sih Seharusnya Cara Kita Waktu Membuang Atau Mengatasi Bahan2 Atau Limbah Kimia Waktu Di Lab, karna dari yang udah kebanyakan sya liat di kehidupan sehari2 waktu di lab, ternyata masih banyak kekeliruan dalam menangani hal tersebut dan alhasil jadi Muuaaantttappp tuh kondisi labnya alias jadi tak sedap dipandang… ya mudah2an saja tulisan ini tidak membosankan dan semoga bermanfaat dan dapat menjadi pengingat atau pembelajaran kembali mengenai hal tersebut di atas…
Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang tidak hanya memperhatikan masalah ketelitian analisa saja. Akan tetapi laboratorium yang baik juga harus memperhatikan masalah pembuangan limbah. Limbah yang dibuang sembarangan, jika masuk ke badan air tanah dan mengalir ke pemukiman penduduk akan menimbulkan bahaya. Terutama logam-logam berat. Jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan makhluk hidup dan merusak lingkungan.
Pembuangan Limbah

Secara umum, metoda pembuangan limbah laboratorium terbagi atas empat metoda.
Pertama, pembuangan langsung dari laboratorium. Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang dapat larut dala air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.

Kedua, dengan pembakaran terbuka. Metoda pembakaran terbuka dapat dterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk.

Ketiga, pembakaran dalam insenerator. Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.

Keempat, dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun.
Penanganan dan Pemusnahan Bahan Kimia Tumpahan
Disamping metoda-metoda yang telah disebutkan diatas, terdapat beberapa jenis tumpahan bahan kimia sisa yang perlu mendapatkan perlakuan khusus sebelum dibuang keperairan. Bahkan diantaranya perlu dimusnahkan sebelum dibuang. Diantara bahan-bahan kimia tersebut antara lain ;

1. Tumpahan Asam-asam Anorganik

Tumpahan asam-asam anorganik seperti HCl, HF, HNO3, H3PO4, H2SO4 haruslah diperlakukan dengan penanganan khusus. Bahan tumpahan tersebut permukaannya ditutup dengan NaHCO3atau campuran NaOH dan Ca(OH)2 dengan perbandingan1:1. Selanjutnya diencerkan dengan air supaya brbentuk bubur dan selanjutnya dibuang kebak pembuangan air limbah.

2.Basa Akali dan Amonia

Tumpahan basa-basa alkali dan ammonia seperti amonia anhidrat, Ca(OH)2, dan NaOH dapat ditangani dengan mengencerkannya dengan air dan dinetralkan dengan HCl 6 M. Kemudian diserap dengan kain dan dibuang.

3. Bahan-Bahan Kimia Oksidator
Tumpahan bahan-bahan kimia oksidator (padat maupun cair) seperti amonium dikromat, amonium perklorat, asam perklorat, dan sejenisnya dicampur dengan reduktor (seperti garam hypo, bisulfit, ferro sulfat) dan ditambahkan sedikit asam sulfat 3 M. selanjutnya campuran tersebut dinetralkan dan dibuang.

4. Bahan-Bahan Kimia Reduktor
Tumpahan bahan-bahan kimia reduktor ditutup atau dicampurkan dengan NaHCO3 (reaksi selesai) dan dipindahkan ke suatu wadah.. Selanjutnya kedalam campuran tersebut ditambahkan Ca(OCl)2 secara perlahan-lahan dan air (biarkan reaksi selesai). Setelah reaksi selesai cmpuran diencerkan dan dinetralkan sebelum dibuang ke perairan.
Untuk pemusnahan bahan reduktor (seperti Natrium bisulfit, NaNO2, SO, Na2SO2) dapat dipisahkan antara bentuk gas dan padat. Untuk gas (SO2), alirkan kedalam larutan NaOH atau larutan kalsium hipoklorit. Untu k padatan, campurkan dengan NaOH (1:1) dan ditambahkan air hingga terbentuk slurry. Slurry yang terbentuk ditambahkan kalsium hipoklorit dan air dan dibiarkan selama 2 jam. Selanjutnya dinetralkan dan dibuang ke perairan.

Sianida dan Nitril
Tumpahan sianida ditangani dengan menyerap tumpahan tersebut dengan kertas/tissu dan diuapkan dalam lemari asam, dibakar, atau dipindahkan kedalam wadah dan dibasakan dengan NaOH dan diaduk hingga terbentuk slurry. Kemudian ditambahkan ferro sulfat berlebih dan dibiarkan lebh kurang 1 jam dan dibuang keperairan.
Pemusnahan sianida dapat dilakukan dengan cara menambahkan kedalamnya larutan asa dan kalsium hipoklorit berlebih dan dibiarkan 24 jam. Selanjutnya dibuang ke perairan.
Untuk tumpahan nitril, ditambahkan NaOH berlebih dan Ca(OCl)2. setelah satu jam dibuang keperairan. Cuci bekas wadah dengan larutan hipoklorit.
Pemusnahan nitril dilakukan dengan menambahkan kadalamnya NaOH dan alkohol. Setelah 1 jam uapkan alkohol dan ditambahkan larutan basa kalsium hipoklorit. Setelah 24 jam dapat dibuang ke perairan.

Demikianlah beberapa metoda dalam penanganan dan pemusnahan tumpahan bahan-bahan kimia sisa yang terdapat dilaboratorium sebelum dibuang diperairan. Semoga bermanfaat.
Dikutip dari Yoky Edy Saputra pada 10-12-2008

Selengkapnya...

Darah Putih (Leukosit)

Sel darah putih atau Leukosit merupakan " bala tentara" kita. Tugasnya melindungi tubuh agar tahan menghadapi serangan kuman, entah itu virus, bakteri, atau sejenisnya.Pendek kata leukosit berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.
Iseng-iseng buka blogger, eh tiba2 terpintas dipikiran tentang leukosit. Awalnya sih karna pernah dengar dari ade tingkat kalau salah satu anggota keluarganya ada yang mengalami masalah pada leukositnya. Rasa Simpati membuat sya tidak bisa tinggal diam, dan akhirnya sya coba buka2 lewat jendela google dan mulai browsing2 seputar informasi tentang tu yang namanya Leukosit. Setelah sya baca2 dan pilah2 dari sekian buannyaknya penjelasan ttg leukosit kmudian sya ringkas dan sya ambil pembahasan2 yang mungkin lebih mendekati untuk masalah sel darah putih yang jumlahnya di bawah normal/kekurangan sel darah putih(Leukopenia), namun ada juga sih skalian yang sya cantumkan juga ketika sel darah putih itu di atas normal (Leukimia).
akhirnya saya berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, dan buat ade’ dan semua orang yang mempunyai gangguan pada sel darah putihnya saya berdoa semoga cepat pulih kembali dan sehat wal afiat, amin.

Darah Putih (Leukosit)

Leukosit memiliki bentuk khas, nukleus, sitoplasma dan organel, semuanya bersifat mampu bergerak pada keadaan tertentu. Eritrosit bersifat pasif dan melaksanakan fungsinya dalam pembuluh darah, sedangkan leukosit mampu keluar dari pembuluh darah menuju jaringan dalam menjalankan fungsinya.
Jumlah seluruh leukosit jauh di bawah eritrosit, dan bervariasi tergantung jenis hewannya. Fluktuasi dalam jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu, misalnya: stress, aktivitas fisiologis, gizi, umur, dan lain-lain. Jumlah leukosit yang menyimpang dari keadaan normal mempunyai arti klinik penting untuk evaluasi proses penyakit.

Lima bentuk leukosit yang berbeda dibagi dalam dua kelompok, yakni granulosit yang memiliki butir khas dan jelas dalam sitoplasma dan agranulosit yang tidak memiliki butir khas dan jelas dalam sitoplasma. Dari diferensiasi penghitungan leukosit dapat ditentukan persentasi normal dari tiap jenis yang ternyata cukup berbeda. Pada anjing, kucing, kuda dan persentasi leukosit neutrofil lebih besar dari limfosit, sedangkan pada ruminansia, limfosit bersifat dominan.

Granulosit
Ada tiga tipe granulosit yang diberi nama berdasarkan sifat reaksinya terhadap zat warna tertentu. Leukosit eosinofil butirnya bersifat asidofil (berwarna merah dengan eosin). Leukosit basofil butirnya bersifat basofil (ungu), dan leukosit neutrofil butirnya tidak bersifat asidofil maupun basofil. Afinitas terhadap zat warna dari butir leukosit neutrofil bervariasi antara hewan satu dengan yang lain. Karenanya sering disebut dengan istilah heterofil, sebagai pengganti neutrofil, yang menyatakan bahwa butirnya tidak bersifat eosinofil maupun basofil. Lazimnya untuk leukosit neutrofil dipakai istilah khusus, yakni leukosit polimorfonuklear (PMN atau polymorphonuclear).
Leukosit Neutrofil. Leukosit ini berdiameter 10 sampai 12 µm, memiliki butir halus dalam sitoplasma dan inti berglambir. Kromatin inti pekat dan mengelompok. Benang kromatin antarglambir jelas terdapat pada manusia dan ruminansia, kadang-kadang tampak pada anjing. Karena konstriksi inti tidak lengkap atau sempurna, maka sulit menentukan gelambir secara pasti pada leukosit neutrofil pada hewan, kecuali ruminansia. Di antara hewan peliharaan, jumlah gelambir pada leukosit neutrofil domba paling banyak.
Leukosit tua memiliki gelambir lebih banyak atau jelas dari yang muda. Karenanya bila leukosit neutrofil memiliki inti berbentuk V, U, atau S tanpa konstriksi jelas, dianggap sebagai leukosit muda. Pada kasus penyakit bakteri, lazimnya jumlah leukosit neutrofil dalam darah meningkat dan tampak pula leukosit muda.
Hal ini disebabkan sumsum tulang merah perlu melepas leukosit muda untuk melawan infeksi. Secara klinik, bila jumlah leukosit muda meningkat dalam aliran darah disebut “bergeser ke kiri” yang penting untuk ramalan penyakit. Sebaliknya, bila jumlah leukosit neutrofil abnormal dengan hipersegmentasi disebut “bergeser ke kanan” pertanda adanya infeksi kronik atau stress.

Pada hewan betina, leukosit memiliki apendiks jelas pada intinya yang disebut Barr. Kromatin kelamin ini kecil (1,5 µm) bertaut pada gelambir utama melalui benang kromatin dan merupakan ciri khas bagi hewan betina. Tetapi khusus pada sapi agak sulit ditentukan adanya badan Barr, karena kromatin yang pekat sering menutupinya. Badan Barr atau kromatin kelamin ini dipakai untuk menentukan jenis kelamin betina pada hewan yang mengalami kelainan kelenjar endoktrin (endoctrine dysfunction) atau anomali pada kromosom.
Sitoplasma leukosit beraspek kelabu pucat, mengandung butir halus berwarna ungu, dan besarnya tidak merata. Dari berbagai hewan peliharaan, anjing memiliki butir paling kecil, sehingga hampir tidak tampak, sedangkan pada kambing butirnya paling jelas dan mengambil warna cukup kuat.

Dengan mikroskop elektron, leukosit neutrofil kadang-kadang menunjukkan mitokondria jelas, sedikit poliribosom dan butir glikogen. Butir-butir spesifik relatif kecil dan menyebar.
Pada perkembangan dini, butir-butir azurofil lebih awal terbentuk dan disebut butir primer. Pembentukan butir ini terhenti dengan munculnya butir skunder atau butir spesifik. Karenanya jumlah butir primer berkurang (50%) pada mitosis berikutnya, sehingga pada sel dewasa hanya tinggal kira-kira 10 sampai 20% butir sitoplasma.
Sebaliknya butir spesifik menonjol, karena selalu terbentuk pada tiap mitosis. Butir spesifik mengandung lisozim suatu bakterisida, karena enzim ini akan menghidrolisis glikosida yang terdapat pada dinding bakteri. Komponen penting lain adalah butir spesifik laktoferin, suatu protein yang berikatan bakterisida terhadap bakteri yang memerlukan zat besi. Laktoferin dikenal sebagai penghambat produksi leukosit neutrofil, karenanya aktivitas khusus merupakan hasil putaran umpan balik dalam produksi leukosit neutrofil. Butir azurofil mengandung enzim hidrolitik, lisozim, dan mieloperoksidase yang menjadi bakterisida bila kompleks dengan H2O2 melepaskan oksigen aktif. Kedua macam butir bekerja sama dalam menghancurkan benda asing yang difagositosis.

Sebagai respons terhadap infeksi, leukosit neutrofil mampu keluar dari pembuluh darah menuju daerah infeksi untuk membunuh bakteri dan membersihkan pecahan jaringan. Pada saat yang sama, sumsum tulang merah dirangsang untuk melepas lebih banyak leukosit neutrofil dalam aliran darah, dan terjadilah leukositosis yang ditandai dengan peningkatan leukosit muda. Leukosit neutrofil dikenal sebagai lini pertahanan pertama (first line of defense). Jangka hidupnya dalam aliran darah kira-kira lima hari.
Leukosit Eosinofil. Jumlah dalam aliran darah berkisar antara 2 sampai 8% dari jumlah leukosit, berdiameter 10 – 15 µm. Inti bergelambir dua, dikitari butir-butir asidofil yang cukup besar berukuran 0,5 sampai 1,0 µm dan jangka hidupnya 3 sampai 5 hari. Hubungan antar-dua gelambir sering tertutup oleh butir sekreta sehingga tidak jelas.
Penelitian dengan mikrograf elektron pada leukosit eosinofil menunjukkan adanya apparatus golgi dengan gelembung pipih dan gelembung kecil-kecil berisi materi sekreta. Butir spesifik ada dua macam; butir eusinofil pada kuda dan sapi bersifat homogen, sedangkan pada anjing, kucing dan kambing, butir eosinofil memiliki selaput dan kristaloid yang memiliki pusat lamina pekat elektron dikitari matriks homogen yang kurang pekat.
Leukosit eosinofil berperan aktif dalam mengatur alergi akut dan proses pembarahan, mengatur investasi parasit, dan memfagositose bakteri, antigen-antibodi kompleks, mikoplasma dan ragi. Juga mengandung histaminase, yang mengaktifkan histamin dan pelepasan serotonin dari sel tertentu, juga melepas zinc yang menghalangi agregasi trombosit dan migrasi makrofag. Ada beberapa indikasi bahwa leukosit eosinofil dapat memperbesar koagulasi dan fibrinolisis dan menghambat granulopoiesis.

Agranulosit
Dua tipe agranulosit, yaitu limposit dan monosit tidak memiliki butir sitoplasmik spesifik, tetapi sering mengandung butir azurofil yang tidak spesifik. Agranulosit selanjutnya ditandai dengan adanya inti lonjong, bulat dengan lekuk khas.
Limposit. Persentase limposit pada darah ferifer tergantung pada spesiesnya. Pada anjing, kucing,dan kuda antara 20 sampai 40%, pada ruminansia antara 60 sampai 70%. Pada sediaan ulas dan diwarnai dapat dibedakan adanya limposit besar dan kecil. Limposit besar adalah bentuk yang belum dewasa, dan sering disebut prolymphocytes) atau sel “blas” besar.
Limposit menunjukkan ketidaksamaan dalam bentuk maupun fungsinya, karena sifatnya yang plastik dan mampu bergerak serta dapat mengubah bentuk dan ukurannya. Sifat limposit mampu menerobos jaringan atau organ tubuh lunak, karena menyediakan zat kebal untuk pertahanan tubuh. Limfosit kecil berdiameter 6 sampai 9 µm, inti besar dan kuat mengambil zat warna, dikitari sedikit sitoplasma yang berwarna biru pucat. Lazimnya inti memiliki sedikit lekuk pada satu sisi. Pada sediaan ulas, inti begitu gelap sehingga nukleolus tidak tampak. Sitoplasma yang sedikit, mengandung banyak poliribosom dan sedikit mitokondria. Bila butir azurofil ada, lazimnya tampak di daerah lekuk inti.
Limfosit besar, berdiameter 12 sampai 15 µm, memiliki lebih banyak sitoplasma, dan inti lebih besar dan sedikit pucat dibandingkan dengan limposit kecil. Butir azurofil tampak di daerah lekuk ini dn mengujian dengan mikroskop elektron menunjukkan sepasang sentriol yang dikitari oleh apparatus golgi. Limfosit besar memiliki apparatus golgi lebih jelas, nukleolus serta mitokondria lebih besar.

MONOSIT.
Monosit adalah leukosit terbesar yang berdiameter 15 sampai 20 µm dan berjumlah 3 sampai 9% dari seluruh sel darah putih. Terdapat kesulitan dalam identifikasi monosit dengan adanya bentuk transisi antara limposit kecil dan besar, karena terdapat kemiripan satu sama lain. keadaan ini jelas bila mempelajari sediaan ulas darah sapi. Uraian tentang bentuk transisi akan diberikan pada pembahasan tiap spesies yang berbeda.
Sitoplasma monosit lebih banyak dari limfosit, dan berwarna biru abu-abu pucat. Sering tampak adanya butir azurofil halus seperti debu. Inti berbentuk lonjong , seperti ginjal atau mirip tapal kuda, jelasnya memiliki lekuk cukup dalam. Kromatin inti mengambil warna lebih pucat dari limfosit. Inti memiliki satu sampai tiga nukleus, tetapi tidak tampak pada sediaan ulas yang diwarnai.

Monosit darah tidak pernah mencapai dewasa penuh sampai bermigrasi ke luar pembuluh darah masuk jaringan। Selanjutnya dalam jaringan menjadi makrofag tetap, seperti pada sinusoid hati, sumsum tulang, alveoli paru-paru, dan jaringan limfoid. Sering terletak berdekatan dengan endotel pembuluh darah. Dalam jaringan limfoid sumsum tulang dan sinusoid hati, makrofag tetap lazimnya melekat pada penjuluran dendritik dari sel retikuler.
http://www.rafani.co.cc/2009/05/leukosit.html

Leukosit adalah butir darah putih yang berfungsi sebagai penyerang agen asing yang masih ke tubuh, baik yang bersifat biologik (hidup) maupun non-biologik (sat / bahan lain yang tanpa kehidupan). Leukosit menyerang berdasarkan 'pengalaman yang terpateri' (memori leukosit-limfosit). Bila jumlahnya kurang dan apalagi bila kualitas / aktivitasnya tidak baik, maka pertahanan tubuh jadi lemah, mudah terkena penyakit. Hal ini tentunya akan berbahaya. Penyakit akibat infeksi kuman atau virus akan cepat menjalar dan merusak sel / jaringan tubuh dan ini kalau berlanjut akan berakibat fatal. Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat.

BILA LEUKOSIT SUSUT ATAU MELEJIT...
Sel darah putih atau Leukosit merupakan " bala tentara" kita. Tugasnya melindungi tubuh agar tahan menghadapi serangan kuman, entah itu virus, bakteri, atau sejenisnya.Pendek kata leukosit berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.


Dalam melakukan aktivitas sehari-hari manusia tidak luput dari serangan berbagai macam kuman pembawa bibit penyakit. Beruntung, tidak setiap serangan tersebut bisa merobohkan tubuh, berkat pasukan tempur yang selalu siap melawan kuman. Pasukan tempur itu adalah sel darah putih yang dikenal dengan sebutan leukosit.

Sebagai gambaran, luka akibat goresan merupakan pintu masuk bagi kuman. Nah, di daerah luka itulah sel darah putih akan berkumpul dan berperang melawan kuman hingga tuntas. Bagian tubuh yang luka seringkali tampak merah dan membengkak serta seringkali mengeluarkan nanah. Itu merupakan efek dari peperangan kuman melawan sel darah putih.

Jika sel darah putih menang, kuman akan hilang dan tubuh kembali normal. Sebaliknya, jika sel darah putih kalah, diperlukan obat-obatan dari luar untuk membantu sel darah putih melawan kuman. Bisa dibayangkan betapa pentingnya sel darah putih dalam tubuh kita.



GANGGUAN SUMSUM TULANG

Sebagian orang pernah mengalami kekurangan sel darah putih atau disebut Leukopenia. Kondisi ini terjadi bila jumlah sel darah putih kurang dari 5.000 dalam setiap tetes darah. Manusia normalnya memiliki sel darah putih berjumlah 5.000 hingga 10.000 dalam setiap tetes darahnya.
Leukopenia bisa disebabkan sumsum tulang mengalami gangguam. Sum-sum tulang merupakan produsen sel darah putih. Jika sum-sum tulang bermasalah, otomatis jumlah sel darah putih akan mengalami gangguan juga.

Leukopenia bisa juga disebabkan oleh infeksi. Infeksi dari kuman atau bakteri bisa menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih. Kurangnya sel darah putih juga bisa terjadi karena adanya penyakit autoimun seperti HIV/AIDS atau lupus.

Pengaruh obat-obatan seperti efek dari kemoterapi pun bisa menyebabkan terjadinya leukopenia.
Beberapa jenis obat yang digunakan pada kemoterapi bisa merusak sum-sum tulang, sehingga produksi sel darah merah menurun. Meski demikian, kondisi ini tidak selalu terjadi pada setiap orang, bergantung kondisi masing-masing pasien.

Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama pada pasien yang menjalani kemoterapi. Biasanya jumlah sel darah putih akan menurun selama beberapa hari. Ini disebabkan oleh efek obat kemoterapi, tetapi kemudian leukosit akan kembali pada jumlah normal lagi.


KANKER DARAH


Penyebab lain dari leukopenia adalah kanker, terutama kanker darah. Banyak orang beranggapan bahwa kanker akan memicu jumlah leukosit. Padahal kanker juga bisa menurunkan kadar leukosit. Apalagi jika kanker tersebut sudah menyerang sumsum tulang dan menyebar ke seluruh tubuh. Penyebab ini yang seringkali luput atau menipu perhatian dokter.

Kekurangan sel darah putih bisa menyebabkan seseorang rentan terserang penyakit ataupun infeksi. Bahkan penyakit ringan seperti flu saja bisa membuat pasien leukopenia menderita hebat.

Ini diakibatkan kurangnya pasukan tempur dalam tubuh. Penyakit yang seharusnya bisa dengan mudah ditangani oleh tubuh menjadi sulit sembuh.


ATASI PENYEBABNYA

Leukopenia seringkali diketahui ketika pasien memeriksakan diri ke dokter karena keluhan penyakit. Penyakit yang dialami itu kerap kali merupakan gejala dari leukopenia.
Cara tercepat untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan tes jumlah darah putih. Kemudian dokter akan memeriksa penyebab terjadinya penurunan jumlah sel darah putih. Jika sudah diketahui, barulah bisa ditentukan cara pengobatannya.

Untuk saat ini cara paling efektif untuk menangani leukopenia adalah dengan mengatasi penyebabnya. Jika leukopenia disebabkan oleh infeksi, obati saja infeksinya. Jika disebabkan oleh kanker, obatilah kankernya.

Belu ada pola makan atau diet yang berhubungan untuk menambah jumlah sel darah putih. Kalau leukopenia dikarenakan kanker, pola makan tidak bisa menaikkan jumlah leukosit. Karena itu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang lebih untuk membantu proses pemulihan.

PENYEBAB LEUKOSIT TURUN NAIK

Kadar sel darah putih atau leukosit yang terlalu tinggi atau leukositosis, bisa mengindikasikan:

* Naiknya produksi leukosit guna melawan infeksi.
* Reaksi obat-obatan.
* Penyakit pada sumsum tulang, sehingga produksi leukosit menjadi abnormal.
* Gangguan sistem imun.

Pemicu spesifik yang meningkatkan kadar sel darah putih, yaitu:

* Leukemia limfositik akut/ kronis.
* Leukemia myelogenous akut/ kronis.
* Alergi parah.
* Obat kortikosteroid dan epinefrin.
* Campak.
* Infeksi bakteri.
* Infeksi virus
* Rematoid artritis.
* Penyakit TBC.
* Batuk rejan.
* Kerusakan jaringan, misalnya akibat luka bakar.
* Stress psikis dan fisik.
* Merokok.


Sementara kadar sel darah putih bisa juga turun di bawah normal ( kurang dari 3.500 sel per mikroliter darah) karena :

* Infeksi virus.
* Kelainan kongenital yang terkait dengan fungsi sumsum tulang.
* Kanker.
* Gangguan autoimun.
* Obat-obatan yang merusak sel darah putih.

Pemicu spesifik yang menurunkan leukosit :
* Alergi berat.
* Anemia aplastis.
* Kemoterapi.
* Obat-obatan antibiotik, diuretik, dan prednison.
* HIV/AIDS.
* Hipertiroid.
* Penyakit infeksi.
* Penyakit lupus
* Terapi radiasi.
* Rematoid artritis.
* Kekurangan vitamin.


BELUM TENTU LEUKEMIA

Sel darah putih atau leukosit bertugas melindungi tubuh dari serangan bakteri dan virus. Jumlah sel darah putih akan meningkat jika tubuh diserang kuman. Ini dilakukan untuk mengimbangi jumlah kuman yang masuk. Kondisi jumlah leukosit di atas batas normal disebut leukemia atau leukositosis.

Sel darah putih juga bisa berkembang biak melebihi batas normal, meski tubuh tidak diserang infeksi. Sumsum tulang belakang memproduksi sel-sel darah putih dalam jumlah yang sangat banyak.
Sayangnya tidak semua sel darah putih tersebut layak disebut sel normal.
Kebanyakan dari mereka tidak normal atau tidak berfungsi selayaknya.

Jika berlangsung terus jumlah sel darah putih abnormal ini akan menumpuk dan berbalik menyerang fungsi organ tubuh kita sendiri. Hal ini bisa disebabkan banyak hal. Yang paling umum ditemui adalah karena kanker darah atau kanker leukemia.
Kanker ini memiliki banyak variasi dan bisa menyerang orang dewasa maupun anak-anak.


GEJALA LEUKEMIA

Gejala leukemia antara lain: demam, mudah lelah, kehilangan berat secara drastis, atau mudah berdarah. Bisa juga sering tersengal-sengal, rasa sakit pada tulang, dan berkeringat sangat banyak terutama di malam hari.
Gejala ini tentu tidak semua sama pada setiap orang. Pada orang-orang tertentu bisa saja muncul sebagai gejala flu atau demam biasa, sehingga terabaikan. Bahkan ada yang tidak menggejala sama sekali.

Namun, gejala tadi tidak bisa menjadi acuan pasti adanya leukemia. Bisa saja karena tubuh sebenarnya sedang melawan kuman, jadi memproduksi leukosit lebih banyak.

Untuk memastikan perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Terutama pemeriksaan jumlah sel darah putih.

FAKTOR LEUKEMIA


Beberapa faktor leukemia antara lain: sering menjalani kemoterapi dan bekerja dengan bahan kimia. Meski demikian, tidak setiap orang yang memiliki faktor risiko akan mengalami leukemia.
Ada orang yang tidak memiliki faktor risiko, tetapi terkena leukemia. Itu bisa saja karena faktor genetik.


MACAM_MACAM TERAPI LEUKEMIA

Leukemia bukan kanker berbentuk padat yang dapat diangkat lewat operasi. Pengobatan leukemia terbilang rumit, tergantung dari usia, kondisi tubuh pasien, dan tipe leukemianya. Belum lagi jika kanker tersebut sudah menyebar ke banyak bagian tubuh.

Pilihan terapi untuk leukemia antara lain:

1. KEMOTERAPI

Kemoterapi adalah: pengobatan yang umum dilakukan untuk menangani leukemia. Terapi ini menggunakan cairan kimia untuk membunuh sel leukemia.
Pasien bisa hanya menerima satu jenis obat atau berbagai macam obat, bergantung dari jenis leukemianya. Cara pengobatannya bisa dalam bentuk pil atau disuntikkan ke dalam saluran darah.

2. TERAPI BIOLOGIS

Dikenal juga sebagai terapi imuno.Terapi biologis menggunakan berbagai macam substansi untuk meningkatkan kekebalan tubuh pasien agar kuat melawan sel kanker.

3. TERAPI KINASE INHIBITOR

Obat yang mengandung zat imatinib mesilat ini merupakan pilihan pertama bagi kebanyakan penderita leukemia jenis myelogen kronis.


4. TERAPI OBAT LAIN

Arsenik trioksida dan semua jenis asam trans retinoik merupakan obat antikanker. Cara kerjanya membuat sel leukemia menjadi tua dan mati.

5. TERAPI RADIASI

Terapi yang menggunakan sinar x ini bertujuan untuk menghancurkan sel leukemia dan menghentikan pertumbuhannya. Pasien bisa disinari hanya pada bagian tertentu tubuhnya, lokasi sel leukemia berada. Jika sel leukemia sudah menyebar, tentu seluruh tubuh harus disinar.

6. TRANSPLANTASI SUMSUM TULANG BELAKANG

Proses ini bertujuan mengganti sumsum tulang belakang yang sudah terkontaminasi leukemia dengan sumsum tulang belakang yang masih bersih dan sehat.

7. TERAPI SEL PUNCA

Serupa dengan transplantasi sumsum tulang belakang. Bedanya, terapi ini menggunakan sel induk yang berada dalam aliran darah. Sel punca bisa diambil dari dalam tubuh pasien sendiri atau dari donor yang cocok dengan tubuh pasien.
Para dokter lebih sering menggunakan terapi ini karena masa pemulihan lebih cepat dan tingkat risiko terkena infeksi lebih rendah.
http://kupukupudanpelangi.blogspot.com/2009/09/bila-leukosit-susut-atau-melejit.html

Selengkapnya...